Selamat Jalan, Mang Essek..

Telah meninggal dunia, Maman Sutarman, pada Minggu, 31 Juli 2011, pukul 01.00 dini hari. Sutradara grup Teater Miss Tjitjih ini meninggal akibat serangan jantung pada usia 53 tahun. Pria yang dikenal dengan panggilan Mang Essek ini dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Rawamangun, pada siang harinya. Seluruh keluarga besar Kineforum dan Dewan Kesenian Jakarta turut berduka yang sedalam-dalamnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

“Saya capek, tapi senang.”

Itu lah pernyataan yang sempat diucapkan Mang Essek setelah tampil pada pertunjukkan kecil, singkat, dan terakhirnya di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Pasar Baru, Sabtu, 30 Juli lalu. Bersama dua rekannya dari Miss Tjitjih, Mang Essek berhasil menuai tawa dari para penonton sekaligus memberikan kejutan ‘horor’nya seperti biasa.

Sebelumnya, Mang Essek pernah membantu Kineforum dalam penyelenggaraan Konser Musik Sejarah adalah Sekarang 5, 30 Maret 2011 lalu. Ia lah yang berhasil menyulap panggung dan memberikan sentuhan sekaligus atmosfir horor pada saat band Kelelawar Malam tampil. Tidak sedikit penonton yang terkesima melihat wujud konkret dari ide dan kreativitasnya malam itu.

Perjalanan karirnya bersama grup teater Miss Tjitjih sudah dimulai sejak ia lahir, dalam pengertian, ayahnya adalah pemusik dan ibunya adalah aktris sekaligus penyanyi dalam grup teater yang resmi dinamakan Miss Tjitjih pada tahun 1928 itu. Ia pernah menjadi aktor, kemudian asisten sutradara, dan peran-peran lain sampai akhirnya sekarang menjadi sutradara grup teater tersebut. Karena pasang surut grup teater yang identik dengan produksi horor-komedi akibat makin berkurangnya jumlah penonton, Mang Essek juga menjalani pekerjaan sampingan lain.

Dengan produksi yang mengandalkan subsidi dari pemerintah, ternyata Mang Essek, juga teman-temannya di Miss Tjitjih, sudah menjadikan grup teater itu sebagai rumahnya sendiri. “Niat kita sekarang ingin membuktikan biarpun kita terseok-terseok kami masih ada,” ujarnya pada suatu wawancara dengan media di awal tahun 2010 lalu. Pada kami, beliau juga sempat berujar, “Kami senang kalau seniman-seniman kecil seperti kami dihargai.” Mungkin, masih banyak ‘Mang Esek- Mang Esek’ lain di luar sana, seniman-seniman kecil yang mempunyai karya besar tetapi belum bisa dihargai oleh masyarakat luas. Menjadi perjuangan kita untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita mereka.

Ars longa, vita brevis. Art is long, life is short. Seni itu panjang, hidup itu pendek. Terima kasih, Mang Essek, atas jasa dan sumbangsihnya untuk kesenian di Indonesia. Terima kasih, Mang Essek, untuk berbagi dan membuat kami mengerti makna dedikasi. Terima kasih, Mang Essek, selamat jalan..


About this entry