<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>kineforum</title>
	<atom:link href="http://kineforum.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kineforum.wordpress.com</link>
	<description>nonton (film-film) seluruh dunia setiap hari!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Jan 2012 14:20:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kineforum.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>kineforum</title>
		<link>http://kineforum.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kineforum.wordpress.com/osd.xml" title="kineforum" />
	<atom:link rel='hub' href='http://kineforum.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Program Kineforum Januari 2012</title>
		<link>http://kineforum.wordpress.com/2012/01/05/program-kineforum-januari-2012/</link>
		<comments>http://kineforum.wordpress.com/2012/01/05/program-kineforum-januari-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 18:10:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kineforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[sinopsis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineforum.wordpress.com/?p=2648</guid>
		<description><![CDATA[Download Jadwal Pemutaran Kineforum Januari 2012 Di Awal Tahun 2012 Selamat Tahun Baru. Di awal tahun ini kami kembali menayangkan film-film pilihan dari Dewan Program Kineforum. Dua orang penyaji, Mohamad Ariansah (Dosen FFTV IKJ) yang mengkurasi film-film dalam program Kinefilia dan Akbar Yumni (Redaktur www.jurnalfootage.net) dalam program Tokoh yang sebelumnya kami sebut Body of Works. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2648&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color:#ff6600;"><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/jadwal-pemutaran-kineforum-januari-20122.pdf">Download Jadwal Pemutaran Kineforum Januari 2012</a><br />
</span></h2>
<h1><span style="color:#ff6600;"><strong>Di Awal Tahun 2012</strong></span></h1>
<p>Selamat Tahun Baru. Di awal tahun ini kami kembali menayangkan film-film pilihan dari Dewan Program Kineforum. Dua orang penyaji, Mohamad Ariansah (Dosen FFTV IKJ) yang mengkurasi film-film dalam program <strong>Kinefilia</strong> dan Akbar Yumni (Redaktur www.jurnalfootage.net) dalam program <strong>Tokoh</strong> yang sebelumnya kami sebut <strong>Body of Works</strong>. Di dua program ini akan ada diskusi khusus yang akan membicarakan film-film pilihan para penyaji.</p>
<p>Dengan tema<strong> Evolusi Bahasa Film: Hollywood &amp; Sinema Klasik</strong>, Kinefilia akan menayangkan <em>Stagecoach</em> (John Ford, 1939), <em>The Wizard of Oz</em> (Victor Fleming, 1939) dan <em>His Girl Friday</em> ( Howard Hawks, 1940). Dalam Tokoh, Hou Hsiao-Hsien akan menjadi sorotan utama. Hou Hsiao-Hsien lahir tahun 1947 seorang sutradara Taiwan dan tokoh utama Sinema Baru Taiwan. <strong>Hou Hsiao-Hsien: Periode Film Pembebasan di Asia (Taiwan)</strong>. <em>A Summer at Grandpa’s</em> (1984), <em>A Time to Live and A Time to Die</em> (1985), dan <em>Dust in the Wind</em> (1986/Taiwan) akan ditayangkan untuk membahas tema ini.</p>
<p><strong>World Feature</strong><strong>s</strong>, berganti nama <strong>Sinema Duni</strong><strong>a. </strong>Bulan ini Sinema Dunia akan menayangkan <em>The Jackal of Nahueltoro </em>(1969/Miguel Littín/Chili). Berdasarkan kejadian nyata tentang seorang petani alkoholik yang membunuh seorang wanita dan lima orang anaknya di tahun 1960. Dijerat hukuman mati dan dieksekusi pasukan penembak pada 1963. <em>Man Bites Dog</em> (1992/Rémy Belvaux, André Bonzel, Benoît Poelvoorde/Belgia), Sebuah kru film yang membuat dokumenter tentang seorang pembunuh. Film ini mengeksplorasi teknik yang menggambarkan kekerasan sebagai sebuah kejadian biasa. Dalam beberapa hari kru mengikuti Ben (Benoît Poelvoorde)—seorang pembunuh yang melihat membunuh adalah sebuah gairah hidup dalam masyarakat modern. Film ini mencoba memutar balik logika kita, apakah Ben ada di realitas masyarakat kita? <em>Human Nature</em> (2001/Michel Gondry/Amerika Serikat-Prancis), tentang seorang wanita yang jatuh cinta dengan pria yang menyukai wanita lain, dan ketiganya memiliki rencana pada seorang pemuda yang dibesarkan sebagai monyet.</p>
<p><strong>Dokument</strong><strong>er Dunia</strong> yang sebelumnya adalah <strong>World Documentary </strong>menayangkan dua film yaitu  <em>Calcutta</em> (1969/Louis Malle/Prancis), dokumenter di Kolkata (India) dari bidikan (<em>shot</em>) <em>footage-footage </em>saat ia membuat dokumenter <em>Phantom India</em>. <em>Nanook of the North </em>(1922/Robert J. Flaherty/Amerika Serikat-Prancis), tentang kehidupan seorang Inuit Eskimo di Lingkaran Kutub Utara.</p>
<p><strong>Sinema Indonesia</strong>, akan menayangkan <em>Sang Penari</em> (2011), film Pemenang Terbaik FFI  2011. Film ini diadaptasi dari novel trilogi <em>Ronggeng Dukuh Paruk</em> tahun 1982 karya Ahmad Tohari. Dan <em>Cemeng 2005</em> (1995) kisah tragis tentang sebuah rombongan kesenian rakyat bernama Cemeng dan tentang primadonanya. Dua buah film yang menarik untuk ditonton.</p>
<p><strong>The Shorts</strong>, adalah sebuah program penayangan film pendek yang merupakan bagian yang juga tak dapat dipisahkan dari perkembangan film secara garis besar. Lumiére Bersaudara di awal sejarah film pun membuat film pendek, dengan keterbatasan teknis tentunya. Tapi hal ini adalah pendorong untuk perkembangan film-film selanjutnya. Kali ini, 6  film pendek karya siswa SMP dan SMA dari Purbalingga akan ditampilkan. Keenam film tersebut, merupakan pilihan dari film-film yang terlibat di Festival Film Purbalingga 2010-2011. Bowo Leksono, direktur Festival Film Purbalingga akan hadir untuk menyajikan program tersebut dalam sebuah diskusi, yang juga akan dihadiri oleh beberapa pembuat filmnya</p>
<p>Di awal tahun ini juga akan ada <strong>Filmmaker Forum</strong> yaitu diskusi antara pembuat film yang akan membahas hal-hal teknis perfilman. Forum ini merupakan kegiatan yang dihadiri oleh para pembuat film, khususnya divisi visual (Penata Kamera dan Penata Artisitk). Forum ini dimulai dengan membahas film <em>Ada Apa Dengan Cinta </em>(2001/Rudi Soedjarwo/Indonesia) dengan pembicara: Adrianto Sinaga. Dan film <em>May</em> (2008/Viva Westi/Indonesia) dengan pembicara Ical Tanjung.</p>
<p>Semoga program Kineforum di awal tahun 2012 ini menjadi semangat baru dalam mengembangkan perfilman Indonesia.</p>
<p>Salam,</p>
<p><strong>Kineforum</strong></p>
<h1><span style="color:#ff9900;"><strong>KINEFILIA</strong></span></h1>
<p>Baca tulisan mengenai &#8220;Evolusi Bahasa Film I: Bahasa Film dan Sinema Klasik” di <a href="http://kineforum.wordpress.com/2012/01/04/evolusi-bahasa-film-i-bahasa-film-sinema-klasik/">sini</a>.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/stagecoach.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2656" title="stagecoach" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/stagecoach.jpg?w=150&#038;h=102" alt="" width="150" height="102" /></a>Stagecoach </strong></span>(1939) | 96 menit | Amerika Serikat | Sutradara: John Ford | Subteks: Bahasa Inggris | <strong>UNTUK 12 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p>Sekelompok orang yang berpergian dengan kereta kuda, dipersulit oleh sekawanan Indian yang dipimpin oleh Geronimo, dalam prosesnya mereka belajar tentang satu sama lain.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/the-wizard-of-oz.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-2657" title="the wizard of oz" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/the-wizard-of-oz.jpg?w=150&#038;h=101" alt="" width="150" height="101" /></a></strong></span><span style="color:#ff6600;"><strong>The Wizard of Oz </strong></span>(1939) | 101 menit | Amerika Serikat | Sutradara: Victor Fleming | Subteks: Bahasa Inggris | <strong>UNTUK SEMUA UMUR</strong></p>
<p>Dorothy Gale terseret kedalam dunia magis, Oz. Dia lalu memulai perjalanan untuk menemukan si tukang sihir, yang diharapkan bisa membantunya kembali pulang.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/his-girl-friday.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2658" title="his girl friday" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/his-girl-friday.jpg?w=150&#038;h=101" alt="" width="150" height="101" /></a>His Girl Friday </strong></span>(1940) | 92 menit | Amerika Serikat | Sutradara: Howard Hawks | Subteks: Bahasa Inggris | <strong>UNTUK 18 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p>Seorang editor surat kabar melakukan trik yang dibacanya di dalam buku, untuk mencegah mantan istrinya, seorang wartawan ulung, agar tidak menikah lagi.</p>
<h1><span style="color:#ff9900;"><strong>TOKOH</strong></span></h1>
<p>Bulan ini, Kineforum memutar film-film karya Hou Hsiao-Hsien. Tulisan tentang &#8220;Hou Hsiao-Hsien: Periode Film Pembebasan di Asia (Taiwan)&#8221; bisa dilihat di <a href="http://kineforum.wordpress.com/2012/01/04/tokoh-hou-hsiao-hsien/">sini</a>.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/a-summer-at-grandpas.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-2659" title="a summer at grandpa's" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/a-summer-at-grandpas.jpg?w=150&#038;h=105" alt="" width="150" height="105" /></a></strong></span><span style="color:#ff6600;"><strong>A Summer at Grandpa&#8217;s </strong></span>(1984) | 93 menit | Taiwan | Sutradara: Hou Hsiao-Hsien | Subteks: Bahasa Indonesia | <strong>UNTUK 18 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p>Musim panas telah berakhir, Tung Tung kembali ke kota besar, Taipei. Dia akan menghadapi kehidupan sekolah yang keras dan lingkungan orang dewasa yang kejam. Perpisahan untuk liburan musim panas dan perpisahan untuk masa kanak-kanak.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/a-time-to-live-and-a-time-to-die.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2660" title="a time to live and a time to die" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/a-time-to-live-and-a-time-to-die.jpg?w=150&#038;h=82" alt="" width="150" height="82" /></a>A Time to Live and A Time to Die </strong></span>(1986) | 138 menit | Taiwan | Sutradara: Hou Hsiao-Hsien | Subteks: Bahasa Indonesia | <strong>UNTUK 18 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p><strong></strong>Penggambaran masa kanak-kanak dan remaja Hou Hsiao-Hsien yang  menarik. Seperti kebanyakan dari rekan-rekan mereka, keluarga Hou pindah dari daratan utama ke Taiwan 1948 dan tidak pernah kembali lagi. Film ini terfokus pada jarak antara generasi yang terputus dan budaya yang masih dianut.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/dust-in-the-wind.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-2661" title="dust in the wind" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/dust-in-the-wind.jpg?w=150&#038;h=82" alt="" width="150" height="82" /></a></strong></span><span style="color:#ff6600;"><strong>Dust in the Wind </strong></span>(1987) | 109 menit | Taiwan | Sutradara: Hou Hsiao-Hsien | Subteks: Bahasa Indonesia | <strong>UNTUK 18 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p>A-Yuan dan A-Yun berasal dari kota kecil Jio-Fen. Di kota besar, A-Yuan menjadi pekerja kontrak dan mengikuti sekolah malam, dan A-Yun bekerja di sebuah tempat penjahit. Semua orang berpikir mereka saling membutuhkan satu sama lain, tetapi mereka gagal melihat waktu dan keyakinan yang berada di luar kendali mereka.</p>
<h1><span style="color:#ff9900;"><strong>SINEMA DUNIA</strong></span></h1>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/the-jackal-of-nahueltoro.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2662" title="The Jackal of Nahueltoro" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/the-jackal-of-nahueltoro.jpg?w=150&#038;h=111" alt="" width="150" height="111" /></a></strong></span><span style="color:#ff6600;"><strong>The Jackal of Nahueltoro </strong></span>(1969) | 95 menit | Chili | Sutradara: Miguel Littín | Subteks: Bahasa Inggris | <strong>UNTUK 21 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p>Diambil dari kisah nyata seorang petani alkoholik yang membunuh seorang wanita dan lima anaknya pada tahun 1960. Dia dijatuhi hukuman mati pada tahun 1963.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/man-bites-dog.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-2663" title="man bites dog" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/man-bites-dog.jpg?w=150&#038;h=95" alt="" width="150" height="95" /></a></strong></span><span style="color:#ff6600;"><strong>Man Bites Dog </strong></span>(1992) | 95 menit | Belgia | Sutradara: Rémy Belvaux, André Bonzel, Benoît Poelvoorde | Subteks: Bahasa Inggris | <strong>UNTUK 21 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p>Kru film membuntuti rutinitas  seorang pencuri dan pembunuh yang kejam. Masalah muncul ketika mereka menemukan diri mereka terjebak dalam kekerasan yang semakin kacau.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/human-nature.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2664" title="human nature" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/human-nature.jpg?w=150&#038;h=100" alt="" width="150" height="100" /></a></strong></span><span style="color:#ff6600;"><strong>Human Nature </strong></span>(2001) | 95 menit | Amerika Serikat-Prancis | Sutradara: Michel Gondry | Subteks: Bahasa Inggris | <strong>UNTUK 21 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p>Puff, manusia liar yang dibesarkan dengan kepercayaan bahwa dirinya adalah kera. Puff belajar memposisikan dirinya dalam masyarakat dengan cara yang aneh.</p>
<h1><span style="color:#ff9900;"><strong>DOKUMENTER DUNIA</strong></span></h1>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/calcutta.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-2665" title="calcutta" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/calcutta.jpg?w=150&#038;h=108" alt="" width="150" height="108" /></a></strong></span><span style="color:#ff6600;"><strong>Calcutta </strong></span>(1969) | 105 menit | Prancis | Sutradara: Louis Malle | Subteks: Bahasa Inggris | <strong>UNTUK 15 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p>Kalkuta, sebuah kota dengan 8 juta penduduk pada akhir 1960-an: kaya, miskin, eksotis dan duniawi, sekuler dan agama, hidup dan tak hidup, tersirat hanya dengan membacanya melalui visual.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/nanook-of-the-north.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2666" title="nanook of the north" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/nanook-of-the-north.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></strong></span><span style="color:#ff6600;"><strong>Nanook of the North </strong></span>(1922) | 79 menit | Amerika Serikat-Prancis | Sutradara: Robert J. Flaherty | Non-Subteks | <strong>UNTUK 15 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p>Pada film yang merupakan film pendahulu antara film bisu dan dokumenter modern ini, pembuat film Robert J. Flaherty menghabiskan satu tahun mengikuti kehidupan Nanook dan keluarganya, Inuit Eskimo yang tinggal di Lingkaran Kutub Utara.</p>
<h1><span style="color:#ff9900;"><strong>SINEMA INDONESIA</strong></span></h1>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/sang-penari.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-2667" title="sang penari" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/sang-penari.jpg?w=150&#038;h=100" alt="" width="150" height="100" /></a>Sang Penari </strong></span>(2011) | 112 menit | Sutradara: Ifa Isfansyah | <strong>UNTUK 18 TAHUN KE ATAS | Donasi Rp20.000,-</strong></p>
<p>Sebuah cerita cinta yang terjadi sebuah desa kecil dan miskin, Dukuh Paruk pada pertengahan 1960-an. Rasus seorang tentara muda menyusuri kampung halamannya, mencari cintanya yang hilang, Srintil. Lalu jaman bergerak, di mana Rasus harus memilih: loyalitas kepada negara atau cintanya kepada Srintil.</p>
<p><span style="color:#ff9900;"><strong>Cemeng 2005 </strong></span>(1995) | 115 menit | Sutradara: N. Riantiarno | <strong>UNTUK 18 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p>Kisah tentang sebuah rombongan kesenian rakyat bernama Cemeng dan tentang primadonanya. Masalah internal yang terjadi antara mereka membuat Cemeng pun mengalami nasib tragis. Nurkatonah dan Badri, satu-satunya anggota rombongan yang tinggal, mengamen dan akhirnya tersungkur-sungkur di tempat pembuangan sampah bak orang tak waras.</p>
<h1><span style="color:#ff9900;"><strong>THE SHORTS</strong></span></h1>
<h2><span style="color:#ff6600;"><strong>Kompilasi Film Pendek Purbalingga</strong></span><strong> </strong></h2>
<p><strong>Bowo Leksono</strong></p>
<p>Usai bergerilya ke beberapa sekolah sejak keberadaan kegiatan perfilman di Purbalingga tahun 2004, dua tahun kemudian, bermunculan karya film pendek pelajar seiring lahirnya Cinema Lovers Community (CLC) yang bertugas memfasilitasi kegiatan anak muda Purbalingga di bidang film.</p>
<p>Diyakini pelajar menjadi basis regenerasi bagi perfilman di Purbalingga. Maka, keberadaan Festival Film Purbalingga (FFP) menjadi pemantik merebaknya karya-karya film pendek lokal. Dari FFP inilah, terkumpul film-film pelajar Purbalingga dan Banyumas Raya.</p>
<p>Karya-karya film itu beradu sembari memperkuat nyali sebelum akhirnya diapresiasi dan dikirim ke berbagai festival film di luar Banyumas Raya.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong>1.      </strong></span><strong><span style="color:#ff6600;">Pigura</span> / </strong>Darti dan Yasin / Sawah Artha Film (SMPN 4 Satu Atap Karangmoncol) / 24 menit / 2010</p>
<p>Kerinduan Gati pada ayahnya yang lama sekali tidak pulang, memotivasi Gati belajar giat. Apalagi Simbok selalu mengingatkan bahwa ayahnya akan cepat pulang jika Gati rajin belajar.</p>
<p><em>*Film Terbaik Festival Film Remaja 2010 | </em><em>*Film Terbaik II Festival Film Anak Medan 2010 | </em><em>*Penghargaan Khusus Dewan Juri Festival Film Indonesia 2010 | </em><em>*Film Terbaik Festival Film Solo (FFS) 2011 kategori Gayaman Award</em></p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong>2.      </strong></span><strong><span style="color:#ff6600;">Kado Suket</span> / </strong>Puspa Juwita / Ekskul Sinematografi (SMAN Rembang Purbalingga) / 6 menit / 2010</p>
<p>Siti, sahabat Sarpin sejak kecil, hendak berulang tahun. Namun Sarpin merasa tak pantas menghadiri hari bahagia sahabatnya itu. Kenangan masa kecil menyeruak, mewujud sebagai kenangan abadi tak terlupa.</p>
<p><em>*Harapan 1 Festival Film Remaja 2010 | </em><em>*Official Selection Festival Film Pelajar Jogja 2010 | </em><em>*Official Selection Malang Film Video Festival 2010 | </em><em>*Nominator Festival Film Purbalingga 2011</em></p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong>3.      </strong></span><strong><span style="color:#ff6600;">Endhog</span> / </strong>Padmashita Kalpika / Brankas Film (SMAN 2 Purbalingga) / 15 menit / 2010</p>
<p>Kisah eksperimen untuk membuktikan antara melahirkan dan bertelur.</p>
<p><em>*Film Fiksi Terbaik Festival Film Purbalingga 2010 | </em><em>*Film Fiksi Favorit Penonton (CLC Award) Festival Film Purbalingga 2010 | </em><em>*Finalis Festival Film Solo (FFS) 2011 Kategori Gayaman Award | </em><em>*Film Terbaik 1 Klasifikasi Mahasiswa Festival Video Edukasi 2011</em></p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong>4</strong><strong>.      </strong></span><strong><span style="color:#ff6600;">Ling-Lung</span> / </strong>Amrizal Faturrochman / Bozz Community (SMAN 1 Bobotsari Purbalingga) / 9 menit / 2010</p>
<p>Seorang pelajar SMA yang pelupa berkendaraan motor vespa. Dalam setiap langkah lakunya selalu aneh dan benar-benar menggambarkan kalau dia memang pelupa.</p>
<p><em>*Film Fiksi Pilihan Juri (JKFB Award) Festival Film Purbalingga 2010</em></p>
<p><em></em><span style="color:#ff6600;"><strong>5.      </strong></span><strong><span style="color:#ff6600;">Kalung Sepatu</span> / </strong>Dwi Astuti / Papringan Pictures (SMAN Kutasari Purbalingga) / 15 menit / 2011</p>
<p>Bagaimana reaksi Bapak Budi setelah mengetahui kesalahan yang dilakukan oleh Budi?</p>
<p><em>*Finalis Festival Film Solo (FFS) 2011 Kategori Gayaman Award | </em><em>*Film Fiksi Terbaik Festival Film Purbalingga (FFP) 2011</em></p>
<p><em></em><span style="color:#ff6600;"><strong>6.      </strong></span><strong><span style="color:#ff6600;">Sarung</span> / </strong>Anis Septiani / Care Community (SMA Muhammadiyah 1 Purbalingga) / 11 menit / 2011</p>
<p>Solih, cucu kesayangan, begitu ingin membelikan sarung buat kakeknya. Berbagai cara dilakukan, bahkan cara yang tidak disuka oleh kakeknya sekalipun.</p>
<p><em>*Film Favorit 1 Pengunjung bioscope.com Festival Film Purbalingga (FFP) 2011 | </em><em>*Offical Selection Festival Film Solo (FFS) 2011 | </em><em>*Editor Terbaik Festival Film Anak (FFA) Medan 2011</em></p>
<h1><span style="color:#ffcc00;">FILMMAKERS FORUM</span></h1>
<p><em>Filmmakers Forum</em> merupakan forum diskusi para pembuat film, membicarakan hal-hal teknis, berbagi pengalaman, juga kritik dan saran. Forum ini diharapkan agar menjadi asosiasi pembuat film yang didedikasikan untuk memajukan perfilman Indonesia melalui diskusi serta program-program lain. Bulan ini, Filmmakers Forum membahas bidang Sinematografi dan Artistik bersama Adrianto Sinaga (Penata Artistik) dan Ical Tanjung (Penata Kamera), mendiskusikan film <em>Ada Apa Dengan Cinta </em>(2001) dan <em>May</em> (2008). Acara ini tertutup.</p>
<h1><span style="color:#ffcc00;">KULIAH UMUM</span></h1>
<p><strong>Migrasi Imaji: Film ke Digital, Digital ke Film</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Pembicara: Agni Ariatama</strong></p>
<p><strong>Selasa, 17 Januari 2012</strong></p>
<p><strong>Pukul 15.00 &#8211; 17.00</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Terbuka untuk Umum</strong></p>
<p>Menjelang berakhirnya milenium kedua dan awal milenium ketiga, praktek dalam sinema menunjukkan sebuah dinamika baru dalam perkembangan digital yakni mengenai asal-usul dari imaji  dan tujuannya. Jika sebelumnya imaji hanya berasal dari film atau mekanisme produksi fotografik, maka kini terbuka banyak kemungkinan lain dengan perkembangan kamera digital video. Dengan dukungan dari teknologi terkini kita bisa memindahkan imaji yang berasal dari film ke digital, serta begitu juga sebaliknya. Konsekuensinya adalah munculnya ledakan produksi film independen di dunia dengan biaya sangat rendah hingga <em>no budget </em>seiring tumbuh suburnya budaya DIY (<em>do it yourself</em>), atau kemungkinan imaji yang tidak terhingga tersebut juga dimanfaatkan oleh sineas seperti Harmony Korine dan David Lynch untuk menghasilkan visualisasi dunia yang sangat unik dalam karya-karya mereka.</p>
<p>Migrasi imaji tersebut kini menjadi sesuatu yang sangat umum dan digunakan (mungkin) di semua produksi film di seluruh dunia karena berbagai macam faktor, entah ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya ataupun estetika. Tapi apakah sebenarnya yang dimaksud dengan migrasi imaji tersebut, baik secara teknis ataupun konsekuensi secara estetika?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kineforum.wordpress.com/2648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kineforum.wordpress.com/2648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kineforum.wordpress.com/2648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kineforum.wordpress.com/2648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kineforum.wordpress.com/2648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kineforum.wordpress.com/2648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kineforum.wordpress.com/2648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kineforum.wordpress.com/2648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kineforum.wordpress.com/2648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kineforum.wordpress.com/2648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kineforum.wordpress.com/2648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kineforum.wordpress.com/2648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kineforum.wordpress.com/2648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kineforum.wordpress.com/2648/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2648&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineforum.wordpress.com/2012/01/05/program-kineforum-januari-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62d1fed73a9926a7935cdaa4b4dfdfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kineforum</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/stagecoach.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">stagecoach</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/the-wizard-of-oz.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">the wizard of oz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/his-girl-friday.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">his girl friday</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/a-summer-at-grandpas.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">a summer at grandpa&#039;s</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/a-time-to-live-and-a-time-to-die.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">a time to live and a time to die</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/dust-in-the-wind.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">dust in the wind</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/the-jackal-of-nahueltoro.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">The Jackal of Nahueltoro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/man-bites-dog.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">man bites dog</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/human-nature.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">human nature</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/calcutta.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">calcutta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/nanook-of-the-north.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">nanook of the north</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/sang-penari.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">sang penari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tokoh: Hou Hsiao-Hsien</title>
		<link>http://kineforum.wordpress.com/2012/01/04/tokoh-hou-hsiao-hsien/</link>
		<comments>http://kineforum.wordpress.com/2012/01/04/tokoh-hou-hsiao-hsien/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 18:50:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kineforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineforum.wordpress.com/2012/01/04/tokoh-hou-hsiao-hsien/</guid>
		<description><![CDATA[Hou Hsiao-Hsien: Periode Film Pembebasan di Asia (Taiwan) Oleh Akbar Yumni* Sejarah kelahiran film bersuara yang membawa kecenderungan bahan baku film kembali kepada realisme, membawa arah pembebasan dari seni murni seperti yang ditunjukkan pada periode Neorealisme Italia. Anasir seni sebagai pembebasan seperti yang termuat pada gaya-gaya Neorealisme Italia tersebut, memungkinkan posisi ‘ontologi’ (kenyataan) mendahului posisi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2644&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align:center;"><span style="color:#ff6600;"><strong>Hou Hsiao-Hsien: Periode Film Pembebasan di Asia (Taiwan)</strong></span></h1>
<p style="text-align:center;">Oleh Akbar Yumni*</p>
<p>Sejarah kelahiran film bersuara yang membawa kecenderungan bahan baku film kembali kepada realisme, membawa arah pembebasan dari seni murni seperti yang ditunjukkan pada periode Neorealisme Italia. Anasir seni sebagai pembebasan seperti yang termuat pada gaya-gaya Neorealisme Italia tersebut, memungkinkan posisi ‘ontologi’ (kenyataan) mendahului posisi estetika. Sedemikian hingga konteks sosial politik produksi film sungguh dapat dijadikan serta mempengaruhi bahan baku estetika film. Semangat seni film sebagai seni pembebasan (Neorealisme Italia), banyak mengilhami dan memungkinkan bangsa-bangsa di Asia—seperti yang dilakukan Satyajit Ray (1921-1992) atau Usmar Ismail (1921-1971)—untuk menciptakan bahan baku estetika filmnya sendiri. Film sebagai seni pembebasan, memungkinkan suatu bangsa untuk membentuk pernyataan kebudayaannya sendiri dari dominasi industri film sebagai sekedar alat penghibur yang nir-identitas.</p>
<p>Dekade 1980an, merupakan penanda baru dari sejarah film di Taiwan yang melahirkan gerakan New Cinema. Seperti halnya anasir ‘pembaharuan kebudayaan’ (<em>New Cinema</em>) yang diperlihatkan di banyak negara, Taiwan merupakan anasir kebudayaan film yang tidak lepas dari dominasi kebudayaan industri, khususnya terkait dengan dominasi film-film melodrama dan aksi silat. Hou Hsiao-hsien merupakan satu diantara  generasi Taiwan New Cinema Movement pada tahun 1980an. Bersama Edward Yang, Chen Kunhou, dan yang lainnya, Hou Hsiao-hsien membangun semangat produksi filmnya melalui penggunaan-penggunaan artis non-profesional, bidikan (<em>shot</em>) gambar di lapangan setempat, serta mengangkat narasi-narasi yang berasal dari realitas sosial kehidupan pedesaan dan kota di Taiwan.</p>
<p><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/hou-hsiao-hsien.jpg"><img class="size-full wp-image" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/hou-hsiao-hsien.jpg?w=610" alt="Image" /></a>  </p>
<p><em>A Summer at Grandpa’s</em> (1984), <em> A Time to Live, A Time to Die</em> (1985), dan <em>Dust in the Wind</em> (1986), merupakan periode awal dari karya Hou Hsiao-hsien, sebagai trilogi yang cukup berpengaruh dalam membangun gerakan Taiwan New Cinema. Kisah yang terdapat dalam trilogi Hou tersebut semacam biografi nasional berdasarkan biografi pribadi sang sutradara dan penulis skenario, khususnya pada biografi Hou Hsiao-Hsien sendiri pada karya <em>A Time to Live, A Time to Die</em> (1985). Bersama Chu Tien-Wen, sang penulis skenario, Hou Hsiao-Hsien membawa penanda-penanda identitas kultural yang berlangsung dalam sosial budaya masyarakat Taiwan yang diwujudkan dalam bahasa-bahasa film.  Melalui bidikan-bidikan lebar (<em>wide shot</em>) merentangkan citraan-citraan peristiwa pada fitrahnya yang taksa, sampai dengan ungkapan-ungkapan realisme film yang paling halus (<em>subtil</em>) dari peristiwa-peristiwa pasca kolonial dalam kedalaman bidikan (<em>deep focus</em>).</p>
<p>Sekiranya cukup penting untuk melihat Karya-karya Hou Hsiao-Hsien, sebagai anasir-anasir estetika film Taiwan yang membentuk siasat kebudayaan dalam mengungkapkan identitas nasional. Nan di kemudian hari, Hou Hsiao-Hsien dan para sutradara gerakan Taiwan New Cinema lainnya, cukup berhasil membuat film Taiwan diakui pada festival-festival film di dunia.  Menginsyafi keberadaan karya-karya Hou Hsiao-hsien, sekiranya cukup bersangkut-paut dalam konteks sosial kebudayaan di Indonesia, khususnya perihal-perihal estetika sinema terhadap migrasi yang dimungkinkan ke dalam konteks bahasa film di Indonesia.</p>
<p>Selamat menonton…</p>
<p>*Redaktur <a href="http://www.jurnalfootage.net/">www.jurnalfootage.net</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kineforum.wordpress.com/2644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kineforum.wordpress.com/2644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kineforum.wordpress.com/2644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kineforum.wordpress.com/2644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kineforum.wordpress.com/2644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kineforum.wordpress.com/2644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kineforum.wordpress.com/2644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kineforum.wordpress.com/2644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kineforum.wordpress.com/2644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kineforum.wordpress.com/2644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kineforum.wordpress.com/2644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kineforum.wordpress.com/2644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kineforum.wordpress.com/2644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kineforum.wordpress.com/2644/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2644&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineforum.wordpress.com/2012/01/04/tokoh-hou-hsiao-hsien/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62d1fed73a9926a7935cdaa4b4dfdfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kineforum</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2012/01/hou-hsiao-hsien.jpg?w=610" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Evolusi Bahasa Film I: Bahasa Film &amp; Sinema Klasik</title>
		<link>http://kineforum.wordpress.com/2012/01/04/evolusi-bahasa-film-i-bahasa-film-sinema-klasik/</link>
		<comments>http://kineforum.wordpress.com/2012/01/04/evolusi-bahasa-film-i-bahasa-film-sinema-klasik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 18:36:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kineforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineforum.wordpress.com/2012/01/04/evolusi-bahasa-film-i-bahasa-film-sinema-klasik/</guid>
		<description><![CDATA[Bahasa Film &#38; Sinema Klasik Oleh Mohamad Ariansah Pendahuluan Membuka tahun yang baru kali ini, program kinefilia akan berlangsung selama dua bulan berturut-turut dengan tema utama tentang evolusi bahasa film dalam sejarah film dunia. Rangkaian program tersebut terdiri dari dua tema khusus, yakni; bahasa film dalam sinema klasik pada bulan Januari 2012 dengan tiga film [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2640&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 align="center"><span style="color:#ff6600;">Bahasa Film &amp; Sinema Klasik</span></h1>
<p align="center"><strong>Oleh Mohamad Ariansah</strong></p>
<p align="center">
<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Membuka tahun yang baru kali ini, program kinefilia akan berlangsung selama dua bulan berturut-turut dengan tema utama tentang evolusi bahasa film dalam sejarah film dunia. Rangkaian program tersebut terdiri dari dua tema khusus, yakni; bahasa film dalam sinema klasik pada bulan Januari 2012 dengan tiga film yang dapat menjadi perwakilan dari sinema klasik, yakni; <em>Stagecoach</em> (1939/John Ford/Amerika Serikat), <em>The Wizard of Oz</em> (1939/Victor Fleming/Amerika Serikat), dan <em>His Girl Friday</em> (1940/Howard Hawks/Amerika Serikat). Sementara di bulan Februarinya masih tetap menyoroti tema yang sama, namun fokus pada sinema modern pasca perang dunia kedua di Eropa.</p>
<p>Pada periode awal sekitar tahun 1906-1907, film mulai menceritakan kisah-kisah yang lebih kompleks secara psikologis ataupun hal-hal yang lebih subtil lainnya menyangkut persoalan internal karakter hingga perlahan-lahan kebutuhan durasi film yang lebih panjang menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan. Selain itu permintaan dari masyarakat borjuis dan strata sosial menengah ke atas agar film menjadi sesuatu yang berkelas, mengharuskan film untuk segera bersinggungan dengan teater dan sastra. Tidak lagi hanya sekedar mengandalkan kemampuan dari kamera dalam merekam gerak atas aktivitas keseharian masyarakat, lalu berbagai aktivitas tersebut diproyeksikan ke layar dan memukau orang pada akhir abad ke-19.</p>
<p>Kendati sinergi film dengan teater dan sastra merupakan sesuatu yang kerap menjadi sumber kreatifitas berlimpah, namun berbagai kendala seperti keunikan dari setiap medium terkadang muncul menjadi persoalan. Sebab saat awal munculnya persinggungan antara ketiga medium tersebut di atas, film masih berada dalam sebuah periode yang dikenal dengan periode film bisu (sekitar 1895-1927) dan masih terus mengembangkan berbagai keunikannya dalam menuturkan kisah-kisah. Sementara teater dan sastra merupakan medium-medium yang telah mapan dan muncul jauh sebelum film. Sebagai medium, sastra sangat bergantung pada verbal dan teater sangat tergantung dengan dialog selain kekuatan dari plotnya. Sementara film sebagai sebuah medium baru saat itu, menjadi sangat terpengaruh dengan medium lain untuk menceritakan berbagai kisah sambil berusaha untuk terus mencari karakteristiknya yang khas dalam bercerita dan berekspresi.</p>
<p>Dalam konteks menemukan cara bertutur yang khas dari medium film dan properti (<em>mise en scene</em>, sinematografi, editing, suara) yang terkandung di dalamnya itulah, maka sebuah konsep yang disebut dengan bahasa film menjadi muncul. Masalahnya kemudian adalah pada saat kita membicarakan persoalan sejarah film secara umum, atau lebih spesifik lagi masalah evolusi bahasa film maka dominasi wacana Barat akan segera muncul. Di mana saat berbicara tentang evolusi dari bahasa film di atas, maka kita akan berbicara tentang bahasa film dalam sinema klasik, modern dan pasca-modern (seperti Dominique Paini, Fabrice Revault D&#8217;Allonnes, dll). Yang ketiganya lahir berdasarkan konteks spasial dan temporal persoalan historis, politik, sosial dan budaya dari masyarakat Barat.</p>
<p>Namun dalam program kali ini hanya akan dibahas bahasa film dalam sinema klasik dan modern selama dua bulan berturut-turut. Dan itulah pintu masuk dari rangkaian program kinefilia selama bulan Januari dan Februari ini, yang akan membicarakan masalah bahasa film berdasarkan konteks persoalan di atas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Cikal-Bakal Bahasa Film</strong></p>
<p>Saat film mulai menceritakan kisah-kisah yang lebih kompleks tentang kondisi psikologis manusia pada dekade awal abad ke-20, potensi dari mediumnya yang khas belum benar-benar sepenuhnya dieksplorasi. Walaupun pada periode 1895 sampai 1903, film memang sudah menggunakan teknik-teknik seperti <em>super imposed</em> (meng<em>exposed</em> film dua kali untuk mendapatkan efek tertentu) dalam film <em>The Corsican Brothers</em> (1898/George Albert Smith/Inggris). Lalu prinsip gerak kamera atau <em>camera travelling</em> dengan menaruh kamera di atas kereta api yang sedang berjalan kencang, yang dikombinasikan oleh shot interior seorang laki-laki dan perempuan sedang berciuman untuk berusaha mengatakan ‘sementara itu’ secara sinematik dalam film <em>The Kiss</em> (1899/George Albert Smith/Inggris). Atau penggunaan <em>close up</em> untuk memperlihatkan detil sesuatu subjek dalam film <em>Grandma’s Reading Glasses</em> (1900/George Albert Smith/Inggris).</p>
<p>Namun dalam pembacaan kontemporer, kendati semua pencapaian tersebut merupakan usaha-usaha awal dari cara film untuk menuturkan sebuah kisah, namun metode-metode teknis tersebut hanya untuk mendapatkan efek sensasi semata dalam film-film dari sinema awal atau menurut Tom Gunning dan André Gaudreault lebih bersifat atraksi dibandingkan keinginan untuk menceritakan sebuah kisah dengan menggali seluruh potensi dari medium film.</p>
<p>Selain itu meskipun beberapa elemen bahasa film telah muncul menjelang kehadiran film panjang pertama dalam sejarah yaitu <em>The Story of Kelly Gang</em> (1906/Charles Tait/Australia) yang berdurasi 60 menit, namun dominasi dari teater terhadap film dalam menuturkan sebuah kisah tetap tidak bisa dihindarkan. Hal ini nampak jelas dengan penerapan dari <em>tableau shot</em> (sebuah shot yang diambil dari jarak kamera yang jauh ke subjek untuk memperlihatkan seluruh tubuh atau <em>long shot</em>, lalu statis dan shot ini mirip dengan panggung yang dilihat dari posisi penonton teater bagian tengah barisan depan yang melihat pertunjukan) dalam film yang sangat mendekatkan representasi film dengan teater. Sebab saat itu film hanya dipandang sebagai sebuah pertunjukan teater yang direkam. Sebagai konsekuensi dari keinginan pembuat film untuk merangkul masyarakat Barat dari kelas menengah ke atas, karena film masih dipandang sebelah mata sementara teater merupakan seni kelas tinggi.</p>
<p>Bahkan saat dunia mulai memasuki periode film bersuara sekitar tahun 1927, dominasi teater terhadap film masih terus berlanjut dengan penekanan pada aspek dialog dan karakterisasi. Hal ini merupakan alasan bahwa film belum menemukan cara bertutur dan berekspresi yang khas dari mediumnya karena masih sangat tergantung oleh teater. Bagi Robert Bresson salah satu cara untuk menemukan kekhasan dari bahasa film tersebut adalah dengan melawan konsep teater dalam film, seperti aktor dan menggantikannya dengan model.</p>
<p>Dari gambaran singkat tentang kemunculan bahasa film tersebut terdapat dua hal penting, yang pertama bahasa film telah muncul pada tahap-tahap awal dari sejarah perkembangan film di dunia meskipun lebih untuk kepentingan sensasi semata. Kedua, bahasa film sangat dipengaruhi oleh medium-medium ekspresi lainnya, khususnya teater dalam menuturkan kisah-kisah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bahasa Film dalam Sinema Klasik</strong></p>
<p>Sinema klasik (istilah yang ditolak oleh Mark Cousins) merupakan sebuah konsep yang sering diidentikkan dengan aplikasi dari film-film yang dihasilkan pada masa keemasan dari sistem studio Hollywood (1917-1948), ataupun film-film lain dari tempat dan waktu yang berbeda namun masih tetap menerapkan formula dan prinsip-prinsip yang menjadi dominan melalui penyempurnaan-penyempurnaan formula naratif dan gaya film pada puncak dari sistem studio Hollywood sekitar periode 1930-an hingga akhir 1940-an. Dengan kata lain sinema klasik dapat pula mengacu pada film-film lainnya yang dibuat di luar <em>major studio</em> Hollywood pada masa itu atau diproduksi di Indonesia sekarang ini, namun masih tetap menerapkan formula dan prinsip film yang dibuat pada masa kejayaan sistem studio tersebut.</p>
<p>Bahasa film yang telah muncul pada era perkembangan sinema awal (1895-1903) dan secara perlahan dibangun hingga eksplorasi dari imaji mencapai puncaknya pada saat akhir periode film bisu (1927), dirangkum dengan sangat selektif dan disempurnakan untuk menuturkan kisah-kisah melalui penerapan bahasa film dalam sinema klasik oleh Hollywood hingga mencapai puncaknya pada tahun 1939. Saat terdapat keseimbangan yang sangat harmonis antara bentuk dan isi dalam film produksi tahun tersebut di Hollywood. Bagi Andre Bazin, Hollywood pada tahun itu dapat menciptakan semacam kondisi equilibrium atau keseimbangan yang harmonis antara kisah-kisah yang ditampilkan dengan penerapan elemen-elemen <em>style</em> (<em>mise en scene</em>, sinematografi, editing, suara) dari film-filmnya.</p>
<p>Dalam sinema klasik diperlihatkan keutuhan dunia dari setiap kisah yang diceritakan melalui koherensi ruang dan waktu serta rasionalitas sebab-akibat. Pada film-film Hollywood terlihat dengan jelas penggambaran situasi awal yang akan menyebabkan munculnya masalah yang akan diselesaikan melalui gerak maju pada naratif. Secara representasi terwujud berdasarkan pada prinsip kausalitas, hubungan organik, serta perkembangan tujuan dari protagonis dalam ruang naratif.</p>
<p>Secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam sinema klasik akan selalu terlihat sebuah kisah yang diceritakan memiliki hubungan yang logis dan jelas, di mana rangkaian tindakan dari karakter-karakternya tidak membingungkan penonton. Serta tujuan dari setiap aspek <em>style</em> dalam sinema klasik adalah memastikan agar kisah tersebut dapat dipahami dengan mudah oleh penonton. <strong><em>Artinya tujuan dari bahasa film dalam sinema klasik adalah untuk selalu melayani kepentingan dari cerita.</em></strong></p>
<p>Salah satunya adalah penerapan prinsip <em>continuity editing</em> dalam film-film Hollywood pada era tersebut. Di mana penonton tidak boleh mendapatkan gangguan atau interupsi karena terkesan ada patahan dari aliran cerita akibat ada potongan-potongan emosi dalam cerita yang seharusnya terus mengalir. Di sini perencanaan editing, bersama dengan sinematografi dan elemen-elemen visual lainnya sangat berperan dalam menjaga kesinambungan naratif dari kisah yang memiliki hubungan logis dan jelas serta tindakan karakter-karakternya yang tidak membingungkan penonton.</p>
<p>Jadi, meskipun film-filmya bercerita dalam <em>genre</em> yang berbeda-beda, seperti <em>Stagecoach</em> yang merupakan film yang menjadi karya klasik <em>western</em> dengan figur ikonik seperti John Wayne dan bukit Monument Valley, lalu <em>The Wizard of Oz</em> yang bercerita tentang dunia fantasi anak-anak dalam Oz dengan gambaran dunia khas oposisi biner macam kebaikan dan kejahatan, dan <em>His Girl Friday</em> yang merupakan jenis film <em>screwball comedy</em> tentang dunia jurnalistik, tetap saja dalam sinema klasik akan selalu memperhatikan penggunaan dari bahasa film untuk menyampaikan suatu kisah kepada penonton tanpa menimbulkan disorientasi dan kesulitan dalam memahami setiap kisah yang dituturkan ke layar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bazin, Andre. <em>What is Cinema?</em> 2 Vols. Berkeley, University of California Press: 1968.</p>
<p>Bresson, Robert. <em>Notes on The Cinematographer</em>. Green Integer: 1997.</p>
<p>Cousins, Mark. <em>The Story of Film</em>. Pavilion Books: 2004.</p>
<p>Stam, Robert. <em>Film Theory: An Introduction</em>. Blackwell: 2000.</p>
<p>Strauven, Wanda ( Ed.). <em>The Cinema of Attractions Reloaded</em>. Amsterdam University Press: 2007</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kineforum.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kineforum.wordpress.com/2640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kineforum.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kineforum.wordpress.com/2640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kineforum.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kineforum.wordpress.com/2640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kineforum.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kineforum.wordpress.com/2640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kineforum.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kineforum.wordpress.com/2640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kineforum.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kineforum.wordpress.com/2640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kineforum.wordpress.com/2640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kineforum.wordpress.com/2640/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2640&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineforum.wordpress.com/2012/01/04/evolusi-bahasa-film-i-bahasa-film-sinema-klasik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62d1fed73a9926a7935cdaa4b4dfdfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kineforum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemutaran Film Peraih Piala Citra 2011 Kategori Film Pendek dan Film Dokumenter</title>
		<link>http://kineforum.wordpress.com/2011/12/15/pemutaran-film-peraih-piala-citra-2011-kategori-film-pendek-dan-film-dokumenter/</link>
		<comments>http://kineforum.wordpress.com/2011/12/15/pemutaran-film-peraih-piala-citra-2011-kategori-film-pendek-dan-film-dokumenter/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 11:09:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kineforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[announcement]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineforum.wordpress.com/?p=2616</guid>
		<description><![CDATA[Sehubungan dengan berakhirnya Festival Film Indonesia 2011 dan perlunya memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyaksikan film-film peraih Piala Citra 2011, Panitia Pelaksana Festival Film Indonesia 2011 memutarkan film-film peraih Piala Citra 2011 kategori Film Pendek dan Film Dokumenter di Kineforum Dewan Kesenian Jakarta. Pemutaran berlangsung Senin, 19 Desember 2011 sampai dengan Kamis, 22 Desember 2011 dengan donasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2616&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sehubungan dengan berakhirnya Festival Film Indonesia 2011 dan perlunya memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyaksikan film-film peraih Piala Citra 2011, Panitia Pelaksana Festival Film Indonesia 2011 memutarkan film-film peraih Piala Citra 2011 kategori Film Pendek dan Film Dokumenter di Kineforum Dewan Kesenian Jakarta. Pemutaran berlangsung Senin, 19 Desember 2011 sampai dengan Kamis, 22 Desember 2011 dengan donasi sebesar Rp10.000,- dan jadwal pemutaran sebagai berikut:</p>
<h2 style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff6600;">Pukul 14.15</span></strong> | Kompilasi Film Dokumenter</h2>
<p><span style="color:#ff9900;">• <strong>Donor ASI</strong></span> (Ani Ema Susanti, 21 menit) – Film Dokumenter Terbaik</p>
<p>Arit yang berprofesi sebagai PNS menghabiskan hampir 8 jam tiap harinya dengan tugas dan kewajibannya sebagai abdi masyarakat. Sebagai ibu yang berkomitmen memberikan ASI eksklusif pada bayinya, arit dihadapkan pada kondisi ASI perahnya berkurang drastis karena kehamilan anak keduanya. ASI yang ia perah pun tidak mencukupi kebutuhan Meyla selama ditinggal bekerja. Dengan support dari suaminya, Arit mencari donor ASI untuk anak pertamanya, Meyla.</p>
<p><span style="color:#ff9900;">• <strong>Lampion-lampion</strong></span> (Dwitra J. Ariana, 35 menit) – Nominasi Film Dokumenter Terbaik</p>
<p>Cerita masa lalu dan kefleksibilitasan dan bersosio-religi, menyebabkan warga Tionghoa-Budha dengan warga Bali-Hindu di wilayah Kintamani, Bangli, Bali ini bisa hidup bersama dalam sebuah banjar prakaman. Sebuah kerukunan dalam arti yang sesungguhnya.</p>
<p><span style="color:#ff9900;">• <strong>Cerita dari Tapal Batas</strong></span> (Wisnu Adi, 57 menit) – Nominasi Film Dokumenter Terbaik</p>
<p>Sebuah potret kehidupan dari tiga orang biasa dengan segala problematikanya di sebuah kehidupan terpencil yang nyaris tak terjangkau, namun masih menjadi bagian dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2><strong><span style="color:#ff6600;">Pukul 17.00</span></strong> | Kompilasi Film Pendek I dan II</h2>
<p><span style="color:#ff9900;">• <strong>Bermula dari A</strong></span> (BW Purba Negara, 15 menit) – Film Pendek Terbaik</p>
<p>Bagi laki-laki tunarungu-wicara, sang perempuan adalah lidah. Dan bagi perempuan tunanetra, sang laki-laki adalah mata. Hubungan yang biasa-biasa saja terjalin di antara mereka.</p>
<p><span style="color:#ff9900;">• <strong>Tanya Jawab</strong></span> (Jason Iskandar, 7 menit) – Nominasi Film Pendek Terbaik</p>
<p>Seorang anak laki-laki akan menghadapi ujian pada keesokan harinya. Ia pun belajar, lalu meminta bantuan pembantu rumah tangganya, yang juga sedang memiliki kesibukannya sendiri, untuk mananyakan materi pelajaran tersebut.</p>
<p><span style="color:#ff9900;">• <strong>Payung Merah</strong></span> (Edward Gunawan &amp; Andri Cung, 9,30 menit) – Nominasi Film Pendek Terbaik</p>
<p>Seorang supir taksi belajar menghargai orang-orang yang ia kasihi setelah mengantarkan penumpang yang cantik namun misterius.</p>
<p><span style="color:#ff9900;">• <strong>The Black Journey</strong></span> (Astu Prasidya, 3,55 menit) – Nominasi Film Pendek Terbaik</p>
<p>The Black Journey merupakan sebuah  film animasi yang menceritakan tentang perjalanan singkat seekor burung yatim piatu yang baru saja menetas. Tanpa sosok ibu, ia terpaksa harus menjalani kehidupan keras karena kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh manusia.</p>
<p><span style="color:#ff9900;">• <strong>Say Hello to Yellow</strong></span> (BW Purba Negara, 20 menit) – Nominasi Film Pendek Terbaik</p>
<p>Cerita tentang benda kecil berwarna kuning yang membuat seorang anak terjebak ilusi dan kepura-puraan. Sebuah potret modernitas yang angkuh dan gagap.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color:#ff9900;">•<strong> Kotak Amal Ramadhan</strong></span> (Khusnul Khitam, 12 menit) – Penghargaan Khusus Dewan Juri Film Pendek</p>
<p>Ramadhan kehilangan kotak amal yang berisi uang sumbangan untuk orang tua temannya yang sedang sakit. Dia mencari akal untuk mendapatkan uang penggantinya.</p>
<p><span style="color:#ff9900;">• <strong>Balloons</strong></span> (Firman Widyasmara, 5,4 menit) – Penghargaan Khusus Dewan Juri Film Pendek</p>
<p>Suatu ketika, ada awan bersaudara Zi dan Wi, Ki si pohon kelapa, dan Ciri. Mereka semua menyukai.. Balon!</p>
<p><span style="color:#ff9900;">• <strong>Wrong Day</strong></span> (Yusuf Radjamuda, 3,30 menit) – Penghargaan Khusus Dewan Juri Film Pendek</p>
<p>Seorang polisi mengejar kriminal menjelang hari pertamanya bertugas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2><strong><span style="color:#ff6600;">Pukul 19.30</span></strong></h2>
<p><span style="color:#ff9900;"><strong>Metamorfoblus</strong></span> (Dossy Omar, 98 menit) – Nominasi Film Dokumenter Terbaik</p>
<p>Slank adalah legenda hidup musik Indonesia. Bagaimana sang legenda menyentuh dan mempengaruhi kehidupan begitu banyak orang ditampilkan dalam dokumenter ini, melalui para ‘slanker’ (penggemar Slank) di Batam, Yogyakarta dan Kupang-Timor Leste.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kineforum.wordpress.com/2616/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kineforum.wordpress.com/2616/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kineforum.wordpress.com/2616/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kineforum.wordpress.com/2616/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kineforum.wordpress.com/2616/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kineforum.wordpress.com/2616/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kineforum.wordpress.com/2616/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kineforum.wordpress.com/2616/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kineforum.wordpress.com/2616/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kineforum.wordpress.com/2616/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kineforum.wordpress.com/2616/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kineforum.wordpress.com/2616/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kineforum.wordpress.com/2616/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kineforum.wordpress.com/2616/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2616&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineforum.wordpress.com/2011/12/15/pemutaran-film-peraih-piala-citra-2011-kategori-film-pendek-dan-film-dokumenter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62d1fed73a9926a7935cdaa4b4dfdfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kineforum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Program Kineforum Desember 2011: Suara dan Sinema</title>
		<link>http://kineforum.wordpress.com/2011/12/04/program-kineforum-desember-2011-suara-dan-sinema/</link>
		<comments>http://kineforum.wordpress.com/2011/12/04/program-kineforum-desember-2011-suara-dan-sinema/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 04:43:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kineforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineforum.wordpress.com/?p=2599</guid>
		<description><![CDATA[Download Buku Program Kineforum Desember 2011   Suara &#38; Sinema* “Seni film adalan seni gerak”. Ini tidak berarti bahwa citra-citra itu harus memperlihatkan manusia atau kuda yang berlari cepat melalui padang rumput. Tetapi ini berarti citra-citra yang runut itu memperlihatkan gerak dan irama. Alat-alat penghubung antara gramofon dan alat-proyeksi membuktikan kegunaannya dalam hal ini. Usaha-usaha untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2599&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/12/desember-2011-isi.pdf">Download Buku Program Kineforum Desember 2011</a></h2>
<div id="attachment_2601" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/12/berlinsymphonyshot.jpg"><img class="size-medium wp-image-2601" title="BerlinSymphonyShot" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/12/berlinsymphonyshot.jpg?w=300&#038;h=201" alt="" width="300" height="201" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu adegan film &quot;Berlin: A Simphony of a Big City&quot;</p></div>
<p><strong> </strong></p>
<h1><span style="color:#ff6600;">Suara &amp; Sinema*</span></h1>
<p style="text-align:center;"><em>“Seni film adalan seni gerak”. </em><em>Ini tidak berarti bahwa citra-citra itu harus memperlihatkan manusia atau kuda yang berlari cepat melalui padang rumput. </em><em>Tetapi ini berarti citra-citra yang runut itu memperlihatkan gerak dan irama.</em></p>
<p>Alat-alat penghubung antara gramofon dan alat-proyeksi membuktikan kegunaannya dalam hal ini. Usaha-usaha untuk menggabungkan gambar dan suara dalam filem pertama kali telah berhasil. Tiga-sekawan Vogt, Engl dan Massolletelah mencipta pita-filem yang diperlukan untuk filem-bicara di bioskop-bioskop. Peristiwa ini terjadi di tahun 1923 dalam pengambilan gambar diplomat Jerman, Gustav Stresemann. Di Amerika, Lee de Forest juga mencapai hasil-hasil yang sama dengan filem “bicara”nya. Namun demikian baru di tahun 1927 para penonton dapat melihat filem-bicara dan menyanyi sebagai barang impor dari Amerika.</p>
<p>Dan peristiwa ini memang dapat dikatakan cepat berkembang.</p>
<p>Serentak dengan adanya filem-filem bicara ini, yang dengan meriah dipertunjukkan di bioskop-bioskop, dipertunjukkan pula filem-filem sandiwara. Para penonton merasa girang, kalau dapat mendengar sri-panggung berbicara, mengeluh dan bernyanyi di layar putih.</p>
<p>Namun para pencipta filem menjadi lupa dengan bahasa gambar, dengan sendirinya melupakan seni-filem. Mereka segera mencipta filem-filem yang mempunyai dialog-dialog panjang dan gambar-gambar yang lama tak bergerak, agar apa yang diucapkan dapat didengar dan ditangkap penonton. Dengan cara kemudian, bahasa gambar pun menjadi tidak penting! Arah pikiran yang seharusnya dapat dilakukan oleh dialog-dialog gambar menjadi takluk pada dialog-dialog suara sebagaimana telah dilakukan oleh teater dan tak ada sangkut pautnya dengan filem. Rupa-rupanya mereka tak lagi menghargai gambar filem yang terlepas dari suara filem.</p>
<p>Suatu kemungkinan baru yang dicipta oleh suara, adalah pemakaian kesunyian (<em>silence</em>). Dalam filem-filem tanpa suara. Kesunyian terjadi setelah ada suara, jadi atas kurnia suara, seperti bayang karena cahaya. Suatu kamera mengelana di medan pertempuran yang telah ditinggalkan. Terasa oleh penonton suatu kesunyian yang mengerikan. Terutama karena lokasi itu terjadi kekejaman-kekejaman yang meresap di dalam hati sewaktu pertempuran sedang berkecamuk. Kekejaman yang telah lenyap itu dan kicauan seekor burung dengan tangkas menegaskan kesunyian sebagai unsur yang dramatis.</p>
<p>Dan apakah pengaruh musik dalam filem? Mula-mula para avant-gardis mengelakkan musik dalam filem-bicara. Mereka masih mencipta filem-filem bisu karena menurut pandangan mereka kebanyakan suara sama saja dengan kebanyakan musik. Memang ada benarnya: kalau musik tidak merdeka (berdiri sendiri) dan seharusnya musik itu harus takluk pada gambar. Jadi adalah suatu kesalahan besar kalau gambar-gambar pada filem itu menjadi tak berarti karena “dihiasi” dengan musik-klasik seperti banyak terjadi dengan filem-filem zaman sekarang. Sebagai contoh dapat kita ambil filem-filem dokumenter dan filem “Fantasi” ciptaan Walt Disney.</p>
<p>Demikianlah dalam garis besarnya penemuan-penemuan dan pendapat-pendapat hakiki yang dapat dikorek para avantgardis dari permulaan zaman filem-bicara. Mereka telah menghasilkan beberapa teori asasi yang perlu untuk estetika filem-bicara.</p>
<p>Di Desember ini, Program <strong>Kinefilia</strong> akan menjadi program bulanan Kineforum dimana Anda akan menjadi bagian dalam penayangan karya sejarah sinema dan membahas karya karya besar dunia, bersama para pecinta sinema. Film yang disajikan dalam tema “<em>Masterpiece</em> dalam sistem” adalah <em>Make Way for Tomorrow</em> , Leo McCarey dan <em>Sunrise</em>, F.W. Murnau. Sebagaimana diajukan oleh penyaji program Kinefilia, “Apakah hal menarik yang ingin ditawarkan oleh Kineforum dengan kedua film di atas selain fakta dari konteks sosial yang menjadi latar belakang dari penciptaan kedua film tersebut?”</p>
<p>Dalam Program <strong>World Documentary</strong> hadir dengan kolaborasi antara Musik dan Sinema yang terekam dalam film <em>Brass Unbound</em>, Johan van der Keuken dan <em>Berlin:</em> <em>Symphony of A Big City</em>, Walther Rutmann. Dua tautan film menarik untuk dibahas dalam perkembangan film-suara.</p>
<p>Program <strong>World Features</strong> akan diisi dengan penayangan <em>The Mirror </em>(<em>Ayneh</em>), Jafar Panahi, serta Sinema Indonesia diisi dengan <em>Benyamin Tukang Ngibul</em>, Nawi Ismail dan <em>Drupadi</em>, yang setelah penayangannya akan dilanjutkan diskusi bersama sutradaranya, Riri Riza.</p>
<p><strong>KineFriends </strong>merupakan program Kineforum yang bekerjasama dengan sahabat-sahabat Kineforum dalam program penayangan karya-karya audio-visual maupun diskusi. Untuk menyemarakkan Program RRREC FEST (ruangrupa Record Music Festival), Kineforum menjadi ruang serta forum untuk membahas serta  memutarakan video-video musik dalam program ruru.mov. Peringatan Hari HAM Sedunia ke-63 bekerjasama dengan KontraS, Kineforum menjadi ruang penayangan video hasil <em>workshop</em>  tentang hak asasi manusia, serta bersama Jakarta Biennale #14.2011 &#8220;Maximum City: Survive or Escape&#8221;, Provoke! Magazine, Kineforum mengadakan <em>online video competition </em>“Jakarta Kata Gw.”</p>
<p>Jangan lewatkan akhir tahunmu, bebas mengekspresikan diri dengan menonton program-program Kineforum bulan ini.</p>
<p>Salam,</p>
<p><strong>Kineforum</strong></p>
<p>*Sebagian besar isi di pengantar ini diambil dan disarikan dari situs www.jurnalfootage.net, dalam rubrik Kronik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h1><span style="color:#ff6600;"><strong>Kinefilia</strong></span></h1>
<p>Baca tulisan mengenai “<em>Masterpiece</em> dalam Sistem” di <a href="http://kineforum.wordpress.com/2011/12/04/masterpiece-dalam-sistem-sunrise-make-way-for-tomorrow/" target="_blank">sini</a>.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Make Way for Tomorrow </span></strong>(</span>1937) | Fiksi | 91 menit | Amerika Serikat | Sutradara: Leo McCarey| Pemain: Victor Moore, Beulah Bondi, Fay Bainter, Thomas Mitchell | <strong>UNTUK 15 TAHUN KE ATAS</strong><strong></strong></p>
<p>Sepasang orang tua terpaksa berpisah ketika mereka kehilangan rumah. Namun, tidak ada di antara kelima anak mereka yang menerima mereka di rumahnya.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Sunrise (Sunrise: A Song of Two Humans) </span></strong></span>(1927) | Fiksi | 95 menit | Amerika Serikat | Sutradara: F.W. Murnau | Pemain: George O’Brien, Janet Gaynor, Margaret Livingston | <strong>UNTUK 18 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p>Seorang petani yang sudah menikah, berada di bawah mantra seorang wanita dari kota, yang mencoba meyakinkan dia untuk menenggelamkan istrinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h1><span style="color:#ff6600;"><strong>World Documentary</strong></span></h1>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Brass Unbound </span></strong></span>(1993) | Dokumenter | 106 menit | Belanda | Sutradara: Johan van der Keuken | <strong>UNTUK 12 TAHUN KE ATAS</strong><strong></strong></p>
<p>Sebuah ajakan melihat beberapa <em>brass band </em>di Nepal, Indonesia, Ghana dan Suriname sebagai sisa-sisa hidup kolonial masa lalu dan sebagai bagian dari kehidupan lokal. Kenikmatan dan kesantaian, sejarah adalah satu hal ringan untuk ditangani, terutama melalui wawancara dengan orang-orang tua. Terdapat banyak warna lokal beragam.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">BERLIN : Symphony of A Big City </span></strong></span>(1927) | Dokumenter | 65 menit | Jerman | Sutradara: Walter Ruttmann | <strong>UNTUK 12 TAHUN KE ATAS</strong><strong><em></em></strong></p>
<p>Film ini mengisahkan tentang satu hari di Berlin, harmoni pada saat itu, mulai dari pagi yang paling awal dan berakhir di malam yang terdalam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h1><span style="color:#ff6600;"><strong>World Feature</strong></span></h1>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">The Mirror (Ayneh) </span></strong></span>(1997) | Fiksi | 95 menit | Iran | Sutradara: Jafar Panahi | <strong>UNTUK SEMUA UMUR</strong><strong></strong></p>
<p>Mina, seorang gadis kecil, mencari ibunya yang tidak bisa menjemput dirinya sepulang sekolah, lalu Mina memutuskan untuk pulang ke rumah sendirian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h1><span style="color:#ff6600;"><strong>Sinema Indonesia</strong></span></h1>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Benyamin Tukang Ngibul </span></strong></span>(1975) | Fiksi | 81 menit | Indonesia | Sutradara: Nawi Ismail | Pemain: Benyamin Su’eb, Grace Simon, Eddy Gombloh | <strong>UNTUK 12 TAHUN KE ATAS</strong><strong></strong></p>
<p>Benny pergi ke kota untuk mengadu nasib, tapi nasib buruk yang datang lebih dulu. Ia kalah berjudi hingga uang hampir ludas. Dengan sisa uang yang ada, ia bertekad menggandakannya dengan jalan apapun. Maka mulailah ia berjualan obat palsu. Keberhasilan ini tidak berlanjut, karena setelah uang terkumpul, ia cekcok dengan kawan-kawannya. Peristiwa itu berlanjut sampai ke tangan polisi. Nasib sial di kota ini terus-menerus menimpa Benny.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Drupadi </span></strong></span>(2008) | Adaptasi | 40 menit | Indonesia | Sutradara: Riri Riza| Pemain: Dian Sastrowardoyo, Dwi Sasono, Nicholas Saputra, Ario Bayu | <strong>UNTUK 18 TAHUN KE ATAS</strong><strong></strong></p>
<p>Drupadi adalah adaptasi dari bagian cerita epik Mahabharata dari India. Film ini menggambarkan cerita sang Drupadi, istri dari kelima bersaudara yang dikenal sebagai Pandawa. Dalam sebuah malam yang amat penting, para Pandawa diundang ke sebuah permainan dadu untuk bermain dengan para Kurawa. Di akhir permainan, Yudhistira, kakak tertua dari Pandawa, kehilangan seluruh kekayaannya, lalu seluruh kerajaannya. Dia kemudian mempertaruhkan saudara-saudaranya, dirinya sendiri, dan akhirnya Drupadi sebagai pelayan para Kurawa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h1><span style="color:#ff6600;"><strong>RRREC FEST #2</strong></span></h1>
<p>RURU.MOV merupakan program pemutaran karya film dan video terbaru yang erat kaitannya dengan dunia musik. Dalam program ini terpilih karya–karya yang dalam berbagai cara melihat dan bicara mewakili dunia anak muda yang memilik ekspresi artistik tersendiri. Tujuh film ditayangkan dalam festival ini.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Live from RRREC Fest #1 </span></strong></span>(2011) | Video Dokumentasi | 57 menit | Indonesia | Editor: Faesal Rizal | <strong>UNTUK SEMUA UMUR</strong></p>
<p><em>Preview</em> dari dokumentasi video acara RRREC Fest yang pertama berlokasi di Galeri Nasional Indonesia.  Rekaman ini memperlihatkan suasana festival dan 12 band yang bermain di <em>indoor stage</em> yang sempit, panas, dan intim.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#ff6600;text-decoration:underline;">Aku seperti Burung yang ingin Terbang Bebas – ‘</span><span style="color:#ff6600;text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;">Komodo</span>’ </span></span></strong>(2011) | Video Musik | 57 menit | Indonesia | Sutradara: Anggun Priambodo | <strong>UNTUK SEMUA UMUR</strong><strong><em></em></strong></p>
<p>Saya dan Zeke setuju pada apa yang sudah alam berikan pada kita, sesuatu yang tidak dapat kita duga, hanya suara binatang, suara angin yang jatuh pada daun-daun yang lebat, ombak yang pecah menabrak karang, alam yang tidak bising bikin pusing, tidak palsu, jauh dari keelokan yang diada-adakan, memberikan pada kita sesuatu yang indah sekali, maka saya ingin pergi merekam alam  yang  jauh dari kota, saatnya keluar dari Jakarta. – Anggun Priambodo</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Dongeng Rangkas </span></strong></span>(2011) | Dokumenter | 75 menit | Indonesia | Sutradara: Andang Kelana, Badrul ‘Rob’ Munir, Fuad Fauji, Hafiz, Syaiful Anwar (Forum Lenteng) | <strong>UNTUK 17 TAHUN KE ATAS</strong><strong><em></em></strong></p>
<p>Film <em>Dongeng Rangkas</em> adalah sebuah dokumenter panjang yang berkisah tentang dua pemuda yang hidup paska Reformasi 1998. Iron dan Kiwong adalah dua pemuda yang memilih hidup sebagai Pedagang Tahu, sementara mimpi-mimpinya tetap dipegang teguh. Kiwong bermimpi menjadi pemuda yang lebih baik, yang menjadikan keluarga hidup lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan Iron, percaya musik adalah anugerah dari Tuhan, dan ia ingin terus mengembangkan fantasi musiknya di jalur <em>Underground</em>.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Dua Tiang Tujuh Layar </span></strong></span>(2010) | Video Musik | 8 menit | Indonesia | Sutradara: Ida Bagus Charisma (Swargaloka) | DOP: Shadtoto Prasetio, Pramono Prakoso, Dimas Wisnuwardono | <strong>UNTUK SEMUA UMUR</strong><strong><em></em></strong></p>
<p>Dokumenter musikal tentang kehidupan para pembuat kapal Pinisi di Tana Beru, daerah Bulukumba, Sulawesi Selatan. Lagu indah dari kelompok musik The Trees and The Wild, Malino (terdapat dalam album Rasuk), merayu pikiran untuk mengikuti perjalanan megah bersama sebuah mahakarya Indonesia, kapal Pinisi.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Ambisi </span></strong></span>(1973) | Fiksi-Komedi | 95 menit | Indonesia | Sutradara: Nya’ Abbas Akup | Pemain: Benyamin Su’eb, Bing Slamet, Anna Mathovani, Fifi Young | <strong>UNTUK 15 TAHUN KE ATAS</strong><strong><em></em></strong></p>
<p>Bing Slamet dan Benyamin Su’eb adalah penyiar pada radio swasta Undur-Undur. Pekerjaan ini membuat mereka tidak akur dengan istrinya. Seorang penggemar mereka, Anna Mathovani, pun menjadi “alternatif”. Bing kemudian mengorbitkan Anna sebagai penyanyi. Setelah Anna sukses, pacarnya pun muncul. Beruntung istri Bing sadar juga. Tampilnya banyak penyanyi terkenal adalah daya tarik film Indonesia “klasik” ini. Dalam film ini kita bisa melihat video musik dari band-band ternama seperti Koes Plus, God Bless, dan Bimbo. Film ini ditutup oleh sebuah konser musik bertempat di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki, Jakarta.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">25 Inspiring Music Videos in Indonesia </span></strong></span>(2001-2011) | Video Musik | 95 menit | Indonesia | Kompilasi | Kurator: Indra Ameng | <strong>UNTUK 12 TAHUN KE ATAS</strong><strong><em></em></strong></p>
<p>Program ini mempersembahkan 25 video musik yang paling menginspirasi dari band dan musisi Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun. Sejumlah video musik terpilih ini memiliki elemen-elemen artistik, kreativitas, dan kecenderungan untuk berbeda dari logika video musik komersil pada umumnya. Karya-karya video musik tersebut menunjukkan kekuatan proses kolaborasi pada tataran audio-visual; musik; penulisan dan gambar; dan membuat kita sadar bahwa video musik bisa menjadi media yang efektif untuk berkomunikasi, serta bisa mei sumber inspirasi bagi semua kalangan, khususnya para pemerhati dan penggemar musik, pembuat video dan penonton, atau bagi siapa saja yang tertarik.</p>
<p><strong>Selecta Pop – Club Eighties </strong>(2001 / Video oleh Platon) | <strong>Mendekati Surga – Koil </strong>(2002 / Video oleh Xonad / Cerahati) | <strong>Life Keeps On Turning &#8211; Mocca </strong>(2003 / Video oleh Lynda Irawaty) | <strong>Burn – Brisik </strong>(2002 / Video oleh Ari Satria Darma) | <strong>Ode to A Scar – Anomicratrap </strong>(2002 / Video oleh Satellite of Love) | <strong>Train Song – Lain </strong>(2003 / Video oleh The Jadugar) | <strong>Modern Bob – The Upstairs </strong>(2004 / Video oleh Syauqi Tuasikal)<strong> | Celaka – Kornchonk Chaos </strong>(2004 / Video oleh Aswan Tantra) | <strong>Taste of Harmony – Homogenic</strong> (2004 / Video oleh Cerahati) | <strong>A.S.T.U.R.O.B.O.T. – Goodnight Electric </strong>(2005 / Video oleh Anggun Priambodo) | <strong>Eksploitasi – Teknoshit </strong>(2002 / Video oleh Eddy Cahyono) | <strong>Lihat – Sore </strong>(2005 / Video oleh Ramondo Gascarro dan Zeke Khaseli) | <strong>Detektif Flamboyan – C’mon Lennon </strong>(2004 / Video oleh Henry Foundation) | <strong>Lingkar Labirin – The Brandals </strong>(2004 / Video oleh The Jadugar) | S<strong>erigala Militia – Seringai </strong>(2006 / Video oleh Tromarama)<strong> | Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia Yang Ada Di Seluruh Dunia – Naif </strong>(2005 / Video oleh The Jadugar) | <strong>Mighty Love – Zeke &amp; The Popo </strong>(2009 / Video oleh Bian Dwijo) | <strong>Absolute Beginner Terror – Teenage Death Star </strong>(2007 / Video oleh Anggun Priambodo | <strong>Wanderlust – Santa Monica </strong>(2007 / Video oleh Dibyokusumo Hadipamenang) | <strong>Banyak Asap Disana – Efek Rumah Kaca </strong>(2009 / Video oleh Famosando) | <strong>Menulis Lagu Cinta – Bite </strong>(2010 / Video oleh Heytuta) | <strong>Mesin Penenun Hujan – Frau </strong>(2010 / Video oleh Nana Miyagi dan Edwin Dolly Rosseno) | <strong>Jakarta Motor City – Sir Dandy</strong> (2011/Video oleh Tandun) | <strong>Amerika – Armada Racun</strong> | (2011 / Video oleh Armada Racun, Hyde Project dan Batu&amp;Gunting) | <strong>Ode Buat Kota – Bangku Taman </strong>(2010 / Video oleh Anggun Priambodo)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<h1><span style="color:#ff6600;"><strong>Video Peringatan Hari HAM Sedunia ke-63</strong></span></h1>
<p>KontraS menyadari bahwa menyebarluaskan gagasan dan nilai-nilai hak asasi tidak harus melalui komunikasi (hukum) formal. Di sisi lain komunitas dan kreativitas komunikasi visual makin berkembang, seperti karya-karya audiovisual. Dengan situasi ini KontraS dan ruangrupa bermaksud menyelenggarakan sebuah program penayangan video hasil workshop video tentang hak asasi manusia, terutama kaitannya dengan peringatan Hari Hak Asasi Manusia Internasional pada 10 Desember ini. Dalam workshop video ini akan menggunakan materi-materi advokasi kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh KontraS selama 13 tahun, sejak 1998.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Juicioy Cerco</span></strong></span> | Dokumenter | 46 menit | Argentina | <strong>UNTUK 15 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p><strong></strong>Dokumenter Juicioy Cerco berkisah tentang perjuangan seorang perempuan bernama Patricia Isasa, dalam mencari pelaku kekerasan yang terjadi pada dirinya. Ia adalah salah satu dari perempuan-perempuan Argentina yang menjadi korban rezim militer Argentina di tahun 1976.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#ff6600;text-decoration:underline;">Kompilasi Video “Remind” (</span><span style="color:#ff6600;text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;">2011</span>) </span></span></strong>| Ragam Durasi | Video | Indonesia | <strong>UNTUK 12 TAHUN KE ATAS</strong><strong></strong></p>
<p>Kompilasi ini adalah kumpulan karya video durasi pendek hasil dari <em>workshop </em>video <em>Remind</em> yang diadakan oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan ruangrupa selama tiga hari. <em>Workshop </em>ini diadakan bersamaan dengan peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia yang ke-63. Sehingga tema yang diambilpun erat kaitannya dengan masalah hak asasi manusia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h1><strong><span style="color:#ff6600;">“Jakarta Kata Gw”</span></strong></h1>
<p>Dalam rangka menyambut perhelatan seni kontemporer internasional Jakarta Biennale #14.2011 &#8220;Maximum City: Survive or Escape&#8221;, Provoke! Magazine dan Kineforum mengajak para kaum muda yang masih duduk di bangku SMA untuk merekam kejadian sehari-hari yang terjadi di sekitar kota Jakarta. Kompetisi Video ini berusaha untuk mengajak siswa/i SMA yang peka terhadap lingkungan dan problematika kota Jakarta. Jakarta, kota yang sesak dari berbagai sisi dan penuh dengan paradoks dapat menciptakan berbagai ruang khususnya bagi kaum muda untuk berekspresi dan berkreasi. Bulan ini, pada 9 Desember 2011, diadakan <em>workshop </em>bersama Dimas Jayasrana pukul 16.00-18-00 di Kineforum, dan terbuka untuk siswa/i SMA.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kineforum.wordpress.com/2599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kineforum.wordpress.com/2599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kineforum.wordpress.com/2599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kineforum.wordpress.com/2599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kineforum.wordpress.com/2599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kineforum.wordpress.com/2599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kineforum.wordpress.com/2599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kineforum.wordpress.com/2599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kineforum.wordpress.com/2599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kineforum.wordpress.com/2599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kineforum.wordpress.com/2599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kineforum.wordpress.com/2599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kineforum.wordpress.com/2599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kineforum.wordpress.com/2599/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2599&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineforum.wordpress.com/2011/12/04/program-kineforum-desember-2011-suara-dan-sinema/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62d1fed73a9926a7935cdaa4b4dfdfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kineforum</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/12/berlinsymphonyshot.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">BerlinSymphonyShot</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masterpiece dalam Sistem: Sunrise &amp; Make Way for Tomorrow</title>
		<link>http://kineforum.wordpress.com/2011/12/04/masterpiece-dalam-sistem-sunrise-make-way-for-tomorrow/</link>
		<comments>http://kineforum.wordpress.com/2011/12/04/masterpiece-dalam-sistem-sunrise-make-way-for-tomorrow/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 04:11:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kineforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineforum.wordpress.com/?p=2608</guid>
		<description><![CDATA[Masterpiece Dalam Sistem: Sunrise &#38; Make Way For Tomorrow   Mohamad Ariansah Pendahuluan Bulan Desember atau menuju akhir tahun 2011 ini, Kineforum akan memutarkan dua film penting dalam program kinefilia, yakni; Sunrise ( F.W. Murnau/1927/US ) dan Make Way For Tomorrow ( Leo McCarey/1937/US ). Kedua film tersebut diproduksi pada era menjelang dan sesudah krisis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2608&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 align="center"><strong><span style="color:#ff6600;">Masterpiece Dalam Sistem:</span></strong></h2>
<h2 align="center"><strong><span style="color:#ff6600;"><em>Sunrise &amp; Make Way For Tomorrow</em></span></strong></h2>
<p align="center"><em> </em></p>
<p align="center"><strong>Mohamad Ariansah</strong></p>
<p align="center">
<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Bulan Desember atau menuju akhir tahun 2011 ini, Kineforum akan memutarkan dua film penting dalam program kinefilia, yakni; <em>Sunrise</em> ( F.W. Murnau/1927/US )<em> </em>dan<em> Make Way For Tomorrow</em> ( Leo McCarey/1937/US ). Kedua film tersebut diproduksi pada era menjelang dan sesudah krisis ekonomi pada tahun 1929-1930 yang melanda bursa saham di Amerika Serikat. Namun yang lebih penting dari hal tersebut adalah fakta bahwa keduanya di produksi dalam sebuah sistem yang sangat terkenal sepanjang sejarah perfilman dunia yaitu sistem studio Hollywood. Walaupun <em>Sunrise</em> merupakan sebuah film bisu yang lahir pada masa transisi menuju film bersuara, sedangkan  <em>Make Way For Tomorrow</em> adalah produk dekade awal dari film bersuara tapi keduanya muncul saat Hollywood berada pada puncak kejayaannya.</p>
<p>Zaman keemasan Hollywood atau puncak kejayaannya mengacu pada era pasca perang dunia I tahun 1917 ( di mana Eropa mengalami kehancuran dalam industri perfilman ), sampai kasus pengadilan yang menimpa Paramount Pictures tahun 1948 dan menghasilkan keputusan bahwa Hollywood melakukan monopoli dengan menguasai seluruh sektor produksi-distribusi-eksbisi perfilman. Akibat dari keputusan tersebut Hollywood dilarang untuk melakukan praktek monopoli di atas, hingga harus melepas kepemilikannya terhadap sektor distribusi dan eksbisi. Dengan kata lain, Hollywood menjadi tidak sekuat periode 1920 sampai 1940-an. Walaupun untuk melanjutkan hegemoni atas perfilman dunia selanjutnya, berbagai macam regulasi dan politik perfilman Hollywood menjadi bersinergi dengan pemerintahan Amerika Serikat. Padahal sebelumnya Hollywood adalah murni usaha swasta dan pemerintah Amerika sendiri yang telah mengurangi kekuatan dari pusat industri perfilman tersebut.</p>
<p>Lantas dalam program Kinefilia kali ini, apakah hal menarik yang ingin ditawarkan oleh Kineforum dengan kedua film di atas selain fakta dari konteks sosial yang menjadi latar belakang dari penciptaan kedua film tersebut ?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Sunrise</em> dan <em>Make Way For Tomorrow</em>: Antara <em>Cinephile</em> &amp; Hollywood</strong></p>
<p>Hubungan antara <em>Cinephile </em>dan Hollywood merupakan sebuah hubungan klasik benci tapi cinta. Meskipun para <em>Cinephile</em> awal macam; Truffaut, Godard, Rohmer atau Chabrol dan rekan-rekan mereka di jurnal <em>Cahiers du Cinema</em> pada tahun 1950-an sangat memuja film-film Hollywood, tapi sejak akhir 1960-an situasi menjadi berubah. Dengan semakin berorientasi pada Marxisme pasca Mei 1968 khususnya militan Maois, film-film produksi Hollywood dikecam sebagai representasi dari budaya borjuis yang harus dilawan. Kendati begitu film-film Hollywood tidak pernah sepenuhnya ditinggalkan dalam tradisi <em>cinephile</em>. Bahkan film-film dari John Ford dan Alfred Hitchcock tetap menjadi primadona, tapi untuk membahasnya digunakan pendekatan berbeda melalui bantuan dari teori-teori kritis yang menjadi marak sejak tahun 1970-an dan 1980-an, yakni Marxisme dari Louis Althusser dan Psikoanalisa-Lacan.</p>
<p>Umumnya Hollywood dikecam karena mekanisme baku yang dijalankannya dalam memproduksi ratusan film setiap tahun. Pada sistem studio Hollywood sejak 1917, diterapkan sebuah cara kerja model sebuah pabrik dalam menghasilkan sebuah film sebagai suatu rancangan kerja dalam rencana selama 1 tahun. Dalam sistem studio tersebut, Hollywood yang dijalankan oleh studio-studio besar seperti MGM, Paramount, Warner Bros, 20<sup>th</sup> Century Fox telah membuat rencana selama 1 tahun yang dikenal dengan istilah <em>one year’s plan</em>. Khususnya dekade 1930-an dan 1940-an, tahap produksi telah ditetapkan oleh pemilik dan kepala studio bersama dengan seorang kepala produksi yang akan membawahi banyak produser dari setiap studio tersebut. Karena semua hal sudah direncanakan selama 1 tahun, maka tugas seorang kepala produksi sangat menentukan berjalannya sistem tersebut sesuai rencana. Dengan kata lain, maka segala sesuatunya dilakukan harus sesuai dengan perencanaan selama 1 tahun tersebut. Akibatnya improvisasi ataupun pengembangan kreativitas akan segera ditutup saat semua rencana telah diputuskan. Di sinilah Hollywood dianggap menghasilkan tidak lebih dari sebuah produk, seperti mobil atau sabun yang sangat identik dengan mekanisme yang sangat kapitalistik. Karena setiap pekerja dalam film dipaksa mengikuti model ban berjalan dalam pabrik film tersebut.</p>
<p><em>Sunrise</em> dan <em>Make Way For Tomorrow</em> adalah film-film yang dibuat dalam sistem tersebut. Masalahnya kemudian apakah dengan begitu secara otomatis keduanya menjadi produk massa yang tidak memiliki nilai, karena diproduksi dalam sistem yang buruk ?</p>
<p><em>Sunrise</em> merupakan sebuah film yang mengangkat tema tentang godaan dengan bahasa visual yang sangat luar biasa sebagai salah satu puncak dari karya akhir film bisu. Film ini diproduksi dengan fasilitas luar biasa yang diberikan oleh William Fox sebagai pemilik studio kepada sutradaranya, yakni Murnau. Karena sangat kagum dengan karya Murnau sebelumnya saat masih di Jerman, yakni <em>The Last Laugh</em> ( 1924 ) dengan gerakan kamera yang sangat luar biasa untuk periode tersebut. Fox kemudian memboyong Murnau ke Hollywood dan memberinya kebebasan dalam kreativitas yang sulit didapatkan orang lain di sana. Ia menginginkan Murnau membuat film di Hollywood sekelas <em>The Last Laugh</em>. Tapi meskipun <em>Sunrise </em>dianggap sebagai salah satu karya terbaik di dunia sepanjang masa oleh para <em>cinephile</em> Perancis di <em>Cahiers du Cinema</em> tahun 1958, namun film itu gagal secara komersial. Sebagai konsekuensi yang sudah berlaku di Hollywood, maka Murnau tidak lagi dipercaya sepenuhnya dalam berkarya di sana. Tapi <em>Sunrise</em> tetap dipandang sebagai karya terpenting perfilman oleh generasi saat ini, seperti sinematografer Darius Khondji yang mengatakan bahwa film itu adalah sekolahnya.</p>
<p>Sementara  <em>Make Way For Tomorrow</em> adalah sebuah film yang mengangkat kisah tidak umum di Hollywood. Film ini bercerita tentang pasangan kakek-nenek yang harus hidup terpisah karena kesulitan membayar hipotek dari rumah mereka. Sebuah film melodrama yang sangat sublime, tanpa keinginan untuk menguras air mata penonton walaupun berakhir secara tragis tanpa <em>happy-ending</em>. Pengagum utama dari film ini adalah sutradara Jepang yang menjadi salah satu dewa bagi komunitas <em>cinephile</em>, yakni Yasujiro Ozu. Bahkan film <em>masterpiece</em> Ozu, yakni <em>Tokyo Monogatori</em> ( 1953 ) mendapatkan inspirasi karena kekagumannya terhadap film McCarey tersebut. Film ini mampu lahir dalam sistem yang sangat ketat karena usaha dari McCarey dalam melakukan tawar menawar dengan para eksekutif di Hollywood. Ia menerapkan strategi mirip dengan John Ford, yakni bersedia membuat film yang diinginkan oleh Hollywood, tapi setelah 3 film berhasil diselesaikannya ia menawarkan 1 film yang diinginkannya.</p>
<p>Terlepas dari kasus-kasus yang terjadi terhadap dua sutradara tersebut yang bekerja dalam sistem sangat ketat dengan orientasi komersial, maka karya-karya tersebut mampu merubah stigma bahwa sistem yang buruk menghasilkan film yang buruk. Variannya bisa karena ada jenius yang menghasilkan karya <em>masterpiece</em> dalam kondisi tidak memungkinkan. Atau karena seburuk apapun sistem, ia tetap akan mampu untuk kompromi dalam menghasilkan yang terbaik walau dalam situasi yang buruk sebagai cara untuk bertahan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">Daftar Pustaka</p>
<p>Bordwell, David &amp; Kristin Thompson. <em>Film History: An Introduction</em>. McGraw-Hill, Inc:1994.<em></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kineforum.wordpress.com/2608/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kineforum.wordpress.com/2608/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kineforum.wordpress.com/2608/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kineforum.wordpress.com/2608/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kineforum.wordpress.com/2608/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kineforum.wordpress.com/2608/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kineforum.wordpress.com/2608/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kineforum.wordpress.com/2608/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kineforum.wordpress.com/2608/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kineforum.wordpress.com/2608/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kineforum.wordpress.com/2608/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kineforum.wordpress.com/2608/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kineforum.wordpress.com/2608/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kineforum.wordpress.com/2608/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2608&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineforum.wordpress.com/2011/12/04/masterpiece-dalam-sistem-sunrise-make-way-for-tomorrow/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62d1fed73a9926a7935cdaa4b4dfdfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kineforum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kineforum, Playtime &amp; Cinephile</title>
		<link>http://kineforum.wordpress.com/2011/11/21/2591/</link>
		<comments>http://kineforum.wordpress.com/2011/11/21/2591/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 05:25:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kineforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineforum.wordpress.com/?p=2591</guid>
		<description><![CDATA[Kineforum, Playtime &#38; Cinephile Mohamad Ariansah         Mulai bulan November 2011, Kineforum meluncurkan sebuah program baru bernama layar kinefilia yang diambil dari kata cinephile. Program tersebut direncanakan akan menjadi sebuah program bulanan secara rutin dari Kineforum, yang setiap bulannya akan memutarkan sekitar 1, 2 atau 3 film tertentu dengan label layar kinefilia.. Film pertama yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2591&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 align="center">Kineforum, <em>Playtime</em> &amp; C<em>inephile</em></h1>
<p align="center">Mohamad Ariansah</p>
<p>        Mulai bulan November 2011, Kineforum meluncurkan sebuah program baru bernama layar kinefilia yang diambil dari kata <em>cinephile</em>. Program tersebut direncanakan akan menjadi sebuah program bulanan secara rutin dari Kineforum, yang setiap bulannya akan memutarkan sekitar 1, 2 atau 3 film tertentu dengan label layar kinefilia.. Film pertama yang diputar pada tanggal 18 November 2011 dan sekaligus menjadi pembuka program tersebut adalah <em>Playtime</em> (1967, Perancis) karya dari Jacques Tati, yang mengingatkan kita pada kebesaran warisan sejarah dari Chaplin dan Buster Keaton, serta visi dunia fantasi gaya barok model Fellini pasca <em>La Dolce Vita</em> ( 1960), dalam mengomentari kondisi dunia modern seperti Antonioni.</p>
<p>Lantas kenapa <em>Playtime</em> yang harus menandai perjalanan sejarah kineforum tersebut bukannya <em>Darah dan Doa</em>, <em>Inem Pelayan Seksi</em> atau <em>Laela Majenun</em> ? Seandainya publik sebagai salah satu pihak yang berkepentingan dengan eksistensi dari sebuah kineklub menanyakan hal tersebut, maka tidak lain hal ini hanyalah sebuah usaha dari semua rekan di kineforum dalam memulai langkah baru dalam memodernisasi dirinya baik secara struktur organisasi, tawaran-tawaran program dan diskursus-diskursus tentang sinema yang baru dan menantang sambil terus belajar seperti karakter Hulot-nya Tati dalam <em>Playtime</em> menghadapi berbagai dinamika zaman macam;  Dv, Canon 5d, <em>film streaming</em>, sinema 4D serta nasib penonton ke depan.</p>
<p><strong>Apakah <em>Cinephile</em> itu ?</strong></p>
<p><em>Cinephile</em> ( <em>cine</em> (sinema) + <em>phile/philia</em> (cinta) dari bahasa yunani ) adalah seseorang yang sangat antusias dengan sinema. Dalam sejarah kita kerap kali memandang bahwa tahun 0 sejarah sinema adalah 1895, tapi ketertarikan orang secara serius terhadapnya baru muncul pada periode 1920-an dan komunitas <em>cinephile</em> sendiri lahir pada periode 1950-an di Perancis melalui jurnal seperti <em>Cahiers du Cinema</em> sebagai eksponen utamanya.</p>
<p>Kecintaan terhadap film atau antusiasme di sini bukan sekedar menjadi <em>movie buff</em> ( istilah untuk penggila film &amp; sering disinonimkan dengan <em>cinephile</em> ) dalam pemahaman orang-orang Amerika, yang mampu menghapal setiap dialog dari film-film Humphrey Bogart ataupun mampu menyebutkan semua karakter yang pernah dimainkan John Wayne dalam semua filmnya, tapi lebih kepada sesuatu perasaan yang unik dan menyenangkan, meski terkadang bisa juga menakutkan tapi secara jujur kita merasakan pada saat mata kita menangkap imaji dalam layar muncul sesuatu yang sangat menarik dari sinema. Sebuah perasaan yang sangat misterius dan sublime.</p>
<p>Entah gambar di layar tersebut adalah <em>close up</em> wajah Greta Garbo yang sangat penuh misteri namun terkesan dingin sekaligus erotik. Atau imaji yang dihasilkan dari gerakan kamera secara perlahan dan berdurasi sangat panjang tanpa jeda, mengikuti seorang karakter yang memasuki setiap bagian penting sebuah rumah hingga berakhir di tepi pantai, yang keseluruhan tempat tersebut penuh dengan memori kehidupannya yang lampau seperti dalam film <em>Eternity and A Day</em> ( 1998, Theo Angelopoulos ). Maupun bagian akhir dari <em>City Lights </em>( 1931, Charlie Chaplin ) saat Chaplin saling berpandangan dengan perempuan buta yang telah sembuh beberapa saat, tapi ia tidak lagi mengenali laki-laki yang pernah menolongnya dan kini berdiri dihadapannya. Ketiga contoh imaji tadi mampu menghasilkan sebuah sensasi khusus pada penonton. Yang karena begitu menariknya buat penonton-penonton tertentu maka imaji itu direkam dalam memori mereka, ditulis dan terus diperbincangkan sampai hari ini.</p>
<p>Saat ketiga imaji di atas dan imaji-imaji lainnya di layar menghasilkan impresi yang sedemikian rupa menarik pada penonton maka benih-benih dari <em>cinephile</em> telah lahir. Kondisi ini oleh Christian Keathley dinamakan <em>cinephiliac moment</em>. Sebab dari sanalah muncul benih-benih cinta bagi seseorang ( <em>cinephile</em> ) yang membuat sinema menjadi sangat amat unik dan menarik. Sebuah momen pada saat kita berada dalam kondisi menonton film atau menangkap sebuah imaji di layar, kemudian kita melakukan semacam sikap fetisistik terhadap sebuah pengalaman khusus yang dalam hal ini adalah imaji di layar.</p>
<p>Dari konteks tersebut sebenarnya <strong><em>semua orang sangat berpotensi menjadi cinephile</em></strong> dengan <em>cinephiliac moment</em>-<em>cinephiliac moment </em>nya sendiri-sendiri. Hanya seorang <em>cinephile</em> tidaklah berhenti sampai <em>cinephiliac moment</em> saja, tapi ia akan berusaha untuk merekam dan menyimpannya dalam memori.</p>
<p>Hingga dalam batas minimalnya adalah melakukan sesuatu seperti yang dikerjakan oleh <em>cinephile-cinephile</em> di Perancis pada tahun 1950-an, yakni berusaha untuk mendeskripsikan serinci mungkin imaji yang telah mampu menarik perhatian mereka. Hingga menjadi jelas mengapa tulisan-tulisan para <em>cinephile</em> ternama dunia, seperti; Francois Truffaut, Jean Luc Godard, Jacques Rivette, dan para penulis <em>Cahiers du Cinema</em> lainnya kerap kali membahas detil sebuah adegan secara panjang lebar pada tahun 1950-an. Yang dengan teknologi yang kita punya sekarang macam dvd, maka kita bisa mengulang-ulang <em>cinephiliac moment</em> berkali-kali sesuka kita, secara perlahan atau memberhentikannya. Tetapi dengan satu kalimat kunci bahwa apapun metode dalam mendekati film, intinya tetap berangkat dari kecintaan terhadap sinema.</p>
<p align="center">
<p align="center">Daftar Pustaka</p>
<p align="center">
<p style="text-align:left;" align="center"> Keathley, Christian. <em>Cinephilia and History, or The Wind in the Trees</em>. Indiana University Press: 2006.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kineforum.wordpress.com/2591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kineforum.wordpress.com/2591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kineforum.wordpress.com/2591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kineforum.wordpress.com/2591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kineforum.wordpress.com/2591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kineforum.wordpress.com/2591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kineforum.wordpress.com/2591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kineforum.wordpress.com/2591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kineforum.wordpress.com/2591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kineforum.wordpress.com/2591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kineforum.wordpress.com/2591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kineforum.wordpress.com/2591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kineforum.wordpress.com/2591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kineforum.wordpress.com/2591/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2591&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineforum.wordpress.com/2011/11/21/2591/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62d1fed73a9926a7935cdaa4b4dfdfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kineforum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Provoke! Flick with Kineforum: “Jakarta Kata Gw”</title>
		<link>http://kineforum.wordpress.com/2011/11/17/provoke-flick-with-kineforum-jakarta-kata-gw/</link>
		<comments>http://kineforum.wordpress.com/2011/11/17/provoke-flick-with-kineforum-jakarta-kata-gw/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 16:29:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kineforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[announcement]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineforum.wordpress.com/?p=2586</guid>
		<description><![CDATA[Kineforum Dewan Kesenian Jakarta bekerja sama dengan Provoke! Flick menyelenggarakan online video competition dalam rangka Jakarta Biennale #14 2011. Kompetisi ini merupakan ajang bagi siswa-siswi SMA untuk menuangkan idenya tentang Jakarta dalam video berdurasi 1 menit dan berlangsung selama bulan November 2011-Januari 2012. Selain kompetisi, juga akan ada workshop untuk menambah pengetahuan dan pengalaman bersama beberapa praktisi pembuat video. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2586&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#ff6600;"><strong>Kineforum Dewan Kesenian Jakarta</strong></span> bekerja sama dengan <strong><span style="color:#ff6600;">Provoke! Flick</span></strong> menyelenggarakan <span style="color:#ff6600;"><em>online video competition</em></span> dalam rangka <strong><span style="color:#ff6600;">Jakarta Biennale #14 2011</span></strong>. Kompetisi ini merupakan ajang bagi siswa-siswi SMA untuk menuangkan idenya tentang Jakarta dalam video berdurasi 1 menit dan berlangsung selama bulan November 2011-Januari 2012. Selain kompetisi, juga akan ada <em>workshop </em>untuk menambah pengetahuan dan pengalaman bersama beberapa praktisi pembuat video. Untuk informasi lebih lanjut bisa lihat www.jakartabiennale.or.id dan follow @jakartabiennale.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Persyaratan Kompetisi</span></strong></span></p>
<ul>
<li>Kompetisi Video Online dengan tema<strong> “Jakarta Kata Gw…”</strong></li>
<li>Peserta kompetisi adalah pelajar SMU/ SMK tingkat Jabodetabek.</li>
<li>Satu tim maksimal 3 orang dan boleh mengirimkan karya sebanyak-banyaknya. Satu sekolah bisa mendapatkan lebih dari 1 finalis.</li>
<li>Film direkam dengan Handphone/ Handycam/ DSLR , dsb.</li>
<li>Durasi film max. 1 menit</li>
<li>Format file film dapat berupa .mov/.3gp/.mpeg</li>
<li>Film harus disertai nama anggota tim atau individu, beserta judul dan sinopsis singkat mengenai karya.</li>
<li>Kirimkan tautan (link) video karya yang sudah diunggah ke Youtube ke email panitia <a href="mailto:satria@simple-indonesia.com">satria@simple-indonesia.com</a> dan CC: <a href="mailto:komunikasi@dkj.or.id">komunikasi@dkj.or.id</a> atau kirim langsung ke kantor Provoke! Jln. Panglima Polim X No.16, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.</li>
<li>Video yang sudah diunggah diberi kode: JKG_JUDUL_NAMA SMU (Contoh : JKG_UNDERVOCER_SMU SUMBANGSIH)</li>
<li>Durasi pengumpulan karya 1 November &#8211; 31 Desember 2011.</li>
<li>Karya pemenang akan ditentukan oleh Dewan Juri lomba terdiri dari kalangan industri film pendek dan profesional di bidang film.</li>
<li>Keputusan juri bersifat final dan tidak bisa diganggu-gugat.</li>
<li>Pemenang kategori Favorit ditentukan berdasarkan perolehan Voting terbanyak. Voting bisa dilakukan via website <a title="www.jakartabiennale.org" href="http://www.jakartabiennale.org/">www.jakartabiennale.org</a> selama periode lomba.</li>
<li>Pengumuman para pemenang dan nominasi akan diumumkan pada Awarding Night yang akan dilakukan di Galeri Nasional, <strong>6 Januari 2012</strong>.</li>
</ul>
<p><span style="text-decoration:underline;color:#ff6600;"><strong>Rincian Hadiah</strong></span></p>
<div><span style="font-family:tahoma, sans-serif;"><strong>Juara 1</strong>:<br />
- uang Rp.3,000,000<br />
- Paket LENGKAP  Belitung + tiket pesawat untuk 2 orang</span></div>
<div><span style="font-family:tahoma, sans-serif;">- Kursus bahasa Prancis</span></div>
<div><span style="font-family:tahoma, sans-serif;"><br />
</span></div>
<div><span style="font-family:tahoma, sans-serif;"><strong>Juara 2</strong>:<br />
- uang Rp.2,000,000<br />
- Paket TUR di Losari Legian, Bali<br />
- Kursus bahasa Prancis<span style="font-size:small;"><br />
</span><br />
<strong>Juara 3</strong>:<br />
- uang Rp1.000.000<br />
- 1 Paket Alligator Rafting Trip di Citarik, Sukabumi<strong> </strong></span></div>
<div id="yui_3_2_0_1_1321615001901130"><span style="font-family:tahoma, sans-serif;">- Kursus bahasa Prancis<span style="font-size:small;"><br />
</span><br />
<strong>Juara Favorit</strong><br />
- Voucher HOTEL di Spazzio Hotel, Bali </span></div>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Workshop</span></strong></span></p>
<p>Materi: Menuangkan ide tentang Jakarta menjadi video pendek</p>
<p>Waktu: 16.00-18.00 WIB</p>
<p>1. Jumat, 18 November 2011, Blitz Megaplex Pacific Place | Narasumber: Yudhi Arfani</p>
<p>2. Jumat, 25 November 2011, IFI Salemba | Narasumber: Dimas Jayasrana</p>
<p>3. Jumat, 2 Desember 2011, Provoke! | Narasumber: Abduh Aziz</p>
<p>4. Jumat, 9 Desember 2011, Kineforum | Narasumber: Dimas Jayasrana</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kineforum.wordpress.com/2586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kineforum.wordpress.com/2586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kineforum.wordpress.com/2586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kineforum.wordpress.com/2586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kineforum.wordpress.com/2586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kineforum.wordpress.com/2586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kineforum.wordpress.com/2586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kineforum.wordpress.com/2586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kineforum.wordpress.com/2586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kineforum.wordpress.com/2586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kineforum.wordpress.com/2586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kineforum.wordpress.com/2586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kineforum.wordpress.com/2586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kineforum.wordpress.com/2586/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2586&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineforum.wordpress.com/2011/11/17/provoke-flick-with-kineforum-jakarta-kata-gw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62d1fed73a9926a7935cdaa4b4dfdfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kineforum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Program Kineforum November 2011: Kinefilia</title>
		<link>http://kineforum.wordpress.com/2011/11/10/program-kineforum-november-2011-kinefilia/</link>
		<comments>http://kineforum.wordpress.com/2011/11/10/program-kineforum-november-2011-kinefilia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 10:28:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kineforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[sinopsis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineforum.wordpress.com/?p=2547</guid>
		<description><![CDATA[Download Jadwal Pemutaran Kineforum November 2011 Kinefilia Kineforum melakukan pembenahan internal dengan mengundang kawan-kawan organisasi film/video di Jakarta untuk kerja bersama dalam pembuatan program-program Kineforum selama 6 bulan ke depan.  Kecintaan akan sinema dan keinginan untuk berbagi pengalaman, Dewan Program baru yang terdiri dari Andang Kelana, Dimas Jayasrana dan Widiani Budiarti mempersembahkan program-program  film  pilihan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2547&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/jadwal-pemutaran-kineforum-november-2011.pdf">Download Jadwal Pemutaran Kineforum November 2011</a></h1>
<h1></h1>
<h1><span class="Apple-style-span" style="color:#ff6600;"><strong>Kinefilia</strong></span></h1>
<p><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/coverbukukineforuma.jpg"><img class="size-medium wp-image-2569 alignnone" title="Kinefilia" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/coverbukukineforuma.jpg?w=199&#038;h=300" alt="" width="199" height="300" /></a></p>
<p><strong></strong>Kineforum melakukan pembenahan internal dengan mengundang kawan-kawan organisasi film/video di Jakarta untuk kerja bersama dalam pembuatan program-program Kineforum selama 6 bulan ke depan.  Kecintaan akan sinema dan keinginan untuk berbagi pengalaman, Dewan Program baru yang terdiri dari Andang Kelana, Dimas Jayasrana dan Widiani Budiarti mempersembahkan program-program  film  pilihan di bulan ini. Di bulan yang sama, Kineforum juga bekerjasama dengan Festival Film Eropa (Europe On Screen), Jakarta Biennale, dan Yayasan Sanggar Anak Akar yang akan menampilkan film-film pilihan dari Indonesia maupun skala dunia.</p>
<p>November ini akan dibuka dengan program <strong>Festival Film Eropa</strong>, sebuah festival yang menjadi jendela untuk menyaksikan budaya Eropa lewat beragam film dan sarana bagi penonton untuk mengembangkan apresiasi terhadap film-film di luar arus besar, tahun ini memasuki penyelenggaraan kelima dengan tema “Old and Young Europe”.</p>
<p>Program <strong>Body of Works</strong>, memilih Jean-Luc Godard dengan <em>Histoire(s) du Cinéma</em>-nya. Karya ini dapat disebut sebagai capaian terdahsyatnya sebagai pembuat film/kritikus/seniman/penyair/sejarawan. Diproduksi kurun sepuluh tahun (1988-1998), <em>Histoire(s) du Cinéma</em> telah digembar-gemborkan sebagai karya yang paling signifikan dalam praktek sinema dan sejarahnya. <em>Histoire(s) du Cinéma </em>terdiri dari 4 kisah, tiap-tiapnya dibagi dalam dua bagian dan menjadikannya 8 episode. Dengan hampir keseluruhan film ini terdiri dari kutipan visual dan auditori dari beberapa film yang terkenal dan diketahui.</p>
<p>Untuk menantang kecintaan kalian terhadap sinema, Kineforum ingin membuat para pecinta film untuk datang dan berdiskusi mengapresiasi film-film yang merupakan kunci dalam sejarah sinema Indonesia maupun dunia, dalam program baru <strong>Layar Kinefilia</strong>. Dalam bulan ini kita akan menyaksikan salah satu karya besar dari Jacques Tati dan Francis Veber.</p>
<p>Untuk memperingati <strong>Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan</strong> yang jatuh pada bulan ini, Kineforum bekerjasama dengan Peace Women Across the Globe akan menayangkan film-film tentang kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. <em>Payung Hitam </em>dengan tayang perdananya dan <em>Tuhan Pada Jam 10 Malam</em>.</p>
<p>Menyadari akan potensi kreasi anak dalam memanfaatkan medium audiovisual dan berkaitan dengan ulang tahun Sanggar Anak Akar yang ke-17 sekaligus dalam rangka Hari Anak Internasional, Sanggar Anak Akar akan menyelenggarakan <strong>Festival Video Karya Anak</strong>. Diisi dengan penayangan hasil penjurian festival dan beberapa film-film anak-anak pilihan untuk ditonton bersama.</p>
<p>Kineforum dan Komite Film Dewan Kesenian Jakarta turut menyambut dan memeriahkan Jakarta Bienalle 2011 dengan mempersembahkan program bertema <strong>Body</strong>. <em>Body</em> atau tubuh memang menjadi salah satu dari beberapa diskursus besar yang diusung dalam perhelatan seni rupa Jakarta dua tahunan ini.</p>
<p>Untuk itu, mari para pecinta film di tanah air, bergabung bersama kami untuk menikmati sinema-sinema dunia.</p>
<p>Salam,</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong>Andang Kelana</strong></span></p>
<p><strong></strong>Dewan Program Kineforum</p>
<h1><span style="color:#ff6600;"><strong>Europe on Screen 2011 &#8211; Old and Young Europe</strong></span></h1>
<p>Europe on Screen (Festival Film Eropa) 2011: Old and Young Europe | Penayangan Film di Jakarta 5-10 November 2011 | http://www.europeonscreen.org | Ikuti di twitter @EuropeonScreen</p>
<h1><span style="color:#ff6600;"><strong>Body of Works: Jean-Luc Godard</strong></span></h1>
<p><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/jlg.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2571" title="JLG" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/jlg.jpg?w=210&#038;h=300" alt="" width="210" height="300" /></a></p>
<p>Body of Works bulan ini mengajak berkenalan dengan Jean-Luc Godard lewat salah satu karyanya yang paling signifikan: <strong>Histoire(s) du </strong><strong>Cinéma</strong>. Ini adalah sebuah proyek video Godard pada akhir tahun 1980 dan selesai pada tahun 1998.<em> </em>Histoire(s) du Cinéma<em> </em>terdiri dari 4 kisah, tiap-tiapnya dibagi dalam dua bagian dan menjadikannya 8 episode. Hampir keseluruhan film ini terdiri dari kutipan visual dan audio dari beberapa film yang terkenal dan diketahui. | <strong>UNTUK 15 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;color:#ff6600;">Chapter 1(a): Toutes les histories (All the (Hi)</span><span style="color:#ff6600;"><span style="text-decoration:underline;">stories</span><span style="text-decoration:underline;">) </span></span></strong>(1988) | DVD | 51 menit | Prancis | Subteks Bahasa Inggris | Sutradara: Jean-Luc Godard</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Chapter 1(b): Une histoire seule (A Single (Hi)story) </span></strong></span>(1989) | DVD | 42 menit | Prancis | Subteks Bahasa Inggris | Sutradara: Jean-Luc Godard</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Chapter 2(a): Seul le cinema (Only Cinema) </span></strong></span>(1997) | DVD | 26 menit | Prancis | Subteks Bahasa Inggris | Sutradara: Jean-Luc Godard | Pemain: Jean-Luc Godard</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Chapter 2(b): Fatale beauté (Deadly Beauty) </span></strong></span>(1997) | DVD | 28 menit | Prancis | Subteks Bahasa Inggris | Sutradara: Jean-Luc Godard | Pemain: Jean-Luc Godard</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Chapter 3(a): La Monnaie de l’absolu (The Coin of the Absolute) </span></strong></span>(1998) | DVD | 27 menit | Prancis | Subteks Bahasa Inggris | Sutradara: Jean-Luc Godard | Pemain: Alain Cuny</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Chapter 3(b): Une Vague Nouvelle (A New Wave) </span></strong></span>(1998) | DVD | 27 menit | Prancis | Subteks Bahasa Inggris | Sutradara: Jean-Luc Godard</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Chapter 4(a): Le Contrôle de l’univers (The Control of the Universe) </span></strong></span>(1998) | DVD | 27 menit | Prancis | Subteks Bahasa Inggris | Sutradara: Jean-Luc Godard</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Chapter 4(b): Les signes parmi nous (The Signs Among Us) </span></strong></span>(1998) | DVD | 38 menit | Prancis | Subteks Bahasa Inggris | Sutradara: Jean-Luc Godard</p>
<h1><span style="color:#ff6600;"><strong>Layar Kinefilia</strong></span></h1>
<p>Layar Kinefilia merupakah salah satu program baru di Kineforum yang memutarkan film-film kunci dalam sejarah film dunia dan telah memberikan kontribusi dan inspirasi terhadap perkembangan estetik, teknologi, sosial maupun politik. Digagas oleh Mohamad Ariansah, tujuan program ini adalah menjadikan Kineforum sebagai tempat apresiasi terhadap perfilman agar terwujud komunitas <em>cinephille</em>/penikmat film serius di Jakarta dan sekitarnya. Kinefilia sendiri berangkat dari kata Cine: Kine/Sine dan Philia: Filia/Fili, yang berarti Cinta Sinema.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/le-dc3aener-de-cons.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2572" title="Le dîner de cons" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/le-dc3aener-de-cons.jpg?w=150&#038;h=98" alt="" width="150" height="98" /></a>Le dîner de cons (The Dinner Game) </span></strong></span>(1998) | DVD | 80 menit | Prancis | Subteks Bahasa Inggris | Sutradara: Francis Veber | Pemain: Thierry Lhermitte, Jacques Villeret, Francis Huster, Daniel Prévost, Catherine Frot | <strong>UNTUK 18 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p><strong></strong>Setiap minggu, Pierre dan teman-temannya membuat apa yang disebut sebagai &#8220;Permainan Makan Malam&#8221;. Setiap orang harus membawa orang yang dianggap paling tolol sebagai tamu. Pierre berpikir bahwa jagoannya, François Pignon, akan bisa diajak ‘beraksi’.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/play-time.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-2573" title="Play Time" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/play-time.jpg?w=150&#038;h=113" alt="" width="150" height="113" /></a>Play Time </span></strong></span>(1967) | DVD | 155 menit | Prancis | Subteks Bahasa Inggris | Sutradara: Jacques Tati | Pemain: Jacques Tati, Barbara Dennek, Rita Maiden, France Rumilly, France Delahalle | <strong>UNTUK 15 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p><strong></strong>Monsieur Hulot harus menghubungi seorang pejabat Amerika di Paris, tapi ia tersesat karena labirin arsitektur modern yang penuh dengan <em>gadget</em> terbaru.Terperangkap dalam invasi turisme, Hulot menjelajah sekitar Paris dengan sekelompok turis Amerika, dan menyebabkan kekacauan.</p>
<h1><span style="color:#ff6600;"><strong>No to Violence Against Women</strong></span></h1>
<p>Memperingati Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Kineforum bekerja sama Peace Woman Across the Globe (PWAG) menyajikan program “No to Violence Against Women”. Program ini ingin memaparkan begitu banyaknya kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di Indonesia dari satu dekade yang lalu sampai sekarang belum ada perubahan banyak. Baik itu dalam ranah publik maupun ranah domestik. Banyak perempuan korban kekerasan belum bersuara. Program ini ingin memaparkan sebagian dari masalah, termasuk dua film terbaru dan diskusi bersama sutradara.<strong></strong></p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Program 1</span></strong></span><strong> | </strong><strong>UNTUK 15 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p><strong></strong><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/payung-hitam.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2574" title="Payung Hitam" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/payung-hitam.png?w=150&#038;h=88" alt="" width="150" height="88" /></a>Payung Hitam </span></strong></span>(2011) | DVD | Dokumenter | 30 menit | Indonesia | Sutradara: Chairun Nissa</p>
<p>Perjuangan dua tokoh perempuan,  Neneng (35<sup>th</sup>) salah satu  warga Rumpin yang tanah 1000 hektarnya,  diambil secara paksa oleh angkatan udara pada tahun 2007,  dan Ibu Sumarsih adalah orang tua Wawan (mahasiswa Atmajaya), korban penembakan ketika era reformasi, yang sampai sekarang belum di tindak lanjuti kasusnya. Mereka berdua bertemu di hari Kamis, di aksi diam. Di mana setiap hari Kamis para pejuang-pejuang dari berbagai macam kasus, dari era 65-sekarang selalu berdiri di depan istana, memegang payung hitam, membawa pesan-pesan para pejuang untuk di sampaikan ke Presiden.</p>
<p><em>Pemutaran tanggal 27 November 2011 pukul 14.15 akan dilanjutkan diskusi dengan sutradara.</em></p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/tuhanpadajam10m1.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-2575" title="TuhanPadaJam10M(1)" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/tuhanpadajam10m1.jpg?w=150&#038;h=84" alt="" width="150" height="84" /></a>Tuhan pada Jam 10 Malam </span></strong></span>(2011) | DVD | 45 menit | Indonesia | Sutradara: Ine Febriyanti | Pemain: Hanindawan soetikno, Non Karlina, Wulan Septikasari</p>
<p>Sebuah tragedi tentang pergulatan hitam dan putih. Proses sebuah tarik menarik antara nurani dan naluri yang berujung pada kekejian seorang guru moral terhadap Gadis , murid kesayangannya. Sebuah perdebatan tentang nilai-nilai yang dipercaya dalam masyarakat dalam sebuah kasus kekerasan.</p>
<p><em>Pemutaran tanggal 18 November 2011 pukul 14.15 akan dilanjutkan diskusi dengan sutradara.</em></p>
<p><em></em><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Program 2</span></strong></span><strong> | </strong><strong>UNTUK 15 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p><strong></strong><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Menguak Kekerasan dalam Rumah Tangga </span></strong></span>(2001) | VCD | 46 menit | Indonesia | Sutradara: Herri Ketaren Purba</p>
<p>Film ini bercerita tentang seorang perempuan yang dalam perkawinan pertamanya mengalami kekerasan demi kekerasan, akhirnya dia memutuskan bercerai. Pada perkawinan kedua dia berharap akan mendapatkan hidup yang lebih baik, teryata kekerasan yang dialaminya lebih berat lagi. Menyadarkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah persoalan sosial, bukan cuma persoalan individu.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Ketika Mata Jiwa Bicara </span></strong></span>(2002) | VCD | 74 menit | Indonesia | Sutradara: Herri Ketaren Purba</p>
<p>Film ini menggambarkan perjalanan hidp seorang korban perkosaan oleh ayah kandungnya (<em>incest</em>). Bagaimana perjuangan dia untuk keluar dari situasi yang sulit di mana tidak saja dia yang mengalaminya, tapi juga adiknya. Bagaimana dia bersama ibu dan adik-adiknya keluar dari rumah yang sarat dengan kekerasan. Serta upaya-upaya yang ditempuhnya dalam mencari keadilan.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Mollo di Timor </span></strong></span>(2007) | DVD | 10 menit | Indonesia | Sutradara: IGK Trisna dan Olin Monteiro</p>
<p>Masyarakat adat Mollo, di dataran pegunungan Mollo, Timor Tengah Selatan, NTT, telah menempuh hampir satu dekade memperjuangan hak tanah suci milik komunitas adat. Bagi mereka tanah mereka yang mengandung marmer ini adalah air susu ibu, sumber kehidupan masyarakat. Bila investor datang, melakukan kekerasan eksploitasi sumber daya alam, menancapkan mesinnya mengambil marmer, bagaimana ibu pertiwi mereka bisa melanjutkan hidupnya? Para ibu-ibu pemberani ini juga bercerita tentang hidup mereka dan masa depan Mollo.</p>
<h1><span style="color:#ff6600;"><strong>Jakarta Bienalle 2011: “Body”</strong></span></h1>
<p>Ketika <em>voyeurism</em> sudah menjadi bagian psikologis dari penghuni Jakarta, maka pencitraan akan tubuh menjadi bagian penting dalam kehidupan urban. Tubuh bukan lagi satu-satunya identitas bagi manusia kota, persepsi atasnya dan penerimaan akan tubuh tentunya sudah berkembang dan membentuk skema berpikir yang tentunya berbeda dari dekade-dekade sebelumnya. <em>Body</em> atau Tubuh memang menjadi salah satu dari beberapa diskursus besar yang diusung dalam perhelatan seni rupa Jakarta dua tahunan ini. Tubuh dengan segala pemaknaannya. Tubuh sebagai medium. Tubuh sebagai citra. Tubuh sebagai identitas. Tubuh sebagai rupa.</p>
<p>Programmer</p>
<p>Alex Sihar</p>
<p><em>Program ini juga akan diikuti diskusi mengenai Pemaknaan Tubuh dalam Medium Seni.</em></p>
<p><em></em><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/min-tanaka.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2576" title="Min Tanaka" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/min-tanaka.jpg?w=150&#038;h=99" alt="" width="150" height="99" /></a>Umihiko, Yamahiko, Maihiko</span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">: Min Tanaka Dance Road Indonesia</span></strong></span> | DVD | Dokumenter | 120 menit | Jepang | Sutradara: Katsumi Yutani | <strong>UNTUK 15 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p>Lahir tahun 1945 di Tokyo, Min Tanaka mempelajari ballet klasik dan tari modern. Tahun 1978, ia mendirikan Body Weather Laboratory. Dengan grupnya, Maijuku, ia berkeliling dunia untuk mencari jiwa universal tari. Alam, flora dan fauna dianggap sebagai poros proses kreatifnya dalam bidang tari. Tahun 2004, ia bepergian sendiri ke beberapa pulau di Indonesia yang pengalamannya menjadi dasar film ini.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">The Shorts: “Body” 1</span></strong></span><strong> | </strong><strong>UNTUK 15 TAHUN KE ATAS</strong><strong></strong></p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/meta-ekologi.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-2577" title="Meta Ekologi" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/meta-ekologi.jpg?w=150&#038;h=101" alt="" width="150" height="101" /></a>Meta Ekologi </span></strong></span>(1979) | DVD | Eksperimental | 15 menit | Indonesia | Sutradara: Gotot Prakosa</p>
<p>Sebuah film eksperimental berdasarkan pertunjukkan yang dikoreografikan oleh Sardono W. Kusumo. Sebuah upaya untuk masuk ke dalam dialog dengan ekologi bumi dan air. Penari membenamkan diri di sawah dan berjalan, tampak kusut satu sama lain, dan berlumur tekstur lumpur di tubuh mereka. Ekspresi kemanusiaan melalui sensasi tubuh menjadi serupa dengan proses penciptaan puisi.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Awirota </span></strong></span>(2007) | DVD | Eksperimental | 20 menit | Indonesia | Sutradara: Agni Ariatama</p>
<p>Seorang pemuda Awirota (nama Sang Awirota diambil dari cerita Nawaruci/Dewaruci saat Werkudoro/Bima keluar dari kuping Dewaruci) sedang mencari jati dirinya, terdorong oleh kondisi yang terjadi sekarang. Di dalam pertapaannya ia melihat seberkas cahaya yang menuntunnya ke dalam laut.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/dongeng-dari-dirah.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2578" title="Dongeng dari Dirah" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/dongeng-dari-dirah.jpg?w=112&#038;h=150" alt="" width="112" height="150" /></a>Dongeng dari Dirah (The Sorceress of Dirah) </span></strong></span>(1992) | DVD | Eksperimental | 45 menit | Indonesia | Sutradara: Sardono W. Kusumo &amp; Robert Chappel</p>
<p>Film ini merupakan adaptasi dari sebuah drama dengan judul sama, berdasarkan tari tradisional dan legenda Bali, dan telah dipentaskan berkali-kali selama bertahun-tahun. Ini kisa tentang kinerja penduduk desa dengan empat bagian mereferensikan mitos desa dan sebuah drama; ini mempercayakan masa depan untuk tradisi bahwa makhluk suci dan para pemuda menjaga keseimbangan di desa dan semakin jelas jika ada pertanda sebuah serangan di desa.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;">The Shorts: “Body” 2</span></strong></span><strong> | </strong><strong>UNTUK 15 TAHUN KE ATAS</strong></p>
<p><strong></strong><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/untuk-apa.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-2579" title="Untuk Apa" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/untuk-apa.jpg?w=150&#038;h=119" alt="" width="150" height="119" /></a>Untuk Apa? </span></strong></span>(2008) | Dokumenter | DVD | 25 menit | Indonesia | Subteks Bahasa Inggris | Sutradara: Muhammad Ichsan dan Iwan Setiawan</p>
<p>Di Indonesia, praktek sunat pada perempuan diterima secara luas oleh berbagai kalangan dengan alasan untuk “membersihkan” anak perempuan dari spirit setan yang akan mengarahkannya menjadi liar. Meski demikian, sampai sekarang masih banyak orang yang tidak sadar akan adanya praktek ini. Film ini membawa penonton pada semrawutnya kepercayaan dan konteks dibalik praktek sunat perempuan.</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/kembali-merajah-mentawai.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2580" title="Kembali Merajah Mentawai" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/kembali-merajah-mentawai.jpg?w=150&#038;h=84" alt="" width="150" height="84" /></a>Kembali Merajah Mentawai </span></strong></span>(2010) | Dokumenter | DVD | 30 menit | B. Mentawai | Subteks Bahasa Indonesia | Sutradara: Rahung Nasution</p>
<p>Aman Durga Sipatiti, seniman tato yang berbasis di Jakarta, mengunjungi tetua adat Mentawai Aman Lusin Kerei Sangaimang. Suatu upaya pendokumentasian <em>titi </em>atau tato Mentawai yang kini nyaris “punah” dan hanya tersisa di pulau Siberut.</p>
<h1><span style="color:#ff6600;"><strong>Festival Video Karya Anak</strong></span></h1>
<p><a href="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/img_9611.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2582" title="IMG_9611" src="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/img_9611.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Menyadari akan potensi kreasi anak dalam memanfaatkan multimedia, terutama filem video, maka berkaitan dengan ulang tahunnya yang ke 17 sekaligus dalam rangka Hari Anak Internasional, Sanggar Anak Akar bermaksud menyelenggarakan Festival Video Karya Anak. Tema kali ini adalah <em>“</em>Suara Anak untuk Dunia yang Lebih Baik<em>”. </em>Kegiatan ini bersifat terbuka untuk kalangan anak-anak dari berbagai komunitas atau lembaga.  Kegiatan ini dimaksudkan untuk memfasilitasi penyebaran ekspresi gagasan anak-anak yang sudah dikemas dengan menggunakan sarana multimedia, khususnya video. Di samping sebagai ruang ekspresi dan apresiasi, kegiatan ini juga dimaksudkan sebagai wahana komunikasi antar generasi; anak-anak dan orang dewasa.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kineforum.wordpress.com/2547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kineforum.wordpress.com/2547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kineforum.wordpress.com/2547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kineforum.wordpress.com/2547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kineforum.wordpress.com/2547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kineforum.wordpress.com/2547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kineforum.wordpress.com/2547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kineforum.wordpress.com/2547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kineforum.wordpress.com/2547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kineforum.wordpress.com/2547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kineforum.wordpress.com/2547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kineforum.wordpress.com/2547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kineforum.wordpress.com/2547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kineforum.wordpress.com/2547/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2547&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineforum.wordpress.com/2011/11/10/program-kineforum-november-2011-kinefilia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62d1fed73a9926a7935cdaa4b4dfdfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kineforum</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/coverbukukineforuma.jpg?w=199" medium="image">
			<media:title type="html">Kinefilia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/jlg.jpg?w=210" medium="image">
			<media:title type="html">JLG</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/le-dc3aener-de-cons.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Le dîner de cons</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/play-time.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Play Time</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/payung-hitam.png?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Payung Hitam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/tuhanpadajam10m1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">TuhanPadaJam10M(1)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/min-tanaka.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Min Tanaka</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/meta-ekologi.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Meta Ekologi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/dongeng-dari-dirah.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">Dongeng dari Dirah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/untuk-apa.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Untuk Apa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/kembali-merajah-mentawai.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Kembali Merajah Mentawai</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kineforum.files.wordpress.com/2011/11/img_9611.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_9611</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tiga Film Indonesia di Luang Prabang Film Festival 2011</title>
		<link>http://kineforum.wordpress.com/2011/10/16/tiga-film-indonesia-di-luang-prabang-film-festival-2011/</link>
		<comments>http://kineforum.wordpress.com/2011/10/16/tiga-film-indonesia-di-luang-prabang-film-festival-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Oct 2011 05:41:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kineforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineforum.wordpress.com/?p=2537</guid>
		<description><![CDATA[Luang Prabang Film Festival (LPFF) adalah festival film yang memutarkan film-film pilihan dari Asia Tenggara, bekerja sama dengan Departemen Sinema, Kementerian Informasi dan Budaya Laos. Dengan tagline &#8220;Celebrating Southeast Asian Cinema&#8221;,  festival ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2010 lalu, pada bulan Desember. Tahun ini, LPFF kembali diselenggarakan untuk kedua kalinya dan akan berlangsung pada tanggal 3-10 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2537&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Luang Prabang Film Festival (LPFF) adalah festival film yang memutarkan film-film pilihan dari Asia Tenggara, bekerja sama dengan Departemen Sinema, Kementerian Informasi dan Budaya Laos. Dengan <em>tagline &#8220;Celebrating Southeast Asian Cinema&#8221;</em>,  festival ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2010 lalu, pada bulan Desember. Tahun ini, LPFF kembali diselenggarakan untuk kedua kalinya dan akan berlangsung pada tanggal 3-10 Desember 2011, di Laos City.</p>
<p>Indonesia, yang diwakilkan Prima Rusdi sebagai Motion Picture Ambassador LPFF, kembali mengikutsertakan tiga film untuk diputar pada festival film ini: <span style="color:#ff6600;"><strong>3 Doa, 3 Cinta</strong></span> (3 Wishes, 3 Loves) (2008, Nurman Hakim), <strong><span style="color:#ff6600;">Konspirasi  Hening</span></strong> (Conspiracy of Silence) (2011, Ucu Agustin), dan <strong><span style="color:#ff6600;">Hip Hop Diningrat</span></strong> (2010, Muhammad Marzuki &amp; Chandra Hutagaol). Pada tahun sebelumnya, Indonesia juga berpartisipasi di LPFF lewat tiga film: The Photograph (2007), Pertaruhan (2008), dan Berbagi Suami (2006).</p>
<p>Tiga film Indonesia tadi juga akan diputar bersama dengan 23 film dari negara-negara Asia Tenggara lain (kecuali Brunei Darussalam). Untuk informasi lebih lengkap silakan kunjungi <a href="http://lpfilmfest.org/">www.lpfilmfest.org</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Line-Up Films</strong></p>
<p><strong>CAMBODIA</strong><br />
<em>Facing Genocide</em><br />
<em>Finding Face</em></p>
<p><strong>INDONESIA</strong><br />
<em>3 Wishes, 3 Loves</em><br />
<em>Conspiracy of Silence</em><br />
<em>Hip Hop Diningrat</em></p>
<p><strong>LAOS</strong><br />
<em>At the Horizon</em><br />
<em>Lao Wedding</em><br />
<em>On Safer Ground (Special Preview)</em></p>
<p><strong>MALAYSIA</strong><br />
<em>Aku Tak Bodoh</em><br />
<em>Khurafat</em><br />
<em>World Without Shadow</em><br />
<em>Year Without a Summer</em></p>
<p><strong>MYANMAR</strong><br />
<em>Hexagon</em></p>
<p><strong>PHILIPPINES</strong><br />
<em>Dagim<br />
Halaw (Ways of the Sea)</em><br />
<em>Senior Year</em><br />
<em>The Rapture of Fe</em></p>
<p><strong>SINGAPORE</strong><br />
<em>Gone Shopping</em><br />
<em>Invisible City<br />
Old Places</em></p>
<p><strong>THAILAND</strong><br />
<em>Lumpinee<br />
Panya-­Renu</em><br />
<em>Queens of Langkasuka</em><br />
<em>Tabunfire</em><br />
<em>Yaem</em> <em>Yasothon</em></p>
<p><strong>VIETNAM</strong><br />
<em>Floating Lives</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kineforum.wordpress.com/2537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kineforum.wordpress.com/2537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kineforum.wordpress.com/2537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kineforum.wordpress.com/2537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kineforum.wordpress.com/2537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kineforum.wordpress.com/2537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kineforum.wordpress.com/2537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kineforum.wordpress.com/2537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kineforum.wordpress.com/2537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kineforum.wordpress.com/2537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kineforum.wordpress.com/2537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kineforum.wordpress.com/2537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kineforum.wordpress.com/2537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kineforum.wordpress.com/2537/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kineforum.wordpress.com&amp;blog=991695&amp;post=2537&amp;subd=kineforum&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineforum.wordpress.com/2011/10/16/tiga-film-indonesia-di-luang-prabang-film-festival-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62d1fed73a9926a7935cdaa4b4dfdfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kineforum</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
