jadwal & sinopsis bulan Januari 2008 | this month’s schedule & synopsis Januari 2008

 

DOWNLOAD Jadwal Bulanan Kineforum Januari 2008 (.pdf)

Impian/dreams

abouna.jpg
Abouna (2002) 81mnt. Sutradara: Mahamat-Saleh Haroun pemain: Ahidjo Mahamat Moussa, Hamza Moctar Aguid, Zara Haroun

Ketika bangun tidur di suatu pagi, Tahir (15thn) dan Amine (8thn)menyadari bahwa ayah mereka telah meninggalkan rumah dengan keadaan yang misterius. Mereka sangat kecewa karena di hari yang sama, ia seharusnya menjadi wasit pertandingan sepakbola antara dua tim anak-anak sekitar. Mereka pun memutuskan untuk mencari ayahnya. Mereka memulai perjalanan yang panjang dan membingungkan melewati kota ke berbagai tempat yang sering dikunjungi ayahnya dulu. Ketika mereka kelelahan, mereka beristirahat di sebuah bioskop, Bagimana kelanjutan petualangan Tahir dan Amine?

Quinzaine des Réalisateurs – Cannes 2002
Représentant officiel du Tchad Oscars 2003

 

100-sari_2-budphar.jpg
100% Sari
(2003), 96 mnt. Sutradara: Cassandra Massardi. Dibintangi: IGA Okky, Tipi Jabrik, Gerber Marlon, Sudjiwo Tejo.

Sari anak seorang pelukis terkenal yang tak lagi produktif. Ia ingin jadi DJ tapi ayahnya tak setuju. Ia diam-diam belajar meramu musik dan bertemu dengan seorang peselancar sekaligus pemusik. Apakah Sari berhasil mendapatkan yang diinginkannya?

wa-nwina.jpg
Wa N’wina (2001), 52mnt. Sutradara: Dumisani Phakathi (Dokumenter)

Saya diberitahu, bahwa di generasi saya, setiap satu dari dua orang, akan terinjeksi virus sebelum berusia 30 tahun: Dumisani Phakathi kembali ke kota asalnya untuk mencoba memahami bagaimana orang-orang hidup di sana, di era mewabahnya AIDS. Dengan menggunakan kamera genggam, bergerak dari satu pertemuan mengejutkan ke pertemuan mengejutkan lainnya, dia berbincang dengan teman-teman masa kecilnya, membuat mereka memberikan gambaran yang jelas dan langsung. Wa N wina adalah surat cinta dari saya untuk jalanan saya dan penduduk Soweto. Di tengah-tengah suasana “bencana”, ini cara saya untuk menyatakan bahwa manusia lebih dari sekedar statistik. Ini juga sebuah pernyataan kebenaran terhadap kekuatan bertahan hidup bersama dalam menghadapi AIDS.

Cinema Invisible: The Book (Cinema Invisible Het Boek), 73 menit.. Sutradara: Kees Hin. (Bahasa Belanda dengan Teks Inggris)

Navigasi kita adalah seorang wanita yang mengunjungi toko buku dalam pencariannya menemukan koleksi naskah-naskah yang batal difilmkan, yaitu Anthologie du Cinema Invisible, yang diterbitkan untuk merayakan perayaan ke-100 Sinema. Dari 100 karya yang tidak diwujudkan ini, 10 proyek telah terpilih untuk ditampilkan di film ini. Potongan-potongan karya dari Chaplin dan Clouzot, Zazie Dans Le Metro, Battleship Potemkin dan lainnya dikombinasikan untuk menciptakan film dokumenter fantasi ini dengan semangat bermain yang menyebar. Sebuah karya yang memberikan penghormatan ke seluruh sinema.

le-prix-du-pardon.jpg
Le Prix du pardon (2001), 90 menit. Sutradara : Mansour Sora Wade

Kabut yang tebal telah menyelimuti desa kecil di pantai selatan Senegal selama beberapa hari, mencegah para nelayan untuk melaut. Tetua desa tersebut sedang sakit dan tidak bisa memimpin mereka. Anak laki-lakinya yang berusia 20 tahun, Mbanik, harus menggantikan mereka untuk melawan roh-roh tersebut. Ketika kabut telah menghilang, Mbanik pun dikenal orang-orang di seluruh desa dan mendapat tempat terbaik di hati Maxoye, seorang gadis di desa. Bagaimanapun juga, dia berhasil membuat Yatma, teman semasa kecilnya, cemburu..

nhafala2.jpg   
Nha Fala (2002), 90 menit. Sutradara: Flora Gomes   

Di Cape Verde, setiap kejadian penting di kehidupan sosial dibuatkan lagu. Namun, di keluarga Vita, ada sebuah legenda yang menyatakan bahwa siapapun yang melakukan hal tersebut akan mati. Di Perancis, di mana Vita adalah seorang murid, ia bertemu Pierre, musisi muda yang ia cintai. Dia pun bernyanyi dan Pierre menyadari keindahan suara Vita. Pierre pun membujuknya untuk rekaman yang kemudian menjadi hit dengan cepat. Namun Vita telah melawan kutukan dan memutuskan untuk kembali ke Negara asalnya, dan mengakui pada seluruh keluarganya dan menghadapi tradisinya.

World Cinema Features
the_flying_classroom2.jpg
The Flying Classroom (Das fliegende Klassenzimmer)
(2002) Sutradara: Tomy Wigand Pemain: Hans Broich-Wuttke, Hauke Diekamp, Francois Goeske, Anja Kling, Piet Klocke, Sebastian Koch, Frederick Lau, Ulrich Noethen, Philipp Peters-Arnolds, Teresa Vilsmaier

Meskipun Jonathan baru berusia 12 tahun, namun ia telah merasakan enam sekolah asrama. Kesempatan terakhirnya adalah Leipzig's St. Thomas School, rumah bagi paduan suara laki-laki terkenal di dunia. Dan bagi Jonathan, tak ada tempat yang lebih baik. Ia pun berteman dengan teman sekamarnya, dan mereka mengajaknya ke tempat pertemuan rahasia mereka : sebuah mobil kereta yang terabaikan. Di sana, mereka mencoba mencari tahu tentang orang asing yang misterius, bernama Bob. Dan skrip untuk sebuah drama, The Flying Classroom. Dengan musik baru dan lirik rap, itu akan menjadi kontribusi personal dari anak-anak dalam acara Natal sekolah. Bahkan, si bandel Mona turut bergabung dengan mereka sejak. Sejak ia tak pernah menemukan orang lain yang semanis Jonathan. Karena mereka tidak memikirkan tentang pencipta karya drama tersebut, dan apa maknanya itu bagi guru kesukaan mereka, Justus, macam-macam kejadian pun menimpa mereka. Namun pada akhirnya, petualangan itu membuka mata mereka mengenai nilai persahabatan dan keberanian, bahkan membawa dua teman lama kembali bersama, Bob dan Justus, yang telah terpisah karena ketidakmanusiaan dan ketidakadilan.

Festival Screenings Gera 2003, Zlin Children 2003, Puchon Fantastic 2003, Cambridge 2003, Chicago Children 2003, Tallinn Black Nights 2003, SPROCKETS Toronto 2004Awards Bavarian Film Award 2003 for Best Producer, German Film Award 2003, 2 Golden Sparrows 2003 Gera, Golden Slipper Zlin 2003

gen-si-kaki-ayam.jpg
Hadashi no Gen/gen si kaki ayam (1983). Sutradara : Mori Masaki Pemain/pengisi suara: Issei Miyazaki, Masaki Koda, Seiko Nakano, Takao Inoue

Sebuah pernyataan yang sangat kuat melawan perang, Gen si Kaki Ayam adalah sebuah cerita tentang dampak dari bom atom dalam kehidupan seorang bocah laki-laki dan kehidupan orang-orang Jepang.

swing-girls.jpg
Swing Girls (2004), Menit. Sutradara: Shinobu Yaguchi pemain: Yuta Hiraoka, Shihori Kanjiya, Yuika Motokariya, Miho Shiraishi, Naoto Takenaka, Kei Tani.

Memasuki musim panas, sekelompok perempuan pelajar sekolah yang bandel bersiap mengikuti sekolah musim panas yang membosankan. Siapa yang menduga kalau mereka akan jatuh cinta pada jazz?

Layar dialog

Meuneunggui (berarti mode atau fashion) 20mnt. Karya : Syfa, Rara, dan Lena dari organisasi Sepakat. (mengambil setting kota Lhokseumawe)

Penonton diajak menelusuri pasar tradisional Aceh yang menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari. Pasar ini juga menawarkan busana perempuan seperti baju kurung, jilbab, dan, aha…. kaos ketat yang sedang digandrungi anak muda!
Selanjutnya penonton diajak menyimak beragam pandangan tentang fashion, khususnya busana perempuan terkait dengan pelaksanaan Qonun Syariat Islam. Bermacam pandangan dari berbagai kalangan terlontar. Pendapat para penjual baju, cowok-cewek baru gede atau ABG, pemilik salon, perempuan tua dan muda, akademisi, hingga polisi syariah.
Meuneunggui juga berhasil menangkap praktik sweeping busana muslim atas nama Syariat Islam oleh sekelompok laki-laki bersarung dan berbaju putih, yang belakangan merebak di Aceh.

Bungong yang artinya bunga. 10mnt, Karya : Mahyana, Rida, dan Tata dari Organisasi Lapena.

Film ini menyajikan sketsa kehidupan perempuan dan lelaki di Banda Aceh. Kesibukan dan rutinitas para ibu dalam mengasuh anak, mencuci piring, juga melayani kebutuhan seks suami dibenturkan dengan suasana kedai kopi sebagai ruang bebas-merdeka para lelaki.
Bungong juga menonjok kesadaran dengan menampilkan kesaksian memilukan seorang perempuan berjilbab yang payudaranya diremas seorang lelaki tak dikenal ketika sedang bergegas di jalan raya yang sepi. Celakanya, peristiwa itu terjadi pada waktu salat Jumat dan di Serambi Mekkah. Yang menarik pendapat dari polisi syariah WH yang mengatakan bahwa perempuan akan dihargai jika menghargai tubuhnya (dengan berjilbab) dan secara otomatis akan aman dari gangguan para lelaki.

Bak Lon Kaloen/Dalam pandanganku. 10mnt, Karya : karya Karmita, Sri Meutia (dari organisasi Sopan), dan Firah Ramadhiana (dari Lapena)

Film ini mengajak penonton memahami praktik Qonun Syariat Islam dengan menggali informasi dari Wilayatul Hisbah (polisi syariah): apa tugas mereka, apa yang dikerjakan, prosedurnya, termasuk praktik razia jilbab? Juga Apa yang seharusnya mereka lakukan dan apa yang tidak boleh lakukan. Saat ini masyarakat sering kali tidak berani mengkritik atau melawan praktik kesewenang-wenangan Wilayatul Hisbah dan kelompok sipil lainnya, karena tidak cukup informasi terkait kewenangan dan ketidakwenangan para “penegak” Qonun tersebut.

WORLD DOCUMENTARY
Rwanda pour memoire (2003) 68 menit. Sutradara: Felix N’Diaye

Di tahun 1994, antara April dan Juli, pembantaian Tutsi dan Hutus menyisakan 1juta orang korban meninggal. Dimulai oleh Fest’Africa, 12 orang pengarang Afrika bertemu 4 tahun setelah kejadian, di Kigali, untuk membuat kalangan intelektual Afrika, bicara mengenai pembunuhan massal ini. Di bulan Mei 2000, dalam acara publikasi karya seni berdasarkan pengalaman ini, penulis dan seniman Afrika dan Negara lain berkumpul di Rwanda. Menghadapi luka yang tertinggal karena pembantaian ini, Samba Felix N’Djaye mengatur untuk menemukan kebenaran dari jarak untuk memfilmkan sebuah ekspresi sekaligus mengkomunikasikan sebuah pesan akan harapan.

memoire-entre-deux-rives.jpg
Mémoire entre deux rives (2002) 90mnt. Sutradara Frédéric Savoye et Wolimité Sié Palenfo

Frédéric Savoye and Wolimité Sié Palenfo mengambil pandangan baru pada sejarah kolonisasi Perancis di Lobi, di sebelah barat daya Burkina Faso. Desa-desa dan keluarga-keluarga di daerah ini masih bertahan dengan memori-memori menyakitkan di periode Ini. Dibandingkan dan dikontraskan dengan rekaman resmi dari administrasi koloni, tradisi bicara membiarkan sejarah untuk ditelusuri kembali selama hampir satu abad, dari kedatangan orang putih pertama sampai zaman modern. Menggunakan pernyataan dari pengalaman pribadi beberapa generasi, film ini membangun analisis yang mengkritik kolonisasi dan konsekuensinya untuk individu, masyarakat, dan agama.

vacances-au-pays.jpg
Vacances au pays (2000) 75 menit. Sutradara: Jean-Marie Teno

Di tahun 1998, Jean-Marie Teno pergi di musim panas, kembali ke tanah kelahirannya di Cameroon. Dari Yaoundé, sebuah kota, ke Bandjoun, sebuah desa di mana ia pernah menghabiskan liburannya di sana. Perjalanan ini membuat ia memakai pandangan subjektifnya, stok dokumentasi negaranya yang cukup, mengadopsi sebuah nada ironi. Dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya yang mengejutkan, sang sutradara menyatakan ketidakmampuan dan kehebatan modernitas dari Eropa, tidak cocok dengan Afrika dan tradisinya. Dia menyatakan dengan menyesal bahwa "sekolah mengajari kita untuk tidak menghormati simbol-simbol kebudayaan kita, untuk tidak menghargai petuah-petuah kakek-nenek kita". Mencari model baru untuk Afrika, ia mengaspirasikan bentuk modernitas yang dapat melayani jumlah banyak, yang mampu merekonsilisasi negara dengan budayanya sendiri.

Grand prix de la communication inter-culturelle Festival Vues d’Afrique – Montréal 2000
Sélection Documenta 2002 – Kassel Allemagne

   


 

 


About this entry