program lalu | past programs
Agustus 2009
Tentang Masa Muda, Kepercayaan dan Gerak Zaman
DOWNLOAD jadwal pemutaran Kineforum bulan Agustus’09 *pdf
Sampai hari kelima pembukaan Agustus tahun, kami masih berperan sebagai tuan rumah Q Film Festival yang ke-8. Setelah festival berakhir, kami menampilkan dua karya pertama dari dua orang sutradara. Program yang kami mulai sejak September 2007 ini mulai banyak diminati oleh para sutradara pemula dan dengan senang hati kami menyediakan ruang putar kami agar karya-karya pendatang baru ini bisa dinikmati penonton. Dalam minggu yang pertama ini kami juga menjadi tuan rumah bagi acara diskusi website kritik Rumah Film yang akan membahas dengan rinci Eliana, Eliana karya Riri Riza.
Sepanjang bulan ini juga, lewat karya-karya yang berbeda kami kembali memilih fokus dunia masa muda: dunia remaja dan anak-anak. Mungkin tidak banyak di antara kita yang tahu bahwa tanggal 12 Agustus ditetapkan sebagai Hari Pemuda Internasional. Dua film cerita dan satu film dokumenter dari Jerman memperkenalkan kita kepada dunia anak-anak yang kompleks dan penuh dengan pilihan-pilihan yang penting. Pada pertengahan dan akhir bulan, para remaja dari tiga SMU di Jakarta berkumpul untuk menyaksikan karya-karya yang mereka hasilkan dalam Tawuran Festival Film Pendek Pelajar 2009.
Pada program World Cinema Features bulan ini, kami menyajikan satu bagian khusus yang terdiri dari film-film dengan tema Islam hasil karya pembuat film Indonesia. Kedatangan bulan Ramadhan dan lingkungan sekitar kita yang masih dipenuhi kabar dan gosip soal bom bunuh diri membuat kami ingin mengajak melihat kembali agama Islam dalam masyarakat kita. Kami menyajikan satu judul dari dekade 1980-an dan judul-judul lain dari kurun 5-6 tahun lalu. Mari kita lihat bagaimana Islam dan masyarakat kita tumbuh bersama dan berubah. Bagian ini juga kami lengkapi dengan satu kompilasi film-film pendek tentang bagaimana orang-orang yang berbeda latar belakang memilih dan mengamalkan kepercayaan.
Selain itu kami juga memutarkan 2 judul film dari Cuba, pilihan Klub Kajian Film IKJ. Kalau disandingkan, dua film ini datang dari periode yang terpaut 40 tahun lamanya. Kita jarang sekali bisa menonton film dari Kuba, kali ini kita bahkan bisa melihat wajahnya kini dan dari masa lalu.
Selamat menonton dan berdiskusi di kineforum!
Q Film Festival
Pleasure Factory, 85 menit, DVD, B. Inggris, Mandarin, Tagalog, Cantonese / Subtitel B. Inggris. Sutradara: Ekachai Uengkrothai. UNTUK 21 TAHUN KE ATAS
Menceritakan dongeng para pencari kesenangan di are Geylang, yang dikenal sebagai red-light district di Singapura. Seorang lelaki yang kehilangan keperjakaannya, gadis kecil yang ’dipaksa’ dewasa dan pelacur tua yang ingin kembali ke masa lalu dengan membeli seorang pengamen.
Pusan International Film Festival, Montreal World Film Festival
3-Day Weekend (2007), 84 menit, DVD, B. Inggris. Sutradara: Rob Williams. UNTUK 17 TAHUN KE ATAS
Apa yang biasanya Anda lakukan tiap long weekend? Berlibur dengan pasangan sambil berusaha menyalakan kembali api cinta? Bagaimana bila ada bumbu cerita lain dan kehadiran orang ketiga? Apakah hubungan yang sudah lama terjalin bisa bertahan?
Philadelphia International Gay & Lesbian Film Festival
Flooding In The Time of Drought (2009), 92 menit, DVD, B Jepang, Korea, Mandarin, Thailand, Indonesia, Malaysia / Subtitel B. Inggris. Sutradara: Sherman Ong. UNTUK 17 TAHUN KE ATAS
Jakarta banjir, itu sudah biasa. Singapura banjir? Mungkin jadi tidak biasa karena dalam film yang menggabungkan teknik dokumenter dan fiksi ini, penuh dengan cerita manis para penduduk asing di tengah derasnya air yang mengalir.
Hong Kong International Film Festival
Girl Inside (2007), 70 menit, Subtitel B. Inggris. Sutradara : Maya Gallus. UNTUK 21 TAHUN KE ATAS
Mengikuti perjalanan Madison selama 3 tahun dalam mewujudkan impiannya untuk menjadi perempuan dan percakapan-percakapan unik dengan sang nenek. Sebuah eksploraso pencarian arti menjadi seorang perempuan sejati
Me… My Self (Koh Hai Rak Jong Jaroen), (2007), 117 menit, B Thailand / Subtitel B. Inggris. Sutradara: Pongpat Wachirabunjong. UNTUK 17 TAHUN KE ATAS
Segala sesuatu mulai dari perasaan, pikiran dan keputusan yang kita ambil adalah milik kita sesungguhnya. Film ini menunjukkan bahwa cinta, apapun bentuknya, tetap sesuatu yang berarti tanpa mempedulikan darimana asal kita atau siapapun yang kita cintai.
Soul Maid (2008), 95 menit, B. Inggris. Sutradara: Jeff Maccubbin, Jeffrey McHale, dan Mohr and Joe Steiff. UNTUK 17 TAHUN KE ATAS
Sebuah dongeng dunia modern yang romantis, lucu tak tertahankan dan juga politically incorrect, yang terinspirasi dari kisah Si Putri Tidur. Tentang pahlawan yang ‘penyakitan’, seorang dewi yang tak biasa, seorang kekasih dan seorang pendeta.
The Age of Innocence (1993), 139 menit, B. Inggris. Sutradara: Martin Scorsese. UNTUK 17 TAHUN KE ATAS
Newland Archer bertunangan dengan May Welland. Namun kehadiran Countess Olenska memberikan warna baru tersendiri dalam hidupnya. Sebuah kisah cinta yang menggugah dan memberi arti baru pada kata ‘perselingkuhan’. Film ini terpilih secara khusus dalam Q!FilmFestival 2009 sebagai bagian dari section fashionably queer.
The Fifth Element (1997), 126 menit, B. Inggris. Sutradara: Luc Besson. UNTUK 17 TAHUN KE ATAS
Konon setiap lima tahun sekali, seorang ‘Penjahat Nomor Satu’ akan muncul ke permukaan bumi dan berusaha menghancurkan kehidupan. Namun Mondoshawan, seekor alien, kembali ke masa lalu untuk membinasakan senjata yang bisa mengancam kehidupan ‘Penjahat Nomor
Satu’.
Ima Vep (1997), 99 menit, B. Inggris. Sutradara: Olivier Assayas. UNTUK 17 TAHUN KE ATAS
Bercerita tentang kehidupan seorang sutradara René Vidal (Jean-Pierre Léaud) yang membuat re-make film bisu klasik Les Vampires. Maggie Cheung berperan sebagai dirinya sendiri, dimana ia ikut casting sebagai Irma Vep. Namun di saat bersamaan Maggie Cheung bertemu dengan Zoe (Nathalie Richard), penjahat licik yang menyamar sebagai Irma Vep untuk merampok.
HOME MADE :
Kuda Laut (2009), 25 menit, B. Indonesia. Sutradara: Shalahuddin Siregar. UNTUK 21 TAHUN KE ATAS
Kuda Laut adalah sebuah cerita tentang bagaimana dua orang harus berhadapan dengan konstruksi masyarakat tentang orientasi seksual dan pernikahan dan harus menyerah pada konstruksi itu.
Nolelty Lead (2009) 57 menit, B. Indonesia / Subtitel B. Inggris. Sutradara: Hernandes Saranella. UNTUK 17 TAHUN KE ATAS
Setelah sering beradu pendapat dengan ayahnya, Sena memutuskan untuk meninggalkan keluarganya dan mewujudkan impiannya untuk menjadi seorang waria dan manusia sesungguhnya. Demi membeli rumah baru, dia pun memulai bab baru kehidupannya dengan bekerja di sebuah salon.
Scent (2009), 5 menit, B. Inggris. Sutradara: David Maurice Gill. UNTUK 17 TAHUN KE ATAS
Kisah seorang lelaki yang memberikan perhatian penuh pada segala macam aroma yang tersebar di setiap sudut kota dan berharap membawanya kembali pada kenangan akan aroma tubuh kekasihnya yang hilang.
San Fransico LGBT, OutFest
Marie! (2004), 8 menit, B. Indonesia. Sutradara: Lucky Kuswandi. UNTUK 17 TAHUN KE ATAS
Seorang perempuan eksentrik bernama Marie membutuhkan seorang lelaki pujaan dan selalu membayangkan kehidupannya di masa depan dengan lelaki tersebut, tanpa bertindak apapun. Namun di satu hari, dia harus memutuskan untuk berhadapan dengan kenyataan atau tetap tinggal mengejar impian.
10 minute Short Film festival Taiwan 2005
World Cinema Features
Las aventuras de Juan Quin Quin (1967), Komedi, DVD, 113 menit, Hitam-Putih, B. Spanyol / Subtitel B. Inggris. Sutradara : Julio García Espinosa. Pemain : Julio Martines, Erdwin Fernandez, Adelaida Raymat, dan Enrique Santiesteban. UNTUK 15 TAHUN KE ATAS
Ini adalah cerita jenaka tentang Juan Quin Quin, seorang petani miskin yang hidup di Kuba pada masa pra-revolusi. Meski demikian, ia juga bekerja di sirkus, petarung banteng, dan bahkan berperan sebagai Kristus dalam kelompok teater keliling. Ia kemudian bergabung dengan revolusi.
Paginas del diario de Mauricio (2006), Drama, DVD, 135 menit, B. Spanyol / Subtitel B. Inggris. Sutradara: Manuel Pérez Paredes. Pemain: Blanca Rosa Blanco, Carlos Enrique Almirante dan Enrique Molina. UNTUK 18 TAHUN KE ATAS
Havana, suatu hari di bulan September 2000. Pertandingan Olimpiade akan dilaksanakan di Sidney. Mauricio berulang tahun yang ke-60. Seorang laki-laki, sendiri dan patah hati karena kematian istrinya yang tiba-tiba. Cerita disampaikan sebagai serangkaian masa lalu. Dua belas tahun terakhir kehidupannya. Dimensi individual dikombinasikan dengan konteks sosial Kuba di akhir abad 20. Sebuah dekade yang ditandai dengan perubahan sosial, politik dan ekonomi yang melahirkan etik dan dasar bagi kelahiran generasi baru, generasi yang memasuki milenium baru di Kuba.
Mondscheinkinder (Children of the Moon) (2006), Drama, 87 menit, DVD, B. Jerman / Subtitel B. Indonesia. Sutradara: Manuela Stacke. Pemain: Leonie Krahl, Lucas Calmus, Lucas Hardt, dan Walter Kreye. UNTUK 12 TAHUN KE ATAS
Paul ingin sekali menjadi seorang astronot. Hal tersebut merupakan salah satu permainan kesukaannya. Kakak perempuan paul, Lisa selalu menjadi assistant di luar angkasa dalam setiap permainan. Lisa bertemu dengan Simon yang juga ikut bermain dengannya. Tetapi ketika kesehatan paul tidak baik, mereka membutuhkan pertolongan paul dalam melanjutkan permainan tersebut.
Kroko (2003), Drama, 92 menit, DVD, B. Jerman / Subtitel B. Inggris. Sutradara: Sylke Enders. Pemain: Franziska Junger, Alexander Lange, Hinnerk Schonemann, dan Danilo Bauer. UNTUK 15 TAHUN KE ATAS
Julia gadis berumur 16 tahun, dia memanggil dirinya dengan sebutan Kroko. Hidupnya bergantung dari teman-teman, dari mengunjungi diskotik lokal, dan terkadang melakukan perampokan bersama teman-temannya. Dirumah, Kroko meneror ibunya dengan beberapa kebodohannya. Kroko berusaha untuk keluar dari pola kehidupannya yang sekarang yang sering mengkonsumsi alkohol, dan kebodohan ibunya dalam mengatasi kedua anaknya.
ISLAM INDONESIA : DULU dan SEKARANG
Perempuan Berkalung Sorban (2009), Drama, 135 menit , 35mm, B. Indonesia. Sutradara: Hanung Bramantyo. Pemain : Revalina S Temat, Joshua Pandelaki, Widyawati, dan Oka Antara. UNTUK 15 TAHUN KE ATAS
Sebuah kisah pengorban anak seorang anak kyai Salafiah, Anissa. Seorang perempuan dengan pendirian kuat, cantik dan cerdas. Anissa hidup dalam lingkungan keluarga kyai di pesantren Salafiah putri Al Huda, Jawa Timur yang konservatif. Baginya ilmu sejati dan benar hanyalah Qur’an, Hadist dan Sunnah. Dalam pesantren Salafiah putri Al Huda diajarkan bagaimana menjadi seorang perempuan muslim dimana pelajaran itu membuat Anissa beranggapan bahwa Islam membela laki-laki, perempuan sangat lemah dan tidak seimbang.
Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982),Drama, DVD, B. Indonesia. Sutradara: Chaerul Umam. Pemain: Dewi Irawan, El Manik, Soultan Saladin, dan Rachmat Hidayat UNTUK 15 TAHUN KE ATAS
Seorang guru muda mencoba menentang cara berpikir dan sistem pendidikan kolot. Tantangan datang dari guru lama, juga dari godaan istri guru itu yang menebar memfitnahnya.
3 Doa 3 Cinta (2008), Drama, 114 menit, 35mm, B. Indonesia. Sutradara: Nurman Hakim, pemain: Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Jajang C Noer, dan Butet Kertaradjasa. UNTUK 15 TAHUN KE ATAS
Ini cerita tentang tiga sahabat, Huda, Rian dan Syahid, tiga remaja yang tinggal di pesantren di sebuah kota kecil yang terletak di daerah Jawa Tengah. Mereka punya rencana dalam hidup mereka masing-masing setelah lulus dari pesantren dan SMA sebulan lagi. Mereka memiliki sebuah lokasi rahasia, sebuah dinding tua di belakang pesantren, di mana mereka menulis harapan-harapan mereka di dinding. Hingga sebuah situasi merubah hidup mereka.
Film ini hanya diputar satu kali pada 15 Agustus 2009, 19.30.
AKU ANAK SALEH (UNTUK SEMUA UMUR)
Salat Yuk, DVD, Drama, 30 menit. Sutradara: Adha Muawiah, pemain: Neno Warisman, Muchtar Sum, Fanny Sam, dan Irwan
Anak sejak dini. Berisi film dan peragaan salat, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pengajaran di sekolah-sekolah dasar dan taman kanak-kanak.
Saum, Drama, DVD, 8 menit. Sutradara: Hadrah Daeng Ratu
Tentang anak 8 tahun bernama Ale yang pertama kali belajar puasa. Siang hari teman-teman sebayanya mendatangi Ale sambil makan es krim. Ale yang polos, harus mempertahankan puasanya
Buku Telpon (2003),Drama, 5menit, DVD. Sutradara: Danial Rifki, pemain: Yusuf, Wulan, dan Alan
Tiga murid SD menceritakan pengalaman paling membahagiakan dalam hidup mereka
Anak-anak Lumpur (2009), Drama, 20 menit, DVD. Sutradara: Danial Rifki, pemain: Aflachul Mukmin, Iswatul Yatima, dan Lukmanul Hakim
Kisah tentang anak-anak korban lumpur panas Lapindo, yang berjuang mempertahankan “harta” yang masih tersisa dalam hidup mereka
Aku Sayang Markus (2007), 10 menit, DVD. Sutradara: Danial Rifki, pemain: Alyssa P. Ashari, dan Jonathan Momogim
Markus menderita HIV sejak lahir. Teman dan tetangga menolak kehadirannya. Bahkan sekolah dengan sengaja mengeluarkannya. Hanya Ajeng, seorang teman sebaya, yang bisa menyayangi dia dengan tulus
First Timer
Di Atas Kanvas Cinta (2009), Drama, 95 menit, B. Indonesia. Sutradara: Damien Dematra, pemain: Syahnagra, dan Keke Ansory.
HTM Rp 10,000,-
Seorang pelukis senior, Syahnagra mengalami kebuntuan dalam berkreasi dan menyewa model muda cantik. Ternyata ia menemukan bukan hanya kreatifitasnya kembali, namun juga sebuah kepelikan cinta yang membelit sanubarinya. Cinta yang melampaui segala batas yang kemudian bermain dengan ironi.
cin(T)a (2009), Drama, 79 menit, B. Indonesia / Subtitel B. Inggris. Sutradara: Sammaria Simanjutak, pemain: Sunny Soon, dan Saira Jihan –KHUSUS UNTUK UNDANGAN-
Cina dan Annisa mencintai Tuhan, dan Tuhan mencintai mereka berdua. Tetapu Cina dan Annisa tidak bisa saling mencintai karena mereka berdua memanggil nama Tuhan dengan nama yang berbeda.
Diskusi bersama Rumah Film
Eliana-eliana (2002), Drama, 83 menit, 35mm. Sutradara: Riri Riza. Pemain: Jajang C. Noer, Rachel Maryam, Henidar Amroe, dan Marcela Zaliyanty.
Eliana adalah seorang wanita muda yang hubungannya tidak akur dengan ibunya sejak Eliana menyakiti sekaligus mempermalukan perasaan ibunya saat Eliana kabur ke Jakarta pada hari pernikahannya lima tahun silam. Ketika dia pulang ke rumah setelah kehilangan pekerjaannya, tiba-tiba dia menemukan ibunya sudah ada di rumah kontrakannya. Pada saat yang bersamaan mereka menyadari bahwa teman sekontrakan Eliana, Heni telah menghilang.
Diskusi bersama : Ekky Imanjaya
Moderator : Hikmat Darmawan (editor rumahfilm.org)
World Documentary
The Villa, Dokumenter, DVD, 83 menit, B. Jerman/Subtitel B. Inggris. Sutradara: Calle Overweg. UNTUK 12 TAHUN KE ATAS
The Villa adalah asrama anak-anak yang tidak lagi tinggal bersama orangtua mereka. Saat masuk ke asrama, mereka harus menyesuaikan diri dengan suatu keluarga besar yang baru. Seperti juga saudara, ada ketegangan dan perkelahian di antara mereka. Calle Overweg membuat film ini bersama dengan beberapa anak yang tinggal di The Villa
CROSSROAD (UNTUK 15 TAHUN KE ATAS)
School Swap – The Islamic School (2003), dokumenter, DVD, 15 menit, B. Belanda / Subtitel B. Inggris. Sutradara: Ingeborg Jansen.
Asha belajar di sekolah umum. Dia mencoba belajar di sekolah Islam selama satu minggu. Dia tadinya mengira semua anak perempuan menutup rambutnya. Tapi ternyata mereka punya pilihan yang berbeda-beda. Asha belajar dari Raheema cara memakai kerudung, dan Asha mengajari Raheema cara memanjat pohon.
Kala Lereina (2008) 14 menit, DVD. Sutradara: Kukuh Yudha Karnanta dan Kuncoro Indra.
Lereina dibesarkan dalam keluarga dengan dua kultur yang berbeda, Jawa dan Yahudi. Kedua orangtuanya juga memeluk keyakinan yang berbeda. Ayahnya yang keturunan Jawa beragama Islam, sedangkan ibunya beragama Kristen. Perbedaan ini sempat membuat Lereina bingung, namun kini ia telah menetapkan pilihannya
Indonesia Bukan Negara Islam (2009) 10 menit, DVD. Sutradara: Jason Iskandar.
Sharing dua orang siswa SMA beragama Islam yang bersekolah di sekolah Katolik tentang kebhinekaan dan keberagaman di Indonesia. Divisualisasikan dengan foto-foto hitam putih tanpa video.
Entah… (Confused) (2006) 6 menit, DVD. Sutradara: Sherin.
Sherin, remaja berdarah campuran China dan India. Sang Ayah yang berdarah China memeluk agama Budha dan Sang Ibu memeluk agama Hindu, Sherin sendiri bersekolah di sekolah Katholik. Sherin bingung untuk menentukan yang mana yang akan dia pegang sebagai keyakinannya.
Kulo Ndiko Sami (I am The Same as You Are) (2005), 18 menit, DVD, B. Indonesia. Sutradara: Gunritno, Moh Sobirin, dan Rabernir.
Film ini bercerita tentang komunitas Sikep atau Samin di wilayah Pati dan sekitarnya, dalam mempertahankan tradisi yang mereka miliki di tengah modernisasi jaman. Mereka menolak kebijakan yang melarang mereka mengisi kolom agama di KTP dengan “Adam”, suatu hal yang menimbulkan persoalan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Tawuran (UNTUK 15 TAHUN KE ATAS)
Pemutaran Hasil Workshop Tawuran Festival Film Pendek Pelajar 2009
(15-16 Agustus 2009)
TAWURAN FESTIVAL FILM PENDEK PELAJAR 2009
(28-29 Agustus 2009)
Kata “tawuran” identik dengan kekerasan yang dilakukan “keroyokan” antar kelompok anak SMA. Melalui festival ini, Yayasan Konfiden mengajak teman-teman pelajar untuk tetap “keroyokan” menyampaikan gagasan lewat film pendek. Festival tingkat pelajar ini dimulai dengan workshop produksi film pendek, yang hasilnya akan bersaing bersama film pendek lain yang ikut serta dalam kompetisi nasional. Kegiatan yang ada dalam festival ini adalah pemutaran film pendek yang lolos seleksi dalam kompetisi, dan diskusi mengenai penggunaan audio visual dalam kelas.
Selamat mengikuti dan melebur dalam dunia film pendek pelajar Indonesia!
Agustus 2008
Pertemuan yang (Lebih) Sebentar
Juli 2008
Liburan di kineforum yuk!
Juni 2008
Bagaimana Rasanya…??
Mei 2008
April 2008
Perempuan, Perdamaian
Maret 2008
Sejarah adalah Sekarang
Februari 2008
Yang Terbaik Dari Eropa
Januari 2008
Impian/dreams
Desember 2007
Jelang Jiffest 2007
November 2007
Kedatangan
Oktober 2007
Playing Between Elephants
Diskusi: Undang Undang perfilman dan keberadaan Lembaga Sensor Film
Pembicara: Ibu Budiati Abi Yoga (mantan anggota BP2N & Prasidi Group), Tito Imanda (sineas perfilman), Abduh Azis (ketua bidang program DKJ)
THINK ACT CHANGE 2007
Courts-Circuit & World Comedy
1 9 6 5
Pembicara: Farishad Latjuba (Sutradara Klayaban), Riri Riza (Sutradara GIE), Ginatri S Noer (Penulis Skenario Lentera Merah), Nan T Achnas (Sutradara Pasir Berbisik), Jajang C Noer (Pemeran Djakarta 66)
September 2007
A Tribute to Michelangelo Antonioni
(Maybe) Losing My Religion
Looking Back
Agustus 2007
Menolak Hilang Ingatan!
Komedi, Sepakbola dan (Tentang) Kota
Kita menjelang musim liburan dalam bulan Juni ini. Suasana Jakarta menjadi lebih riang, terutama juga karena kota ini menyambut hari jadinya yang ke – 478. Kamipun ikut menawarkan perayaan, tentu bukan tanpa catatan, bersama film-film dari berbagai genre yang berkomentar tentang kehidupan kota. Bukan hanya soal Jakarta, kita juga akan melihat bagaimana para pembuat film bercerita dan bersikap tentang kota. Dari Jakarta, Jogjakarta dan Berlin, para seniman dan pembuat film menyuarakan pengalaman mereka tentang kehidupan (dan tentang kematian) di kotanya masing-masing.
Di kineforum juga ada suasana berbeda buat musim perayaan ini dan kami menawarkan dua hal yang sudah menjadi bahasa universal dunia: komedi dan sepakbola. Kami ajak Anda berakhir minggu bersama film-film Warkop DKI di layar lebar dan menyaksikan seorang anak muda Jerman yang terobsesi membuat film kung fu. Pemutaran film-film Warkop DKI juga akan dihadiri oleh Indro Warkop yang akan berbagi cerita tentang salah satu kelompok lawak paling legendaris di Indonesia ini. Bagi para penutur bahasa sepakbola, kami ajak Anda memahami kecintaan para JakMania terhadap sepakbola, nostalgia para penggemar sepakbola di sebuah warung di Brazil dan cerita kemenangan dua klub sepakbola perempuan dari dua belahan dunia.
Perayaan berlanjut, bukan hanya kota yang merayakan hari jadinya, juga organisasi bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Kita akan kedatangan film-film cerita dari bangsa serumpun, yang jarang sekali mampir ke layar bioskop kita.
Terakhir, kami menawarkan pengalaman nonton film horor karya Dario Argento, sang master film horor dan detektif dari Italia.
Selamat menonton dan berdiskusi di kineforum!
Sinopsis
Tentang Kota
Jakarta 1 kata (2004), 4 menit, dokumenter. Sutradara: Tasya P. Maulana.
Sutradara film ini berjalan seputar kota, menemui warganya dan minta pernyataan mereka tentang Jakarta, dalam 1 kata.
Kompilasi karya video City2City
City2City adalah proyek inisiatif LOWave (Prancis-Jerman),LIP dan Kinoki, sepanjang bulan Januari – Februari 2007 silam, mengajak setiap individu untuk mengalami kotanya masing-masing. Wajah kota seperti apa yang akan dilestarikan dan dikembangkan pada tahun-tahun mendatang?
Urban Guerillas (2003), 81 menit, (bahasa Jerman dengan subtitel Inggris). Pemain: Felix Kasper Kalypso, Ilke Uener, Idil Uener, Neco Celik, Ingeborg Westphal, Serpil Turhan, Sofia Bavas. Sutradara: Neco Celik.
Ini soal dunia hip hop, persahabatan yang tanpa batas dan tak kenal tabu, saat mereka juga ditantang untuk menjadi diri sendiri. Para rapper, DJ, breakdancer dan seniman graffiti dari dunia hip hop sendirilah yang menciptakan dan bercerita soal dunia mereka.
Pemenang Penghargaan Penonton Festival Film Nuremberg, Jerman (2004).
Screen Docs
Diskusi : Rabu, 13 Juni 2007
Pembicara : Ucu Agustin (sutradara film Death in Jakarta), Vero (produser film Death in Jakarta)
Sofyan (WALHI)
![]()
Death in Jakarta (2006), 28 menit, dokumenter. Sutradara: Ucu Agustin.
Kematian adalah hal yang unik di Jakarta, karena bukanlah perkara yang gampang untuk mati di sini.Pemenang Kompetisi Naskah, kategori Dokumenter Pendek pada Festival Film International Jakarta 2005.
The First Step (2006), 30 menit, dokumenter. Sutradara: Aryo Danusiri dan IGK Trisna Permana.
Konflik antar suku yang terjadi di Sambas, Kalimantan Barat, 1999, meninggalkan trauma yang mendalam bagi sebagian besar imigran di sana. Beberapa wanita Madura berusaha membangun kembali hubungan dengan orang-orang Melayu di Sambas. Namun sampai saat ini, langkah pertama menuju perdamaian masih terasa berat untuk ditempuh.
Comedies
Kebab Connection (2004), 96 menit, (bahasa Jerman dengan subtitel Inggris). Pemain: Nora Tschirner, Denis Moschitto, Gueven Kirac, Hasan Ali Mete, Sibel Kekilli, Adnan Maral. Sutradara: Anno Saul.Tak ada seorangpun yang menganggap serius Ibo alias Ibrahim (Moschitto). Ia terobsesi menyutradarai film kung fu Jerman pertama. Trailer filmnya membuat Ibo mulai terkenal tapi jalan memang tak selalu mulus…
Pemenang Audience Award Festival Film Llubljana, Slovenia (2005), nomine German Camera Award 2005 untuk Film Terbaik dan Editing Terbaik.
Retrospektif Warkop DKI
Mana Bisa Tahan (1990), 85 menit. Pemain : Warkop DKI ( Dono, Kasino, Indro) Sally Marcelina, Nurul Arifin, Pitrajaya Burnama, Zainal Abidin. Sutradara: Arizal.
Dono mempunyai dua orang pacar yaitu Windy dan Cindy sehingga sering sukar mengatur pertemuan dan sering salah paham. Kasino dan Indro iri hingga membuat berpacaran Dono berantakan dengan menjelek-jelekan Dono.Bisa Naik Bisa Turun (1991), 85 Menit. Pemain : Warkop DKI ( Dono, Kasino, Indro), Kiki Fatmala, Fortunella, Gitty Srinita, Tile, Ineke Koesherawati, Diding, Boneg. Sutradara: Arizal.
Warkop belajar jadi Satpam yang ternyata dikomandani oleh seorang pasein rumah sakit jiwa. Lalu mereka bekerja disebuah perusahaan yang menjadi seorang wanita, karena perusahaan membutuhkan seorang pekerja wanita.
Film terlaris I di Jakarta tahun 1992 menurut data Perfin.
Bebas Aturan Main (1993), 85 Menit. Pemain: Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro), Diah Permatasari, Gitty Srinita, Lela Anggraini. Sutradara: Tjut Djalil.
Dono, Kasino, dan Indro yang kehilangan celana ketika sama-sama sedang buang air besar di WC umum ditempat hiburan. Dono mengambil celana bapak yang ada disebelahnya dan ternyata bapak tersebut pacar dari Dono, Kasino, dan Indro.
Film terlaris I di Jakarta tahun 1994 menurut data Perfin.
Bagi Bagi Dong (1993), 86 menit. Pemain: Warkop DKI ( Dono, Kasino, Indro), Kiki Fatmala, Diana Lidya Khan, Emri Margono, Diding, Boneg. Sutaradara: Tjut Djalil.
Dono yang tinggal dengan kedua sahabatnya dan pacarnya masing-masing sering iri karena belum punya pacar. Maka dia pergi ke sebuah dukun dan diberi tikus. Di rumah tikus tersebut terlepas dan membuat takut pacar-pacarnya.
Sepak Bola
Boleiros (1998), 93 menit. Sutradara: Urgo Giorgetti.Enam episode dokumentasi kehidupan para mantan bintang sepak bola Brazil yang sudah menua. Enam orang tua berkumpul di suatu café di Sao Paulo dan bercerita mengenai masa lalu. Cerita yang timbul bisa lucu, penuh nostalgia dan sedikit melankolis.
Im Vorwärtsgang (2005), 13 menit. Sutradara: Peter Behle.
Sepakbola wanita lebih populer dan berkembang di daerah Jerman Timur dibandingkan dengan di Jerman Barat. Ketika Jerman bersatu mereka memiliki kesebelasan sepakbola wanita yang tangguh. Suatu catatan perkembangan sepakbola wanita di Jerman sejak 1970.
Adelante Muchachas (2004), 60 menit. Sutradara: Erika Harzer dan Kalle Stayman.Seydi dan Wendy dari kesebelasan Compartir. Cristel dan Kenia dari kesebelasan Motagua. Compartir ialah kesebelasan anak jalanan sedangkan Motagua kesebelasan putri-putri anak orang kaya. Di lapangan yang berdebu bertemulah dua dunia yang biasanya tak saling sapa, dipersatukan oleh kecintaan pada sepakbola. Mereka punya satu persamaan: merasa disepelekan oleh kesebelasan sepakbola lelaki dan oleh Perkumpulan Sepakbola Nasional.
The Jak (2007), 75 menit. Sutradara: Andibachtiar Yusuf & Amir PohanJakarta, ibukota Indonesia dengan penduduk 15 juta jiwa, ratusan suku dan ribuan bahasa, tapi satu hal menyatukan mereka semua… SEPAKBOLA!!!
CinemASEAN
Pada tahun 2007, ASEAN merayakan ulang tahunnya yang ke-40. Berbagai perayaan diadakan oleh seluruh negara anggota ASEAN, baik di tingkat nasional maupun regional. CinemASEAN adalah salah satu acara yang dicanangkan oleh Indonesia. Acara tersebut mencoba menampilkan film-film kontemporer ASEAN, yang biasanya sulit ditonton di bioskop-bioskop Indonesia.
Melalui CinemASEAN, kami berharap dapat meningkatkan apresiasi publik terhadap kekayaan warisan budaya Asia Tenggara, membangkitkan kesadaran ASEAN dan menumbuhkan perasaan “ke-kita-an” di antara bangsa-bangsa Asia Tenggara.
ASEAN adalah sebuah organisasi regional yang terdiri dari Brunei, Kamboja, Indonesia, Lao, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam. Pemimpin-pemimpin ASEAN sepakat untuk membentuk ASEAN Community pada 2015 berlandaskan tiga pilar yaitu Masyarakat Keamanan, Ekonomi dan Sosio-Kultural ASEAN. CinemASEAN juga akan diadakan di Yogyakarta (2 – 5 Juli 2007).
Katanho (2002), 113 menit. Dibintangi Ly Chan Siha. Sutradara: Tith Thearith.Ibunya seorang penjual kayu bakar, ayahnya seorang pekerja bangunan. Di rumah beratap rumbia, Molika juga tinggal dengan neneknya yang buta. Ketika ayahnya meninggal karena kecelakaan dan ibunya jatuh sakit, Molika yang baru berumur 13 tahun tabah berjuang untuk menghidupi keluarganya sambil sekolah. Sampai suatu hari gurunya memberi tugas khusus….
Pemenang Film Terbaik pada Penghargaan Nasional Kamboja 2006.
Donsol (2006), 105 menit. Dibintangi Angel Aquino, Sid Lucero, Bembol Roco, Simon Ibarra, Kenneth Ocampo, Aaron Junatas, Mark Gil. Sutradara: Adolfo Alix, Jr.Cinta adalah samudera emosi. Ikan hiu paus, mahluk memukau dari laut dalam, singgah di laut biru sekitar Donsol sekali setahun. Daniel, yang gemar berenang dengan hiu paus, jatuh hati kepada Teresa, jelita dan semisterius tamu tahunan dari laut itu. Dihantui kegetiran cinta masa lalu dan masa depan yang tak menentu, keduanya menemukan cinta.
Pemenang Film Cerita Berbiaya Rendah Terbaik pada Festival Film Internasional Fort Lauerdale, AS (2006).
The First Step (2006), 30 menit, dokumenter. Sutradara: Aryo Danusiri dan IGK Trisna Permana.
Konflik antar suku yang terjadi di Sambas, Kalimantan Barat, 1999, meninggalkan trauma yang mendalam bagi sebagian besar imigran di sana. Beberapa wanita Madura berusaha membangun kembali hubungan dengan orang-orang Melayu di Sambas. Namun sampai saat ini, langkah pertama menuju perdamaian masih terasa berat untuk ditempuh.
Comedies
![]()
Kebab Connection (2004), 96 menit, (bahasa Jerman dengan subtitel Inggris). Pemain: Nora Tschirner, Denis Moschitto, Gueven Kirac, Hasan Ali Mete, Sibel Kekilli, Adnan Maral. Sutradara: Anno Saul.
Tak ada seorangpun yang menganggap serius Ibo alias Ibrahim (Moschitto). Ia terobsesi menyutradarai film kung fu Jerman pertama. Trailer filmnya membuat Ibo mulai terkenal tapi jalan memang tak selalu mulus…
Pemenang Audience Award Festival Film Llubljana, Slovenia (2005), nomine German Camera Award 2005 untuk Film Terbaik dan Editing Terbaik.
Retrospektif Warkop DKI
![]()
Mana Bisa Tahan (1990), 85 menit. Pemain : Warkop DKI ( Dono, Kasino, Indro) Sally Marcelina, Nurul Arifin, Pitrajaya Burnama, Zainal Abidin. Sutradara: Arizal.
Dono mempunyai dua orang pacar yaitu Windy dan Cindy sehingga sering sukar mengatur pertemuan dan sering salah paham. Kasino dan Indro iri hingga membuat berpacaran Dono berantakan dengan menjelek-jelekan Dono.
Bisa Naik Bisa Turun (1991), 85 Menit. Pemain : Warkop DKI ( Dono, Kasino, Indro), Kiki Fatmala, Fortunella, Gitty Srinita, Tile, Ineke Koesherawati, Diding, Boneg. Sutradara: Arizal.
Warkop belajar jadi Satpam yang ternyata dikomandani oleh seorang pasein rumah sakit jiwa. Lalu mereka bekerja disebuah perusahaan yang menjadi seorang wanita, karena perusahaan membutuhkan seorang pekerja wanita.
Film terlaris I di Jakarta tahun 1992 menurut data Perfin.
Bebas Aturan Main (1993), 85 Menit. Pemain: Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro), Diah Permatasari, Gitty Srinita, Lela Anggraini. Sutradara: Tjut Djalil.
Dono, Kasino, dan Indro yang kehilangan celana ketika sama-sama sedang buang air besar di WC umum ditempat hiburan. Dono mengambil celana bapak yang ada disebelahnya dan ternyata bapak tersebut pacar dari Dono, Kasino, dan Indro.
Film terlaris I di Jakarta tahun 1994 menurut data Perfin.
Bagi Bagi Dong (1993), 86 menit. Pemain: Warkop DKI ( Dono, Kasino, Indro), Kiki Fatmala, Diana Lidya Khan, Emri Margono, Diding, Boneg. Sutaradara: Tjut Djalil.
Dono yang tinggal dengan kedua sahabatnya dan pacarnya masing-masing sering iri karena belum punya pacar. Maka dia pergi ke sebuah dukun dan diberi tikus. Di rumah tikus tersebut terlepas dan membuat takut pacar-pacarnya.
Sepak Bola
![]()
Boleiros (1998), 93 menit. Sutradara: Urgo Giorgetti.
Enam episode dokumentasi kehidupan para mantan bintang sepak bola Brazil yang sudah menua. Enam orang tua berkumpul di suatu café di Sao Paulo dan bercerita mengenai masa lalu. Cerita yang timbul bisa lucu, penuh nostalgia dan sedikit melankolis.
Im Vorwärtsgang (2005), 13 menit. Sutradara: Peter Behle.
Sepakbola wanita lebih populer dan berkembang di daerah Jerman Timur dibandingkan dengan di Jerman Barat. Ketika Jerman bersatu mereka memiliki kesebelasan sepakbola wanita yang tangguh. Suatu catatan perkembangan sepakbola wanita di Jerman sejak 1970.
![]()
Adelante Muchachas (2004), 60 menit. Sutradara: Erika Harzer dan Kalle Stayman.
Seydi dan Wendy dari kesebelasan Compartir. Cristel dan Kenia dari kesebelasan Motagua. Compartir ialah kesebelasan anak jalanan sedangkan Motagua kesebelasan putri-putri anak orang kaya. Di lapangan yang berdebu bertemulah dua dunia yang biasanya tak saling sapa, dipersatukan oleh kecintaan pada sepakbola. Mereka punya satu persamaan: merasa disepelekan oleh kesebelasan sepakbola lelaki dan oleh Perkumpulan Sepakbola Nasional.
![]()
The Jak (2007), 75 menit. Sutradara: Andibachtiar Yusuf & Amir Pohan
Jakarta, ibukota Indonesia dengan penduduk 15 juta jiwa, ratusan suku dan ribuan bahasa, tapi satu hal menyatukan mereka semua… SEPAKBOLA!!!
CinemASEAN
Pada tahun 2007, ASEAN merayakan ulang tahunnya yang ke-40. Berbagai perayaan diadakan oleh seluruh negara anggota ASEAN, baik di tingkat nasional maupun regional. CinemASEAN adalah salah satu acara yang dicanangkan oleh Indonesia. Acara tersebut mencoba menampilkan film-film kontemporer ASEAN, yang biasanya sulit ditonton di bioskop-bioskop Indonesia.
Melalui CinemASEAN, kami berharap dapat meningkatkan apresiasi publik terhadap kekayaan warisan budaya Asia Tenggara, membangkitkan kesadaran ASEAN dan menumbuhkan perasaan “ke-kita-an” di antara bangsa-bangsa Asia Tenggara.
ASEAN adalah sebuah organisasi regional yang terdiri dari Brunei, Kamboja, Indonesia, Lao, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam. Pemimpin-pemimpin ASEAN sepakat untuk membentuk ASEAN Community pada 2015 berlandaskan tiga pilar yaitu Masyarakat Keamanan, Ekonomi dan Sosio-Kultural ASEAN. CinemASEAN juga akan diadakan di Yogyakarta (2 – 5 Juli 2007).
![]()
Katanho (2002), 113 menit. Dibintangi Ly Chan Siha. Sutradara: Tith Thearith.
Ibunya seorang penjual kayu bakar, ayahnya seorang pekerja bangunan. Di rumah beratap rumbia, Molika juga tinggal dengan neneknya yang buta. Ketika ayahnya meninggal karena kecelakaan dan ibunya jatuh sakit, Molika yang baru berumur 13 tahun tabah berjuang untuk menghidupi keluarganya sambil sekolah. Sampai suatu hari gurunya memberi tugas khusus….
Pemenang Film Terbaik pada Penghargaan Nasional Kamboja 2006.
![]()
Donsol (2006), 105 menit. Dibintangi Angel Aquino, Sid Lucero, Bembol Roco, Simon Ibarra, Kenneth Ocampo, Aaron Junatas, Mark Gil. Sutradara: Adolfo Alix, Jr.
Cinta adalah samudera emosi. Ikan hiu paus, mahluk memukau dari laut dalam, singgah di laut biru sekitar Donsol sekali setahun. Daniel, yang gemar berenang dengan hiu paus, jatuh hati kepada Teresa, jelita dan semisterius tamu tahunan dari laut itu. Dihantui kegetiran cinta masa lalu dan masa depan yang tak menentu, keduanya menemukan cinta.
Pemenang Film Cerita Berbiaya Rendah Terbaik pada Festival Film Internasional Fort Lauerdale, AS (2006).
![]()
I Not Stupid (2002), 110 menit. Dibintangi Richard Low, Xian Yun, Selena Tan, Huang Po Ju, Shawn Lee, Joshua Ang, Cheryl Chan. Sutradara: Jack Neo.
Mereka mencap kita kelas yang tidak mampu sekolah. Saya tidak mau dipandang rendah sepanjang hidup. Kalau nilai ulangan ini jelek, habislah saya. Bagi saya naik pangkat sekarang tidak penting. Saya cuma khawatir anak saya. Apa dia bisa bertahan di masyarakat yang hanya menghargai Bahasa Inggris dan Matematika. Saya sadar pemerintahmu malu dengan pemakaian Bahasa Inggris yang kacau… kalau saya bule, saya tidak perlu lagi belajar Bahasa China.
Nomine Film Asia Terbaik pada Festival Film Hongkong 2003.
![]()
The Overture (2004), 103 menit. Dibintangi Anuchit Saphanphong, Adul Dulyarat, Arratee Tanmahapran, Narongit Tosa-nga, Phongphat Wachirabanjong, Phuwaird Phunpuang, sumeth Ong-Ard. Sutradara: Itti-sunthorn Wichailak.
Sorn dilahirkan untuk mengerti harmoni alam dan menerjemahkannya ke dalam musik. Setelah dewasa, Sorn menjadi musisi istana terkenal. Kejeniusannya mendorongnya untuk menentang pemerintah Thailand, yang selama Perang Dunia II melarang musik tradisional Thailand atas nama peradaban Barat.
Film pilihan Thailand untuk Film Berbahasa Asing Terbaik pada Academy Awards 2005, pemenang Musik dan Tata Suara Terbaik pada Festival Film Asia Pasifik 2004.
Mystery of Snow (2003), 135 menit. Dibintangi Lwin Moe, Lu Min, Nyunt Win, Tun Tun Win, Soe Myat Nandar, Nilar Aung Aung, Myint Myint Khine. Sutradara: Sin Yaw Mg Mg.
Cerita tentang petualangan seorang laki-laki mencari ayahnya yang tergulung badai glasier ketika mencari spesies kupu-kupu langka.
Film terbaik Myanmar Motion Picture Academy Awards 2004.
Body of Work: 4 Film Sutradara Dario Argento
![]()
Dario Argento (l. 1940) adalah salah satu sutradara genre suspense, horor dan film detektif yang paling terkenal di dunia. Karyanya adalah salah satu acuan terpenting bagi penggemar dan pembuat film horor di seluruh dunia. Ia sering disebut “Hitchcock dari Italia”, walaupun inspirasi karyanya sebenarnya lebih banyak ia dapatkan dari Ingmar Bergman, Grimm bersaudara dan Edgar Allan Poe.
![]()
L’Ucello dalle Piume di Cristallo (1970), 103 menit. Dibintangi Tony Musante, Suzy Kendall.
Film yang diambil dari novel berjudul “The Screaming Mimi” karya Frederic Brown, tentang seorang penulis Amerika yang menyelidiki pembunuhan serial di kota Roma. Film ini adalah debut Argento sebagai sutradara film detektif.
![]()
Suspiria (1976), 95 menit. Dibintangi Jessica Harper, Stefania Casini.
Suzy Banner, seorang gadis Amerika yang melakukan perjalanan pertama ke Eropa untuk belajar di suatu akademi balet terkenal di Freiburg, Jerman. Sejak hari pertama ia menyadari ada hal menakutkan yang terjadi di tempat yang sakral itu.
![]()
Tenebre (1982), 110 menit. Dibintangi Lamberto Bava, Christian Borromeo.
Penulis kisah misteri Amerika Peter Neal yang sukses, melakukan tur ke Roma, di mana karyanya telah merajai daftar buku terlaris. Ia mendapati bahwa seseorang telah menggunakan bukunya sebagai inspirasi melakukan pembunuhan.
![]()
Non ho Sonno (2000), 113 menit. Dibintangi Stefano Dionisi, Chiara Caselli.
Seorang detektif insomniak tertarik memecahkan suatu kasus pembunuhan, dibantu seorang polisi muda yang sangat cerdas dan menguasai kecanggihan teknologi.
Program ini bisa diselenggarakan karena kerjasama kineforum dengan kinoki, In-Docs, Goethe-Institut Jakarta, Istituto Italiano di Cultura.
—————-
1 – 7 Mei 2007
Dengar! [Jangan Sekedar Melihat]
Catatan Akhir Sekolah (2005), 100 menit. Sutradara: Hanung Bramantyo. Dibintangi oleh Vino Bastian, Ramon Y Tungka, Marcel Chandrawinata, Christian Sugiono dan Joanna Alexandra.
Berkisah tentang 3 anak SMU yang ingin membuat sebuah film dokumenter tentang sekolahnya yang akan dipasang pada pentas seni akhir tahun.
![]()
Video Diary:
CUMA WC | Wendy, Delia, Ati, Natalia | 6 mins
Banyak kamera yang terpasang di penjuru sekolah kami. Ada satu tempat yang luput yaitu WC!
KEYAKINANKU ADALAH AKU | Febriani Sari, Daniel | 7 mins
Keyakinan beragamaku yang terkekang oleh tradisi yang dipegang oleh kedua orang tuaku
SATU DETIK YANG ABADI | Monika, Marcelina | 7 mins | Jakarta
Apa yang terjadi jika aku yang belum pernah memiliki Hp berkamera mendapatkan pinjaman dan menggunakan Hp berkamera ini dalam 24 jam?
BONGSENG | Yuwono, Patric, Andri, Armando | 4.50 mins
Di dalam lapas, kami berkomunikasi tanpa suara.
ANAK NEGARA vs ANAK PIDANA | Ridwan, Rustam, Jefri, Junaedi, Sibarani | 7.35 mins
Inilah bedanya Anak Negara dengan Anak Pidana.
PERPUSTAKAANKU YANG PERMAI | | 9.50 mins
Perpustakaan sekolahku selalu sepi. Kenapa ya?
JAM KOSONG…?! CAPEK DECH… | Sunarni, Irma, Ririn,Rita | 07:05
Siswa yang bersemangat datang kesekolah, harus kecewa dengan adanya jam kosong.
Ada apa sebenarnya?
BEHIND THE SCENE “KAMI BICARA” | Tim “Kami Bicara” | 10 mins
Temuan-temuan selama proses workshop di sekolah.
Gue Gak Mau Salah Jalan (2006), 70 menit. Sutradara: Yudhistira Purwanto. Dibintangi oleh Ario Astungkoro, Lucky Muhammad, Andre Octa Budiman, Rudini Septiana, Muhammad Syahrial, Daymas Arangga.
Sekelompok remaja SMU yang akan menghadapi ujian akhir untuk menentukan masa depan. Bukan hanya masa depan mereka yang harus ditentukan, tapi juga hidup sehari-hari yang keras di mana mereka harus berhadapan dengan sahabat, bimbingan belajar dan orang tua…
———————
8 – 14 Mei 2007
Peristiwa | Perubahan
![]()
Student Movement (2002), 43 menit. Sutradara: Tino Saroenggalo. (Dokumenter, DVD, B. Indonesia)
Rekaman tentang gerakan mahasiswa pada masa perubahan politik menuju pergantian rezim pemerintahan Indonesia pada tahun 1998. Film ini mengajukan pendapat yang menarik tentang mengapa aksi mahasiswa kadang-kadang disertai tindak kekerasan.
![]()
Nyanyian Negeri Sejuta Matahari (2006), 63 menit. Sutradara: Edwin. (Dokumenter, DVD, B. Indonesia)
Dokumenter tentang anak-anak di kamp pengungsian di Banda Aceh dan Meulaboh yang terilhami untuk membuat video diary setelah menonton “Untuk Rena” karya Riri Riza. Suatu dokumenter yang dengan hangat menangkap kehidupan di Aceh setelah peristiwa tsunami akhir tahun 2004.
![]()
Videogramme einer Revolution (1992), 120 menit. Sutradara: Harun Farocki & Andrei Ujica. (Dokumenter, DVD, B. Rumania/Jerman dengan subtitel B. Inggris)
Rekonstruksi elektronik dari “tele-revolusi” Rumania tahun 1989, berdasarkan perubahan dalam sudut pandang kamera. Farocki, seorang pembuat film dokumenter, dan Ujica, filsuf media, bertahan ketat pada urutan kronologis peristiwa yang terjadi. Mereka mulai dari hari Ceausescu mengucapkan pidato terakhirnya sampai akhir malam di mana, pertama kalinya di televisi, versi pendek dari pengadilan Ceausescu disiarkan. Film ini mengungkap hubungan antara kamera dan sejarah dalam versi “fiksionalisasi” dari suatu revolusi fiktif.
——————–
15 – 20 Mei 2007
Sepak Bola
![]()
Fimpen, der Knirps (1973), 89 menit. Sutradara: Bo Widerberg.
Mackan, seorang bintang sepak bola Swedia yang baru pulang sebagai pahlawan Swedia karena membawa timnya menang atas Jerman, suatu hari dikalahkan oleh seorang anak berumur 6 tahun di lapangan sepak bola tempat main anak-anak. Mimpi buruk untuk seorang bintang sekaligus awal karir yang gemilang bagi si anak berusia 6 tahun itu. Sebuah film mengenai seorang anak yang berbakat, tapi harus kehilangan masa kecilnya.
![]()
Depth of Field (2004), 88 menit. Sutradara: Gil Mehnert.
Menjelang ajalnya, Hans Günter Korte mengenang cinta yang memabukkan sekaligus rumit. Cintanya ternyata bukan pada Marion, fotografer muda yang ia temui, melainkan pada seorang bintang sepakbola yang tak biasa.
The Miracle of Bern (2004), 118 menit. Sutradara: Söhnke Wortmann.
Pada 4 Juli 1954 kesebelasan nasional Jerman masuk final piala dunia dan menang melawan Hongaria di final Piala Dunia di Swiss. Kemenangan ini buat banyak orang Jerman merupakan kelahiran kembali satu bangsa. Kekalahan dalam perang dunia kedua seperti tergantikan oleh kemenangan ini.
———————–
21 – 27 Mei 2007
Body of Work: Ami Prijono
Cintaku di Kampus Biru (1976), 109 menit. Pemain: Roy Marten, Enny Haryono, Rae Sita, Yatie Octavia, Farouk Afero, El Manik.
Anton (Roy Marten) adalah mahasiswa cerdas, aktivis dan merasa diri penakluk wanita. Ia tidak saja berusaha merebut hati teman-teman sesama mahasiswa, ia juga berusaha melunakkan hati seorang dosen perempuan yang galak.
Salah satu film terlaris pada tahun 1976 di Jakarta.
Jakarta Jakarta (1977), 115 menit. Pemain : Ricca Rachim, Rae Sita, El Manik, Deddy Sutomo, Marsito Sitorus, Rudy Salam, Doddy Sukma, Nugraha, Johan Mardjono.
Sebuah niat untuk melukiskan kehidupan Jakarta, yang penuh kontras dan keras.Tumbur Silitonga (El Manik) datang ke Jakarta dengan penuh harapan, termasuk percintaan antara Tumbur dan Rini (Ricca Rachim).
Pemenang Piala Citra FFI 1978 untuk Film, Sutradara, Skenario, Pemeran Pembantu Pria dan Artistik.
![]()
Roro Mendut (1982) – 109 menit. Pemain : Meriam Bellina, Mathias Muchus, WD Mochtar, Sunarti Rendra, Sofia WD, Clara Sinta, Pedro Sudjono, Abdi Wiyono, Kies Slamet, Mirna Coleman, Gito, Gati, Marwoto, Waluyo, Kadariyah, Bagong Kussudiardjo.
Roro Mendut adalah seorang wanita muda yang cantik di Kadipaten Pati. Dia telah menolak untuk dijadikan selir oleh Tumenggung Wiroguno. Roro mencintai Pronocitro, Wiroguno pun menghalangi hubungan mereka demi menegakkan citra keagungan dan kekuasaan Mataram.
Pemenang Piala Citra FFI 1983 untuk Artistik. Unggulan FFI 1983 untuk Film, Sutradara, Pemeran Utama Pria, Fotografi dan Musik.
Yang (1983) – 107 menit. Pemain : Zoraya Perucha, Rano Karno, Nani Widjaja, Zainal Abidin, Pitrajaya Burnama, Ita Agusta, A Nugraha, Ida Leman, Afrizal Anoda.
Yogi yang tidak memiliki kepercayaan diri karena dikekang oleh ibunya. Perjodohan yang tidak diketahuinya membuatnya ngambek dan tidak bisa menjawab ujiannya sehingga tidak lulus. Keisengannya pergi ke klab malam mempertemukannya dengan seorang hostes bernama Sita. Yogi langsung jatuh cinta kepadanya.
Unggulan FFI 1984 untuk Sutradara, Pemeran Utama Pria, Pemeran Utama Wanita, Pemeran Pembantu Wanita, Editing, Fotografi, Film. Pemenang Piala Suryosumanto FFI 1984 untuk pendatang baru Soraya Perucha.
———————
28 – 31 Mei 2007
Body of Work: Kenji Mizoguchi
![]()
Ugetsu Monogatari (1953), 94 menit. Dibintangi oleh Masayuki Mori, Machiko Kyo, Kinuyo Tanaka, Eitaro Ozawa, Ikio Sawamura.
Pada abad ke-16, di tengah perang saudara, dua petani ambisius mencoba mengeruk keuntungan besar. Film ini merupakan kombinasi dua novel misterius karya Akinari Ueda (1734-1809) yang dirangkai secara bebas. Mengisahkan ambisi manusi untuk hidup makmur dengan memancing di air keruh dan akhirnya masuk ke dalam sebuah dunia yang misterius.
Pemenang San Marco Silver Lion Prize pada Festival Film Internasional Venice 1953 (Pada tahun 1953 tidak ada peraih penghargaan Golden Lion).
Tales of the Taira Clan (Shin Heike Monogatari) (1955), 108 menit. Dibintangi oleh Narutoshi Hayashi, Raizo Ichikawa, Tatsuyo Ishiguro, Michiyo Kigure, Akitake Kono.
Komandan pasukan khusus Kapten Tadamori kembali ke Kyoto setelah kemenangannya yang gemilang menumpas perompak di laut Barat Jepang. Ia tidak diakui sebagai pahlawan. Film ini adalah pernyataan penting Mizoguchi tentang runtuhnya kekuasaan kaum elit konservatif dan struktur penindasan dalam suatu masyarakat.
———————
16 – 22 April 2007
Biografi | Biographies
Dalam program ini kita melihat bagaimana kehidupan seseorang diceritakan kembali dalam film. Biografi adalah tema yang cukup jarang diangkat ke dalam film Indonesia. Dengan sengaja kami tidak membedakan film dokumenter dengan film cerita, hanya memperhatikan bagaimana para pembuat film menampilkan kembali tiap tokoh dan dengan demikian membentuk citra tokoh-tokoh tersebut di hadapan publik.
We will see how a person’s life is retold in a film. Biography is a topic that is surprisingly not very much represented in Indonesian films. We purposedly mix documentaries and feature films, to concentrate more on how film makers represent each persona to the public.
Sinopsis Film / Film Synopsis
Pakubuwono XII : Berjuang Untuk Sebuah Eksistensi (2004), 45 menit, dokumenter. Sutradara: IGP Wiranegara.
Menceritakan tentang Sinuhun Paku Buwono XII (PBXII) dalam mempertahankan Keraton Surakarta agar terus eksis. Beliau dianugerahi pangkat Letnan Jenderal Tituler oleh presiden RI pertama atas jasanya dalam ikut berjuang pada masa pergolakan.
Film ini memenangkan Piala Citra sebagai dokumenter terbaik FFI 2005.
A film about Sinuhun Paku Buwono XII’s (PB XII) struggle to keep the existence of the Keraton Surakarta. He was given honorable commendation as Lieutenant General Titular by the first Indonesian president for his dedication during the uncertain times after Indonesia’s independence.
This film was awarded the Best Documentary at the Indonesian Film Festival 2005.
Tjoet Nja’ Dhien (1986), 133 menit. Sutradara: Eros Djarot. Dibintangi oleh Christine Hakim, Pitrajaya Purnama, Slamet Rahardjo, Hendra Yanuarti.
Tjoet Nja Dhien (Christine Hakim) bersama Teuku Umar (Slamet Rahardjo), memimpin rakyat Aceh bersama-sama memerangi penjajah Belanda. Setelah Teuku Umar tewas, Tjoet Nja Dhien melanjutkan perjuangannya bersama anaknya, Tjoet Gambang (Hendra Yanuarti). Film ini mengaskan bahwa kekuatan iman adalah segalanya.
Film ini memenangkan 8 piala Citra pada FFI 1988 dan film Indonesia pertama yang diputar di Festival Film Cannes.
Tjoet Nya’ Dhien (Christine Hakim) was on the side of her husband Teuku Umar (Slamet Rahardjo), leading the people of Aceh’s struggle against Dutch occupation. When Teuku Umar died, Tjoet Nya’ Dhien continues the struggle with together with her child Tjoet Gambang (Hendra Yanuarti). A story about how faith can be the only thing that matters.
This film won 8 Citra Awards at the Indonesian Film Festival 1988 and is the first Indonesian film screened at the Cannes Film Festival.
Misbach: Di Balik Cahaya Gemerlap (2007), 40 menit, dokumenter. Sutradara: Edwin.
Profil Misbach Yusa Biran, pembuat film yang aktif sejak sejarah film Indonesia dicatat hingga sekarang, dimana kecintaannya terhadap film Indonesia tidak pernah padam. Misbach mendirikan arsip film pertama di Asia, yang kita sebut Sinematek Indonesia.
Edwin adalah sutradara muda yang pernah mengejutkan masyarakat film ketika filmnya Kara, Anak Sebatang Pohon menjadi film pendek Indonesia pertama yang diundang oleh Festival Film Cannes pada tahun 2005.
A profile of Misbach Yusa Biran, a film maker that started being involved in the scene since its very beginning. His love for Indonesian cinema led him to co-found the first film archive in South-east Asia, which is now known as Sinematek Indonesia.
Edwin is a young director who surprised Indonesian film scene when his film Kara, Daughter of a Tree became the first Indonesian short film to be invited by Cannes Film Festival 2005.
——————
7 – 15 April 2007
Tengok Kembali Q Film Festival | Q Film Festival Revisited
Tanpa terasa Q Film Festival Jakarta sudah memasuki tahunnya yang keenam (2006) dan akan segera memasuki tahun ketujuh. Q Film Festival adalah peristiwa film tahunan bertemakan gender dan seksualitas. Festival ini berlangsung di Jakarta dan beberapa kota lain di Indonesia. Dalam program ini kita akan melihat kembali film-film terbaik pilihan para penonton festival ini.
We are approaching the seventh year of Jakarta’s Q Film Festival in 2007. We will revisit their audience favorites in this program.
Sinopsis Film/Film Synopsis
My Own Private Idaho (1991), 102 menit, Amerika Serikat. Dibintangi River Phoenix, Keanu Reeves, James Russo, Chiara Caselli. Sutradara: Gus van Sant.
Mike (River Phoenix) pemuda yang pendiam, gay dan menderita narkolepsi. Ia jatuh cinta pada Scott. Bersama mereka memulai perjalanan untuk mencari ibu Mike, berangkat dari Portland ke Idaho lalu ke Italia, sementara Scott menemukan seorang perempuan cantik di perjalanan.
Mike (River Phoenix) is quiet, gay and suffers from narcolepsy. He is in love with Scott. Together, they embark on a quest to find Mike’s mother, traveling from Portland to Idaho to Italy, with Scott picking up a beautiful girl along the way.
Goldfish Memory (2003), 85 menit, Irlandia. Dibintangi Sean Campion, Fiona O’Shaughnessy, Fiona Glascott, Peter Gaynor. Sutradara: Elizabeth Gill.
Film ini adalah cerita ringan tentang susah-senangnya berpacaran di kota Dublin saat ini. Satu-satunya hal yang bisa mereka sepakati adalah bahwa cinta adalah hal yang wajib ada dalam hidup kita. Film ini adalah eksplorasi sifat alamiah cinta yang jenaka, baik heteroseksual, gay maupun yang di antaranya.
GOLDFISH MEMORY is a light-hearted look at the dangers and delights of dating in contemporary Dublin. The only thing they can all agree on is that love is the one thing we can’t live without. Exploring the comical nature of love, straight, gay and in-between,
Uwaki no Bokura | Naughty Boys (2001), 76 menit, Jepang. Dibintangi Yuji Kuwa, Akio Yoshioka, Kouichi Imaizumi. Sutradara: Kouichi Imaizumi.
Petualangan manga dalam bentuk realistis tentang dua cowok Jepang menemukan apa yang betapa menggodanya satu malam di Shinjuku untuk orang-orang yang naif.
A real-life Manga adventure follows two Japanese boys who discover what a single night in Shinjuku holds for unwary lovers.
Wolves of Kromer (1998), 82 menit, Inggris. Dibintangi Boy George (suara), James Layton, Lee Williams, Margaret Towner, Rita Davies. Sutradara: Will Gould.
Pada suatu ketika di desa di Kromer tinggallah dua serigala muda yang tampan. Pada suatu hari, seorang jahat dan kaki tangannya membunuh majikan mereka, menjebak para serigala dan membuat segerombolan orang fanatik yang marah mengacungkan obor ke hadapan sepasang serigala ini. Tapi siapa sebetulnya yang akan hidup bahagia selamanya?
Once upon a time in the village of Kromer lived two beautiful young wolves. One day a wicked old crone and her goofy sidekick kill their mistress, frame the wolves, and incite a torch-bearing mob of religious zealots to seek vengeance on the hapless pair. But who will live happily ever after?
Like It Is (1998), 90 menit, Inggris. Dibintangi Steve Bell, Ian Rose, Roger Daltrey, Dani Behr, Jude Alderson, Emile Charles. Sutradara: Paul Oremland.
Craig adalah seorang pemuda yang mengalami kehidupan keras di Blackpool, mencari uang dengan bertinju dan sulit menerima bahwa dirinya gay. Ia bertemu dengan Matt, pemuda London yang bekerja di industri musik. Perasaan Matt, tuntutan pekerjaannya dan impian Matt untuk menjalankan club musik rock menempatkan hubungan mereka dalam bahaya.
Craig is a rough kid in Blackpool, picking up cash as a bare-knuckle club fighter, also having a hard time accepting that he’s gay. He meets Matt, a Londoner working in the music industry. Matt’s feelings, work demands, Matt’s dream to run a rock club and Craig’s lack of job skills combine to put Craig and Matt’s relationship in jeopardy.
——————-
1 – 6 April 2007
Achtung: Doc Tales!
“Achtung: Doc Tales!”
rangkaian film dokumenter Jerman kontemporer
Film dokumenter Jerman terus merintis jalan ke layar lebar dan menarik lebih banyak penonton selama sepuluh tahun terakhir. Rangkaian film dokumenter Jerman pemenang penghargaan ini menunjukkan usaha untuk terus memperbarui seni naratif film dan dramaturgi dengan menampilkan para pembuat film paling berpengaruh dalam bidang dokumenter. Andres Veiel, Volker Koepp dan Uli Gaulke mewakili kutub aliran pendekatan sinematik yang berlawanan dalam pembuatan film dokumenter dari tiga generasi. Bakat-bakat muda seperti Bettina Braun dan Sebastian Winkels mendapatkan perhatian karena karakter eksperimental yang sangat hidup dalam karya-karya debut mereka. Malte Ludin membuat kejutan bagi penonton Jerman dengan potret intim tentang sejarah keluarganya yang begitu rumit tanpa khawatir akan gelombang emosi pribadi yang akan dialami mereka.
Menengok kembali pada masa lalu Jerman yang berat dengan cara bercerita baru adalah aspek penting dalam karya dokumenter sejak Perang Dunia II. (Kecenderungan untuk ‘menengok kembali’ mungkin sekarang dianggap sebagai karakter klise yang disebut ‘khas Jerman”).
Sebagian dari rangkaian ini berhubungan dengan dampak ingatan yang aktual dan menghidupkan kembali sejarah, sementara separuh lagi menampilkan peta kehidupan Jerman saat ini dan kondisi sosialnya, suatu gambaran tentang orang-orang yang mengejar mimpi demi membangun masa depan mereka.
“Achtung: Doc Tales!”
a collection of contemporary german documentaries
German documentary films continue to emerge onto the big screen and attract wider audiences throughout the last ten years. This collection of award-winning German films focuses on recent attempts to renew the art of film narration and dramaturgy by presenting the most influencial artists in the documentary field. Andres Veiel, Volker Koepp and Uli Gaulke represent almost opposite cinematic approaches in documentary formats of three different generations of filmmakers. Young talents as Bettina Braun and Sebastian Winkels were highly acclaimed for the lively experimential character of their first works. Malte Ludin surprised German audience with a intimate portrait of what is his own complex family heritage without fearing an utmost personal tiderope walk.
Reflecting the difficult German past with new ways of storytelling has been an important aspect of documentary work ever since World War II. (The tendency ‘to look back’ might be the worldwide cliché of a character thread often named “typically German”).
As much as half of the films in this program are dealing with the actual impact of memories and bring history to live, the other half concentrates on present german lifescapes and social conditions, describing the struggle of dreamchasing characters tending to get a hold of their future.
Sinopsis Film/Film Synopsis
Was Lebst Du? | Whatz up? (2004), 84 menit. Sutradara: Bettina Braun. (DVD, B. Jerman dengan subtitel B. Inggris)
Ali, Kais, Ertan dan Alban adalah empat sahabat yang bercita-cita jadi bintang hip hop. Mekipun mewakili latar belakang bangsa yang berbeda, mereka jadi sangat dekat karena kesamaan nasib sebagai keturunan imigran. Mereka muda, sekilas kelihatan macho, kasar dan tak tahu sopan santun. Di antara mereka sendiri berkembang ikatan kebersamaan meskipun pada saat yang sama saling bersaing.
Was Lebst Du? | Whatz up? (2004), 84 minutes. Directed by Bettina Braun. (DVD, German with English Subtitle)
Ali, Kais, Ertan and Alban are good friends who dream of becoming hip hop stars. Their backgrounds are worlds apart but being immigrants in Germany brings them together. They are young, macho, rough and rude at first glance. They develop strong brotherhood ties while constantly competing with each other.
Heirate Mich | Marry Me (2003), 105 menit. Sutradara: Jeanette Eggert dan Uli Gaulke. (35 mm, B. Jerman, Spanyol dengan subtitel B. Inggris)
Saat liburan di Havana, Erik bertemu dengan perempuan Kuba bernama Gladis. “Ini cinta pada pandangan pertama,” katanya. Setahun kemudian, Gladis dan anak laki-lakinya yang berumur 8 tahun naik pesawat, penuh harapan walau dengan mata berkaca-kaca, meninggalkan pulau itu. Setibanya di Hamburg, mereka memulai kehidupan yang lucu, kadang menyakitkan dan penuh kejutan. Cerita ini adalah tentang kedatangan mereka, kepergian, pertikaian perempuan dan laki-laki, juga tentang tabrakan dua kebudayaan.
Heirate Mich | Marry Me (2003), 105 minutes. Directed by Jeanette Eggert and Uli Gaulke. (35 mm, German, Spanish with English Subtitle)
During his holidays in Havana, Erik meets a Cuban woman named Gladis. “It was love at first sight,” he says. A year later, Gladis and her 8-year-old son board a plane, full of hope, but also with tears in their eyes, to leave the island. After their arrival in Hamburg, the three follow a path full of comical, sometimes painful, and surprising events. But the twists and turns of this path tell the story of arrival, departure, the battle of the sexes, and the confrontation of cultures.
7 Brüder | Seven Brothers (2003), 86 menit. Sutradara: Sebastian Winkels. (35 mm, B. Jerman dengan subtitel B. Inggris)
“Kalau kau ingin menemukan kebenaran, tanyakanlah kepada tujuh laki-laki bersaudara.” (Pepatah Cina)
Tujuh laki-laki bersaudara (lahir antara 1929 dan 1945) datang ke suatu ruang netral untuk bertutur tentang keluarga mereka yang berasal dari Mülheim. Mereka sama sekali tidak diwawancarai, cuma diundang bercerita. Tujuh jalan kehidupan yang berbeda ditunjukkan oleh generasi yang masa kecilnya berawal atau berakhir pada “Titik Nol” pasca Perang Dunia II pada tahun 1945. Eksperimen dokumenter yang menunjukkan rangkaian mozaik cerita personal yang juga membawa kita mengenal sejarah Jerman.
7 Brüder | Seven Brothers (2003), 86 minutes. Directed by Sebastian Winkels. (35 mm, German with English Subtitle)
“If you are looking for the truth, you must ask seven brothers.” (Chinese proverb)
Seven brothers (born between 1929 and 1945) come to a neutral space to individually tell their family’s story from Mülheim. Seven different paths in life attest to a rarely heard generation whose childhood ended or just began with the “Stunde Null“ in 1945. An intimate mosaic between the brothers emerges forming a type of family universe mirroring German history in an unusual way.
Die Spielwütigen | Crazy For Acting (2004), 108 menit. Sutradara: Andres Veiel. (35 mm, B. Jerman, Inggris, Yunani dengan subtitel B. Inggris)
Dokumenter tentang mahasiswa akting. Is memperlihatkan aktor yang sedang berakting – dan yang sedang tidak berakting. Film ini adalah dokumenter yang umumnya kita mengerti sebagai usaha menangkap kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan sendiri pasti harus dibentuk ulang supaya bisa diperlihatkan dalam bentuk film dokumenter, seperti juga karakter manusia harus dibentuk ulang supaya bisa ditampilkan di atas panggung, sebagai aktor.
Die Spielwütigen | Crazy For Acting (2004), 108 minutes. Directed by Andres Veiel. (35 mm, German, English, Greek with English Subtitle)
A documentary on acting pupils. He shows the actors acting – and not acting. “Die Spielwütigen” is a documentary that we generally take as an attempt to capture real life. Life, no doubt, has to be formed to be presentable as a documentary, just the way characters have to be formed to be presentable on a stage, as actors.
2 oder 3 Dinge, die ich von ihm weiß | 2 or 3 Things I Know About Him (2005), 85 menit. Sutradara: Malte Ludin. (35 mm, B. Jerman, Slovakia dengan subtitel B. Inggris)
Malte Ludin memeriksa dampak Nazisme di keluarganya. Hanns Ludin, ayah Malte, adalah Duta Besar Jerman pada masa pemerintahan Nazi di Slovakia. Ia adalah penandatangan perintah deportasi yang membuat ribuan warga Yahudi ke kamp Auschwitz. Hanns Ludin dihukum karena kejahatan perang pada tahun 1947. Malte Ludin menunggu sampai ibunya (Erla) meninggal untuk membuat film ini. Ia menampilkan kakak-kakak perempuannya yang punya kenangan manis dan menyatakan bahwa ayah mereka pasti tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Auschwitz.
2 oder 3 Dinge, die ich von ihm weiß | 2 or 3 Things I Know About Him (2005), 85 minutes. Directed by Malte Ludin. (35 mm, German, Slovak with English Subtitle)
Malte Ludin examines the impact of Nazism in his family. Malte’s father, was Third Reich’s ambassador to Slovakia. Hanns Ludin signed the order to deport thousands of Jewish to Auschwitz camp. Hanns Ludin was executed for war crimes in 1947. Malte waited until after the death of his mother, Erla, to make this film. He features his sisters who have fond memories and state that their fathers might have not known the whole truth about what happened in Auschwitz.
Herr Zwilling und Frau Zuckermann | Mr. Zwilling and Mrs. Zuckermann (1999), 126 menit. Sutradara: Volker Koepp. (35 mm, B. Jerman, Rusia, Ibrani dengan subtitel B. Inggris)
Ny. Zuckermann seorang optimis yang puitis, bersahabat dengan Tuan Zwilling, seorang pesimis. Keduanya berasal dari komunitas Yahudi dan menjalani usia tua di Czernowitz, kota kecil yang sepi di Ukraina bagian Barat, tak jauh dari perbatasan Rumania. Mereka berdua adalah saksi bagaimana wilayah ini sering sekali berganti penguasa – dari Austria, Rumania, Rusia dan Jerman. Di kota ini berbagai bangsa hidup bersama, sekaligus juga diadu domba. Kota ini juga adalah salah satu jantung kehidupan budaya komunitas Yahudi, yang dideportasi oleh Rusia, dimusuhi oleh para petani Ukraina dan dimusnahkan oleh Jerman. “Kami makhluk langka,” kata Ny. Zuckermann. Dan dalam film Volker Koepp ini, hidup mereka berjalan terus.
Herr Zwilling und Frau Zuckermann | Mr. Zwilling and Mrs. Zuckermann (1999), 126 minutes. Directed by Volker Koepp. (35 mm, German, Russian, Hebrew with English subtitle)
Mrs. Zuckermann is a poetic optimist and Mr. Zwilling is her pessimist counterpart. Both come from Jewish community and spend their retirement age in Czernowitz, a lonesome town in the Western Ukraine, not far from the Rumanian border. They witness how this border town is passed on from one authority to another – from Austria, Rumania, Russia and to Germany. In Czernowitz people from different nations live together and used against another. This town was once a center of the cultural life of Jewish community, who were deported by the Russians, bereaved by the Ukrainian farmers and murdered by the Germans. “We’re extincts,” Mrs. Zuckermann says. And in Volker Koepp’s film they live on.
Program ini bisa diselenggarakan karena kerjasama Kineforum Dewan Kesenian Jakarta dengan Goethe-Institut Jakarta.
—————–
7 – 31 Maret 2007
Bulan Film Nasional 2007
Sejarah adalah Sekarang | History is Now
Sejarah adalah Sekarang
Lima puluh tujuh tahun sejak Darah dan Doa dibuat dan delapan puluh satu tahun sejak produksi film pertama di Indonesia dicatat, film Indonesia tetap ada. Hari Film Nasional adalah saat yang tepat untuk menikmati bersama pencapaian dalam film Indonesia, serta melihat kembali apa makna film Indonesia buat kita sekarang.
Sejarah bukan cuma terjadi pada suatu waktu di masa lalu, tapi dilihat kembali dan diartikan ulang dengan cara berbeda oleh tiap generasi. Setiap kali kita melihat dan memberi arti pada sejarah, saat itu pulalah sejarah lahir kembali. Karena itu kineforum Dewan Kesenian Jakarta mempersembahkan Sejarah adalah Sekarang. Kami mengajak pemirsa muda mengalami dan membuat sendiri sejarah film Indonesia: melihat perjalanan waktu lewat karya maestro Asrul Sani, kehidupan para perempuan muda dari tahun 1950-an dan 2000-an, serta kegelisahan tentang film yang diangkat oleh para pembuat film muda Indonesia. Dalam program ini perjalanan sejarah film Indonesia dilihat dari berbagai sudut pandang, mulai dari mereka yang terlibat dalam industri sampai para pecinta film yang hidup dalam komunitas-komunitas film.
Kami juga mengajak masyarakat untuk mendukung Sinematek Indonesia, salah satu sumber ingatan kita tentang film nasional. Kami bersama perancang grafis Radhit Syaharzam untuk mengolah desain lima poster film Indonesia dan membuatnya menjadi produk, yang hasil penjualannya disumbangkan sebagai pendukung dana perawatan bagi Sinematek Indonesia.
Acara
Pemutaran Film:
7 – 11 Maret 2007
Girls Just Wanna Have Fun (Kurator: Lisabona Rahman)
Para perempuan muda dalam rangkaian film ini mencari kebahagiaan dengan caranya masing-masing dan menghadapi tantangan ketika bertemu dengan orang tua yang berbeda kepentingan. Akankah mereka berhasil mencapai kebahagiaan?
(Film: 100% Sari, Asrama Dara, Tiga Dara, Virgin)
12 – 17 Maret 2007
Pemutaran Koleksi Komunitas Film
1. Koleksi Forum Lenteng: Massroom Project. Forum Lenteng adalah kelompok mahasiswa yang melakukan studi, riset, dokumentasi tentang film dan kota. Kegiatan komunitas bertempat ini Lenteng Agung, Jakarta Selatan.
2. Awas! Video Kami Merekam: Perjalanan Konfiden. Konfiden adalah komunitas pengumpul film pendek dan pembuat kompetisi nasional film pendek yang paling tua di Indonesia. Dalam program ini kita akan melihat sejarah film pendek Indonesia lewat koleksi arsip Konfiden.
18 – 23 Maret 2007
Asrul Sani: (‘Arsitek’) Cetak Biru Lintas Waktu (Kurator: Prima Rusdi)
Sepanjang karirnya sebagai penulis skenario selama lima dekade (sejak 1952 hingga 1991), Asrul Sani menuntaskan sekitar 50 judul naskah film. Bila skenario kerap diibaratkan sebagai cetak biru dari sebuah film, maka sejumlah ‘bangunan’ yang berangkat dari cetak biru guratan Asrul masih terasa ‘kokoh’ hingga saat ini.
(Film: Lewat Djam Malam, Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), Naga Bonar, Istana Kecantikan)
24 – 27 Maret 2007
(Film) Tentang Film | (Films) About Films
Apa kata generasi muda dunia film Indonesia tentang film? Enam film: Bioskop Kita Lagi Sedih, Arisan, Kita Harus Bikin Film!, Kuldesak, Laporken Kenapa, dan Janji Joni akan menunjukkan pada kita jawaban mereka.
28 – 31 Maret 2007
Membuat Sejarah
Indonesian Cinema, Misbach: Di Balik Cahaya Gemerlap, dan Untuk Kaum Muda adalah tiga film yang menggambarkan perjalanan sejarah dari sudut pandang pembuat film muda.
Acara Pendukung:
Poster di T-Shirt!!
Menolak Hilang Ingatan: Penggalangan Dana untuk Perawatan Film Koleksi Sinematek Indonesia
7 – 31 Maret 2007
Lobi TIM 21, Taman Ismail Marzuki
Dalam acara ini Kineforum Dewan Kesenian Jakarta akan melakukan kerjasama dengan Sinematek Indonesia untuk penggalangan dana, yaitu menjual T-Shirt dengan gambar koleksi poster film Sinematek Indonesia (jumlah terbatas). Dana yang dihasilkan dari kegiatan ini dipergunakan untuk perawatan koleksi film dalam arsip Sinematek Indonesia yang secara berkala diputar di Kineforum.
DKJ mempersembahkan sebuah diskusi dengan tajuk “Apa Kabar Hari Ini, Asrul Sani?” lewat kacamata sastra, teater, dan film
24 Maret 2007
10.00 – 18.00 WIB
Galeri Cipta 3, Taman Ismail Marzuki
Seminar Sinematografer
1. Analisa Skenario
2. Prosedur Produksi
3. Teknologi Film/Televisi
4. Menjaga kualitas visual pada saat pasca-produksi
Biaya investasi seminar untuk peserta:
1. Siswa dan mahasiswa – Rp50.000,00
2. Umum dan profesional – Rp150.000,00
(Tempat Terbatas)
PEMBICARA :
Nan T Achnas M.A Sutradara Film
Tino Saroengallo Manajer Produksi
Agni Ariatama M.Sn Pengajar Sinematografi
Sastha Sunu Editor
27 Maret 2007
09.00 – 15.00 WIB
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki
Hari Film Nasional 2007: Benih Film Indonesia
Pemutaran Film, Diskusi, Pameran Foto dan Poster
30 Maret 2007
08.00 – 22.00 WIB
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki
—————–
1 – 6 Maret 2007
M, Cinéma Invisible & Dziga
Menjelang peringatan Hari Film Nasional 30 Maret 2007, Kineforum Dewan Kesenian Jakarta (d/h Artcinema) mengundang Anda untuk menyaksikan tiga film yang berkaitan dengan sejarah film dunia. Setelah ketiga film ini, Kineforum Dewan Kesenian Jakarta mengadakan program Sejarah adalah Sekarang (7-31 Maret 2007), rangkaian pemutaran film, diskusi dan pencarian dana melalui penjualan t-shirt dengan ilustrasi poster film koleksi Sinematek Indonesia.
Sinopsis Film/Film Synopsis
Dziga (genre beragam, 65 mnt)
Kompilasi Film Pendek Dziga Stichting ini adalah hasil interpretasi pembuat film muda Belanda terhadap teori film Dziga Vertov, seorang pembuat film Rusia yang telah menetapkan dasar teori film tentang gambar, editing, musik dan gerak. Kumpulan ini jauh dari kesan studi ilmiah, justru para pembuat film muda dalam kumpulan ini seperti sedang bermain bersama dengan salah seorang dewa sejarah film dunia.
Dziga (various genres, 65 minutes)
A compilation of short films from Dziga Stichting which consist of young Dutch film makers’ interpretations of Russian director Dziga Vertov’s theories. Vertov pioneers studies and theories on picture, editing, music and movements in film. This compilation hardly has formal scientific atmosphere, it seems that the young film makers are playing together with one of the gods in world’s film history.
Cinéma Invisible: The Book (Cinéma Invisible—Het Boek), 73 mnt. Bahasa Belanda dengan subtitel Inggris. Sutradara: Kees Hin.
Navigator kita adalah perempuan yang mendatangi toko buku untuk mencari kumpulan skenario film yang dibukukan, “Anthologie du Cinema Invisible”, yang diterbitkan untuk memperingati seratus tahun sinema. Dari keseratus karya yang tak pernah jadi kenyataan ini, inti dari sepuluh proyek dipilih dan tampil dalam film ini. Nukilan dari Chaplin dan Clouzot, Zazie Dans Le Metro, Battleship Potemkin dan lain-lain dipadukan untuk menghasilkan dokumenter fantasi yang menularkan semangat bermain. Suatu karya yang dipersembahkan untuk dunia film.
Cinéma Invisible: The Book (Cinéma Invisible—Het Boek), 73 mintes. Dutch with English subtitle. Director: Kees Hin.
Our navigator is a woman who visits a bookshop in search of a collection of unfilmed screenplays, “Anthologie du Cinema Invisible,” that was published to celebrate the first centenary of cinema. From these 100 unrealized works, the essence of ten projects are selected to be presented in this film. Excerpts from Chaplin and Clouzot, Zazie Dans Le Metro, Battleship Potemkin and more are combined to create this fantasy documentary film with an infectious playful spirit. A work that pays homage to all cinema.
M (M-Eine Stadt Sucht Einen Moerder), 107 mnt. Bahasa Jerman dengan subtitel Inggris. Sutradara: Fritz Lang. Dibintangi Peter Lorre, Otto Wernicke, Gustaf Gruendgens, Ellen Widmann, Paul Kemp, Theo Lingen.
Seorang pembunuh yang selalu memilih korban anak-anak mengancam kehidupan Berlin yang tenteram. Para penjahat di kota Berlin merasa terancam karena penggeledahan dan penyelidikan yang dilakukan polisi. Baik para penjahat maupun polisi berlomba menemukan si pembunuh. Para penjahat berhasil menangkapnya lebih dulu.
M adalah film bicara Fritz Lang yang pertama dan dianggap sebagai salah satu film terbaik dalam sejarah film Jerman.
M (M-Eine Stadt Sucht Einen Moerder), 107 minutes. German with English subtitle. Director: Fritz Lang. Starring: Peter Lorre, Otto Wernicke, Gustaf Gruendgens, Ellen Widmann, Paul Kemp, Theo Lingen.
A child murderer threatens the serene life in Berlin and alarms the population. The crooks are hindered in their profitable dealings by police searches and investigation. Both the crooks and the police go in search of the much feared murderer. The crooks got to him first.
M is Fritz Lang’s first talkie and dubbed as one of the best in German film history.
—————-
11 – 18 Februari 2007
Kisah Cinta : 3 Kisah Cinta yang Aneh
Sinopsis Film/Film Synopsis
Cinta Pertama (1973), 110 menit. Sutradara: Teguh Karya. Dibintangi Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Robby Sutara, Norma Muchsin, Ully Artha
Sebuah kisah cinta antara Ade (Christine Hakim) dan Bastian (Slamet Rahardjo) setelah pertemuan pertama mereka di dalam gerbong kereta api. Akankah mereka berhasil memperjuangkan cinta mereka?
First Love (1973), 110 minutes. Directed by Teguh Karya. Starring Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Robby Sutara, Norma Muchsin, Ully Artha
A love story between Ade (Christine Hakim) and Bastian (Slamet Rahardjo) after a meeting each other in a train. Will they eventually succeed in fighting for their love?
Kejarlah Daku, Kau Kutangkap (1985), 109 menit. Sutradara: Chaerul Umam. Dibintangi Lydia Kandau, Deddy Mizwar, Ully Artha, Henky Solaiman
Sebuah cerita kocak tentang cinta dan kedudukan suami istri dalam rumah tangga. Apakah Mona (Lydia Kandau) yang tunduk dengan suaminya Ramadhan (Deddy Mizwar) dapat mempertahankan rumah tangga mereka?
Chasing Game (1985), 109 minutes. Directed by Chaerul Umam. Starring Lydia Kandau, Deddy Mizwar, Ully Artha, Henky Solaiman
A comedy of love and marriage politics. Will Mona (Lydia Kandau) who is submissive to Ramadhan (Deddy Mizwar), be able to make their marriage last?
Cinta dalam Sepotong Roti (1990), 97 menit. Sutradara: Garin Nugroho. Dibintangi Tio Pakusadewo, Rizky Erzet Theo, Adjie Massaid
Sebuah film yang melukiskan masalah seks secara tidak vulgar. Mayang (Rizky Theo), Harris (Adjie Massaid) dan Topan (Tio Pakusadewo) merupakan tiga sahabat dimasa kanak-kanak. Sebuah perjalanan mempertemukan mereka kembali dengan permasalahan dan sebuah cinta segitiga.
Love in a Slice of Bread (1990), 97 minutes. Directed by Garin Nugroho. Starring Tio Pakusadewo, Rizky Erzet Theo, Adjie Massaid
A film that addresses sex in a subtle way. Mayang (Rizky Theo), Harris (Adjie Massaid) and Topan (Tio Pakusadewo) are buddies since their childhood. A journey brings them back together with a problem and a love triangle.
Program ini bisa diselenggarakan karena kerjasama Kineforum dengan Sinematek Indonesia dan Multivision Plus . Lembaga arsip film Sinematek Indonesia merupakan arsip film pertama di asia tenggara yang didirikan bersamaan dengan berdirinya gedung/lembaga pusat perfilman H.Usmar Ismail pada 20 Oktober 1975.
——————–
1 – 7 Februari 2007
Body of Work
Sinematografi George Kamarullah
George Kamarullah bekerja sebagai sinematografer sejak awal 1970-an. Selain debutnya sebagai seorang sinematografer, George Kamarullah merupakan salah satu aktor film Indonesia yang layak disebut bentukan dari sineas ternama Teguh Karya. Namanya semakin dikenal oleh Indonesia bahkan dunia ketika filmnya Tjoet Nja’ Dhien yang mengambil gambar panorama hutan di di Aceh yang eksotis di Pulau Sumatera ini mendapat sambutan yang sangat baik yang kemudian mendapatkan Piala Citra 1988 untuk sinematografi terbaik, setelah sebelumnya mendapatkan piala citra dalam kategori yang sama untuk film Ibunda pada tahun 1986 dan Doea Tanda Mata pada tahun 1985. Dalam program kali ini akan ada kesempatan untuk tanya jawab dengan George Kamarullah tentang kerja sinematografinya.
George Kamarullah works as cinematographer since early 1970s. Besides his debut as cinematographer, Kamarullah was one of Indonesian actors who was working very closely with Indonesia’s celebrated director Teguh Karya. Kamarullah’s work got wider public attention after having made Tjot Nja’ Dhien that was shot in the exotic forest landscapes of Aceh in Sumatera, which also won 1988 Citra award for best cinematography. He also was awarded best sinematographer for Doea Tanda Mata and Ibunda in two consecutive year: 1985 and 1986. This program will have a Q&A session with George Kamarullah about his cinematography.
Sinopsis Film / Film Synopsis
Seputih Hatinya Semerah Bibirnya (1980), 120 menit. Sutradara: Slamet Rahardjo. Dibintangi oleh Christine Hakim, Menzano, Frans Tumbuan, El Manik, August Melasz.
Berkisah tentang sebuah keluarga bapak dan ibu Pahala Simbolon dengan permasalahannya. Anak bungsunya yang sungkan bertemu keluarganya, anak keduanya yang terlalu dominan dan Bungalan (Christine Hakim) yang selalu menjadi penengah dalam keluarga itu. Maka mereka pun kembali menyusuri masa lalu…
As White as Her Heart, as Red as Her Lips (1980), 120 minutes. Directed by Slamet Rahardjo. Starring Christine Hakim, Menzano, Frans Tumbuan, El Manik, August Melasz.
A story about the Simbolons and their family affairs. The youngest has problems seeing the family, the second child is too dominating and Bungalan (Christine Hakim) who always be the peacemaker in the family. They are embarking on a trip to the past…
Doea Tanda Mata (1984), 118 menit. Sutradara: Teguh Karya. Dibintangi Jenny Rachman, Alex Komang, Sylvia Widiantono, Piet Pagau, Henky Solaiman.
Gunadi (Alex Komang), pemuda Klaten yang baru kawin setahun terbius oleh gerakan perlawanan ditahun 1930-an. Ia meninggalkan kehidupan normalnya dan bergabung dengan sebuah pegerakan bawah tanah. Sebuah cerita yang penuh dengan intrik dan dendam.
Memento(1984), 118 minutes. Directed by Teguh Karya. Starring Jenny Rachman, Alex Komang, Sylvia Widiantono, Piet Pagau, Henky Solaiman.
Gunadi (Alex Komang), a newly wed young man from Klaten is intoxicated by resistance movement in 1930s. He abandons his normal life and joins an underground movement. A story about conspiracy and resentment.
Ibunda (1986), 103 menit. Sutradara: Teguh Karya. Dibintangi Tuti Indra Malaon, Alex Komang, Ayu Azhari, Niniek L. Karim, Ria Irawan.
Ibu Rakhim (Tuti Indra Malaon), janda priyayi, selalu bersikap mengambil alih beban hidup anak-anaknya. Sebenarnya ia ingin berbagi beban kepada anak tertuanya, Farida (Niniek L. Karim), tapi tak selalu bisa. Beban tadi akhirnya dibagi dengan mahasiswa yang kos dirumahnya dan pembantunya yang juga memiliki karakter dan masalahnya sendiri. Kerepotan masalah ini yang kemudian menjadi sebuah jelujuran kisah. Usaha tadi lebih sebagai sebuah dosa, karena penyelesaian datang dengan berjalannya waktu.
Mother (1986), 103 minutes. Directed by Teguh Karya. Starring Tuti Indra Malaon, Alex Komang, Ayu Azhari, Niniek L. Karim, Ria Irawan.
Mrs Rakhim (Tuti Indra Malaon), an aristocratic widow, always tries to take on her children’s problems. She actually wishes that she can share that with her eldest, Farida (Niniek L. Karim), but never could. Instead she spills it out to students who rent rooms in her house, as well as the house helper who is a character and has her own problems. Complications of this problem is woven into the story. An act of repentance, while resolution comes along as time passes by.
Tjoet Nja’ Dhien (1986), 133 menit. Sutradara: Eros Djarot. Dibintangi oleh Christine Hakim, Pitrajaya Purnama, Slamet Rahardjo, Hendra Yanuarti.
Teuku Umar (Slamet Rahardjo), memimpin rakyat Aceh dengan didampingi istrinya, Tjoet Nja Dhien (Christine Hakim) dan anaknya Tjoet Gambang (Hendra Yanuarti) yang bersama-sama memerangi penjajah Belanda. Setelah Teuku Umar tewas, Tjoet Nja Dhien melanjutkan perjuangannya. Film ini mengaskan bahwa kekuatan iman adalah segalanya.
Tjoet Nja’ Dhien (1986), 133 minutes. Directed by Eros Djarot. Starring Christine Hakim, Pitrajaya Purnama, Slamet Rahardjo, Hendra Yanuarti.
Teuku Umar (Slamet Rahardjo) led the people of Aceh’s struggle against Dutch occupation together with his wife, Tjoet Nya’ Dhien (Christine Hakim) and his child Tjoet Gambang (Hendra Yanuarti). When Teuku Umar died, Tjoet Nya’ Dhien continues the struggle. A story about how faith can be the only thing that matters.
Selamat Tinggal Jeanette (1987), 85 menit. Sutradara: Bobby Sandy. Dibintangi oleh Meriam Bellina, Nani widjaja, Ria Irawan, Mathias Muchus.
Sebuah cinta antarbangsa yang mengalami keretakan antara Suryono (Mathias Muchus) yang berasal dari Solo dan Jeanette, wanita cantik asal Perancis. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Selamat Tinggal Jeanette (1987), 85 minutes. Directed by Bobby Sandy. Starring Meriam Bellina, Nani widjaja, Ria Irawan, Mathias Muchus.
An intercultural love story between Suryono (Mathias Muchus) from Solo and a French woman Jeanette (Meriam Bellina) is going through a bad time. What happens next?
Taksi (1990), 89 menit. Sutradara: Arifin C. Noer. Dibintangi oleh Meriam Bellina, Rano Karno, Nani Widjaja, Henky Solaiman.
Dua tokoh yang mencoba mencari jati diri. Giyon (Rano Karno), sarjana filsafat yang memilih menjadi supir taksi karena perlawanannya terhadap “tradisi” dan lingkungannya. Desi (Meriam Bellina), wanita kawin muda yang suaminya sangat takut pada orangtua dan ingin hidup mandiri dengan menjadi penyanyi. Mereka dipertemukan oleh seorang bayi.
Taksi (1990), 89 minutes. Directed by Arifin C. Noer. Starring Meriam Bellina, Rano Karno, Nani Widjaja, Henky Solaiman.
Two people in search of their identities. Giyon (Rano Karno), a philosophy student who choses to work as taxi driver to rebel against his family’s tradition and their surroundings. Desi (Meriam Bellina), a young woman who is married to a man who is afraid of his parents, tries to seek independent life by being a singer. Both met because of a baby.
———————–
25 – 31 Januari 2007
Komedi Indonesia / Indonesian Comedy
Comedies by Nya’ Abbas Akup
![]()
Nyak Abbas Akup (1932-1991), seorang sutradara yang konsisten membuat film komedi bermuatan sindiran sosial sejak tahun 1950-an. Humor dalam karyanya seringkali muncul dari karakter laki-laki dan perempuan yang punya kepribadian terbelah, di rumah bisa lemah, sementara di luar galak. Dalam filmnya, cinta dan seks juga hampir selalu jadi sumber konflik yang konyol. Penyutradaraannya mengukuhkan banyak aktor sebagai aktor komedi yang sangat penting dalam film Indonesia. Ia memperoleh Piala Citra melalui film Ambisi (1973), Cintaku di Rumah Susun (1987) dan Boneka dari Indiana (1990).
Nyak Abbas Akup (1932-1991), consistently directed political comedy films since the 1950s. The humor in his works often come out of confused gender identities, between the personal and the public realms. In his films, love and sex are always the source of ridiculous conflicts. His direction marked the birth of many important Indonesian comedy actors. He was awarded with Citra Awards from the Indonesian Film Festival for Ambisi (1973), Cintaku di Rumah Susun (1987), Boneka dari Indiana (1990).
Sinopsis Film / Film Synopsis
Tiga Buronan (1957), 111 menit. Dibintangi Bing Slamet, Bambang Irawan, Citra Dewi, Udjang, Menzano. (Bahasa Indonesia dengan subtitel Bahasa Inggris)
Sekelompok bandit yang diketuai Mat Codet (Bing Slamet) mencoba menguasai sebuah desa. Usaha ini tidak berhasil karena dihalangi Maman (Bambang Irawan), pemuda desa yang baru kembali dari merantau. Mat Codet dan Maman bertikai bukan cuma perkara keamanan kampung, tapi juga bersaing mendapatkan cinta seorang perempuan.
Three Outlaws (1957), 111 minutes. Starring Bing Slamet, Bambang Irawan, Citra Dewi, Udjang, Menzano. (Indonesia with English subtitle) A group of outlaws led by Mat Codet (Bing Slamet) is trying to rule a village. Maman (Bambang Irawan), a man who just returned to the village, tries to stop them. Mat Codet and Maman not only fight for control over the village, but also to win a woman’s love.Matt Dower (1969), 108 menit. Dibintangi S. Bagio, Rahayu Effendi, Mansjur Sjah, Hassan Sanusi, Maya Sopha. (Bahasa Indonesia tanpa subtitel)
Matt Dower (S. Bagio) yang dianggap kurang waras oleh penduduk setempat karena merasa kemelaratan desanya akibat pemerasan Nukulom. Dalam perjalanannya mencari Nukulom Matt dower sampai ke sarang Matt Geledek (S. Bagio). Ia disambut gembira, istri Matt geledek (Rahayu Effendi) bahkan merayunya.
Matt Dower (1969), 108 minutes. Starring S. Bagio, Rahayu Effendi, Mansjur Sjah, Hassan Sanusi, Maya Sopha. (Indonesian without subtitles) Matt Dower (S. Bagio) is consedered a lunatic by people in his village because he thinks that the village became poor because of extortion by Nukulom. In his quest to find Nukulom, Matt Dower meets Matt Geledek (S. Bagio). He was very much welcomed, especially by Matt Geledek’s wife (Rahayu Effendi).Cintaku di Rumah Susun (1987), 101 menit. Dibintangi Eva Arnaz, Deddy Mizwar, Rima Melati, Asmuni, Doyok, Tuti Indra Malaon, Jajang C. Noer. (Bahasa Indonesia dengan subtitel Bahasa Inggris)
Sebuah sketsa karikatural tetang kehidupan di rumah susun sederhana yang kehidupan penghuninya beraneka ragam. Dalam lingkungan ini terjadi persahabatan dan pertikaian antar penghuni yang penuh rahasia dan intrik.
Love at the Apartment (1987), 101 minutes. Starring Eva Arnaz, Deddy Mizwar, Rima Melati, Asmuni, Doyok, Tuti Indra Malaon, Jajang C. Noer. (Indonesian with English subtitle) A caricature on lower-middle class apartment life with its comic residents. Friendships and fights coexist in the neighborhood, each with its own secrets and intrigues.Boneka Dari Indiana (1990), 94 menit. Dibintangi Meriam Bellina, Didi Petet, Lydia Kandou, Ida Kusuma, Eeng Saptahadi. (Bahasa Indonesia tanpa subtitel)
Cerita tentang Egy (Didi Petet) seorang suami yang berada di bawah kekuasaan istrinya (Lydia Kandou). Setelah perkenalannya dengan Eya (Meriam Bellina), Egy mengalami perubahan besar yang mengancam rumah tangganya.
Doll from Indiana (1990), 94 minutes. Starring Meriam Bellina, Didi Petet, Lydia Kandou, Ida Kusuma, Eeng Saptahadi. (Indonesian without subtitles) Egy (Didi Petet) is a husband under strict control of his wife (Lydia Kandou). After he meets Eya (Meriam Bellina), Egy experiences a big change in his life that threatens his marriage.






















3 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]