Konser Musik : SORE, efek rumah kaca, dan KunoKini

kineforum Dewan Kesenian Jakarta bersama Komunitas Salihara
mempersembahkan
purp-mar092
KONSER MUSIK : Publik Untuk Ruang Publik
(Konser Musik Penggalangan Dana untuk kineforum)

Minggu, 29 Maret 2009
Jam 7 sampai selesai
@ Komunitas Salihara
Jl. Salihara no.16, Pejaten
(dekat Universitas Nasional Pejaten)
Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Menampilkan:

SORE, EFEK RUMAH KACA, dan KUNOKINI

HTM :
Presale : Umum Rp 50.000 | Pelajar / Mahasiswa Rp 30.000
On The Spot : Umum Rp 60.000 | Pelajar/Mahasiswa Rp 40.000
Kapasitas: 250 kursi

Pembelian Tiket:

  • Dapat dibeli langsung di Kineforum Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya No. 73 Jakarta Pusat Pukul: 14.00 – 20.30 setiap harinya.
  • Tiket dapat dipesan dengan transfer ke BCA acc. 3422 633 097 an. Penny Sylvania Putri. Tiket dapat diambil di hari H (maksimal 1 jam sebelum konser berlangsung) dengan menyertai bukti transfer dan kartu identitas. *Mohon konfirmasi transfer melalui sms/telp ke 0856 10 96 528 (Putri) Informasi pembelian tiket: Putri, 0856 10 96 528

**seluruh hasil penjualan tiket akan digunakan untuk biaya operasional Kineforum seperti perawatan alat pemutaran film, penyelenggaraan/publikasi acara dan pembuatan

kineforum : (021) 3162780 / 398 99 634
http://www.kineforum.wordpress.com
http://www.salihara.org
http://www.myspace.com/soreband
http://www.myspace.com/efekrumahkaca
http://www.kunokini.com

Tentang kineforum
http://www.kineforum.wordpress.com

kineforum adalah bioskop pertama di Jakarta yang menawarkan ragam program meliputi film klasik Indonesia dan karya para pembuat film kontemporer. Kehadiran kineforum adalah tanggapan terhadap ketiadaan bioskop non komersial di Jakarta dan kebutuhan ruang untuk pertukaran antar budaya melalui karya audio-visual.
Kineforum adalah ruang presentasi bagi para pembuat film dunia dan ruang apresiasi bagi publik pecinta film. Ruang seperti ii sangat penting untuk mempertemukan seniman dengan publiknya untuk melakukan dialog. Sejak 2006, kami memutarkan film-film dari berbagai periode dan bentuk sinema dunia – panjang maupun pendek – yang sulit diakses publik Jakarta selain melalui pembajakan. Di ruang ini secara berkala juga diadakan diskusi dan pertemuan dengan para pembuat film.

Saat ini kegiatan kineforum hampir seluruhnya dibiayai oleh pemerintah DKI Jakarta melalui anggaran tahunan Dewan Kesenian Jakarta. Mengingat fungsi ruang kineforum yang ditujukan untuk publik, kineforum ingin mengajak publik untuk ikut memberikan dukungan kepada kineforum dan bersama-sama memelihara keberadaan kineforum. Dengan adanya dukungan publik langsung terhadap kineforum, berbagai pemangku kepentingan atas keberadaan ruang publik seperti kineforum (pemerintah, pekerja film, Dewan Kesenian Jakarta dan publik penonton), ruang ini akan lebih terjaga kelangsungan dan perkembangannya.

Menurut kami suatu ruang publik sebaiknya tidak bergantung pada satu sumber pembiayaan maupun pembuatan keputusan. Semakin beragam sumber pembiayaan suatu ruang publik, ruang tersebut tidak akan rentan terhadap krisis pendanaan yang mengganggu jalannya kegiatan di ruang publik. Karena itu kineforum merasa perlu mengajukan tawaran kepada publik untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap ruang ini.

Ruang untuk publik belum dianggap sebagai sesuatu yang penting oleh pemerintah daerah. Termasuk DKI. Meski kota ini sudah berumur ratusan tahun. Padahal demokratisasi publik jelas memerlukan ruang, tanpa ruang akan sulit bagi siapapun untuk mengungkapkan pendapatnya dalam bentuk karya yang bisa dibagi dengan orang lain. Ruang juga penting untuk menghadirkan forum bertemunya pembuat karya dengan publik, juga terbentuknya dialog publik.

Masalahnya keberadaan ruang memerlukan dukungan dana untuk pengelolaan, juga dukungan moral dari publiknya. Publik sudah saatnya diajak menyadari haknya untuk memperoleh ruang publik. Inilah inti dari pengumpulan dana bagi Kineforum yang perlu diadakan secara rutin dan bukan hanya sesekali, sebagai bagian dari edukasi publik soal keterlibatan dan dukungan publik dalam memelihara/mempertahankan ruang publik.

pin-purp1 Tentang Publik untuk Ruang Publik
Pada November 2008, Edwin bersama babibutafilm memulai inisiatif pembuat film untuk mendukung program Publik untuk Ruang Publik di kineforum. Program Publik untuk Ruang Publik melibatkan inisiatif seniman yang menampilkan karyanya dan menyumbangkan hasil donasi publik penonton untuk biaya operasional kineforum. Acara Publik untuk Ruang Publik yang pertama ini juga didukung oleh Nia Dinata, Joko Anwar, Meiske Taurisia, Proyek Payung dan beberapa pembuat film lain yang menyumbangkan memorabilia dari filmnya untuk dilelang. Penjualan tiket acara dan lelang memorabilia film dari acara ini menghasilkan sekitar 12 juta rupiah untuk biaya operasional kineforum. Pada Februari 2009, Paul Agusta dan houseofwaves, juga menyumbangkan hasil penjualan tiket pemutaran film Kado Hari Jadi kepada kineforum.

Acara pencarian dana kineforum yang akan diselenggarakan pada 29 Maret 2009 berupa konser musik menampilkan sejumlah kelompok musik berkualitas yang memiliki kepedulian yang sama terhadap ruang publik dan film nasional. Musik yang mereka ciptakan kami rasa telah memberi karakter khas pada musik pop Indonesia masa kini.

Berikut profil kelompok musik yang akan tampil:

edit_sore_the_train1 SORE
SORE adalah band asal Jakarta yang merangkai bermacam genre dalam musik yang mereka ciptakan sehingga menghasilkan suatu ramuan musik “Indonesiana” yang memberikan pengalaman baru bagi pendengar musik. Dideskripsikan dengan sebutan “collage rock” , sebagai sebuah term yang dianggap bisa mendefinisikan musik mereka. Bayangkan bila the Beatles tumbuh dewasa di daerah Pasifik, mendengarkan musik-musik dari Steely Dan, Morrisey, Interpol dan Antonio Carlos Jobim, sembari menghabiskan malam hari di bioskop menonton film-film ganjil dari masa lalu.

Dibentuk pada 2001. Pada 2004 dan 2005 beberapa lagu mereka masuk dalam kompilasi “JKRT: SKRG” dan soundtrack “Janji Joni”. Mereka telah merilis 2 album penuh, yaitu, “Centralismo” (2005) dan “Ports of Lima” (2008). Album “Centralismo” mendapatkan review positif dari majalah Time Asia sebagai “One of Five Asian Albums Worth Buying”.

Selain itu, mereka juga terlibat dalam soundtrack “Berbagi Suami”, “Kala”, “Quickie Express”, “Perempuan Punya Cerita”, dan “Pintu Terlarang”. Dua member dari SORE; Ramondo Gacarro dan bemby Gusti juga banyak terlibat bekerja sebagai penata musik film untuk film-film Indonesia masa kini.

Album kedua SORE “Ports of Lima” (2008) mendapat predikat “The Best Album in 2008” oleh majalah Rolling Stone Indonesia.

SORE adalah:
AWAN GARNIDA / BASS, VOCAL ADE FIRZA PALOH / GUITAR, VOCAL GUSTI PRAMUDYA / DRUMS, VOCAL REZA DWIPUTRANTO / GUITAR, VOCAL MONDO GASCARO / PIANO, KEYBOARD, VOCAL DONO FIRMAN / KEYBOARD, SYNTHESIZER
http://www.myspace.com/soreband

kunokini1 KUNOKINI
KunoKini adalah grup perkusi yang menggabungkan alat musik tradisional Indonesia dan mancanegara dengan alat musik modern. Grup ini dibentuk tahun 2003 setelah mendapat tawaran bermain di “Folklore Festival” di Jerman. KunoKini ingin menepis anggapan sebagian orang bahwa musik tradisional membosankan dan tidak ‘easylistening’.

Menyadari kekayaan budaya di Indonesia, lagu-lagu daerah, dan bunyi-bunyi unik yang keluar dari berbagai alat musik khas daerah KunoKini akan membuat aransemen dari lagu-lagu daerah Dan alat yang akan menjadi ‘senjata’ kekuatan penampilan mereka diantaranya; Kerang Irian , Gendang Jawa , Waterstick, kecrekan , Drumbox. Saluang , Djembe , Rebana Biang , Gendang Jawa , Bass Drum , Conga, Djembe , Didjeridoo , Klontang , Suling Padang , Kecrekan Irian , Shaker , Tong Drum , Woodblock , Egg Shaker , Shekere , Rebana, dll.

KunoKini telah tampil di puluhan acara di Indonesia, dan mengawali tahun 2008, KunoKini mendapat kesempatan untuk tampil di acara Gang Festival di Australia dan tampil pada beberapa institusi dan kota-kota di Australia, yaitu Sidney, Melbourne dan Brisbane.

Saat ini KunoKini tengah merekam album perdana mereka.
KunoKini adalah :
ADHI BISMA W (Bhismo), ASTARI ACHIEL (Bebi), M.N.F (Firzi), AKBAR NUGRAHA.

http://www.kunokini.com

efek_rumah_kaca1 EFEK RUMAH KACA
Efek Rumah Kaca adalah band yang terbentuk pada tahun 2001, dengan nama Hush. Di tahun 2005 berganti nama menjadi Efek Rumah Kaca, diambil dari salah satu judul lagu yang mereka ciptakan pada tahun 2003. Tahun 2006, single “Melankolia” masuk ke dalam kompilasi “Paviliun Do Re Mi’ (Paviliun Records) dan lagu “Di Udara” ikut serta pada kompilasi “Today of Yesterday” (Bad Sector Records). September 2007 merilis album debut bertajuk “Efek Rumah Kaca” (Paviliun Records). Di tahun 2008, single “Hujan Jangan Marah” termuat pada “Science In Music [Album Kompilasi Siaga Bencana]” (Electrified Records), kemudian di penghujung tahun yang sama Efek Rumah Kaca merilis album “Kamar Gelap” (Aksara Records). Awal 2009 ikut serta pada album kompilasi “Syncronize Session One” (Demajors), dengan lagu “Jatuh Cinta Itu Biasa Saja” (Altillery Mix).

Efek Rumah Kaca memainkan musik pop dengan imbuhan aransir mulai dari punk rock/new wave, jazz, progressive rock, hingga indie rock. Musik dan lirik pada setiap lagunya adalah keselarasan atmosfer hingga menghadirkan visual tersendiri di benak pendengarnya. Efek Rumah Kaca memotret zaman dengan mengangkat tema-tema lagu personal dan keseharian, mulai dari isu sosial, budaya, politik, psikologi, lingkungan, gaya hidup, dan sebagainya.

Efek Rumah Kaca mendapatkan penghargaan sebagai “Rookie of The Year in 2008” oleh majalah Rolling Stone Indonesia dan “The Best Cutting Edge in 2008” oleh MTV Indonesia. Sejak Januari hingga April 2009, Efek Rumah Kaca mengasuh kolom “Obrolan Politis’ di harian Kompas setiap hari Sabtu yang membahas isu-isu seputar pemilu.

Efek Rumah Kaca adalah
CHOLIL / GITAR, VOKAL ADRIAN / BASS, VOKAL LATAR AKBAR / DRUM, VOKAL LATAR
http://www.myspace.com/efekrumahkaca


About this entry