Kineforum, Playtime & Cinephile

Kineforum, Playtime & Cinephile

Mohamad Ariansah

        Mulai bulan November 2011, Kineforum meluncurkan sebuah program baru bernama layar kinefilia yang diambil dari kata cinephile. Program tersebut direncanakan akan menjadi sebuah program bulanan secara rutin dari Kineforum, yang setiap bulannya akan memutarkan sekitar 1, 2 atau 3 film tertentu dengan label layar kinefilia.. Film pertama yang diputar pada tanggal 18 November 2011 dan sekaligus menjadi pembuka program tersebut adalah Playtime (1967, Perancis) karya dari Jacques Tati, yang mengingatkan kita pada kebesaran warisan sejarah dari Chaplin dan Buster Keaton, serta visi dunia fantasi gaya barok model Fellini pasca La Dolce Vita ( 1960), dalam mengomentari kondisi dunia modern seperti Antonioni.

Lantas kenapa Playtime yang harus menandai perjalanan sejarah kineforum tersebut bukannya Darah dan Doa, Inem Pelayan Seksi atau Laela Majenun ? Seandainya publik sebagai salah satu pihak yang berkepentingan dengan eksistensi dari sebuah kineklub menanyakan hal tersebut, maka tidak lain hal ini hanyalah sebuah usaha dari semua rekan di kineforum dalam memulai langkah baru dalam memodernisasi dirinya baik secara struktur organisasi, tawaran-tawaran program dan diskursus-diskursus tentang sinema yang baru dan menantang sambil terus belajar seperti karakter Hulot-nya Tati dalam Playtime menghadapi berbagai dinamika zaman macam;  Dv, Canon 5d, film streaming, sinema 4D serta nasib penonton ke depan.

Apakah Cinephile itu ?

Cinephile ( cine (sinema) + phile/philia (cinta) dari bahasa yunani ) adalah seseorang yang sangat antusias dengan sinema. Dalam sejarah kita kerap kali memandang bahwa tahun 0 sejarah sinema adalah 1895, tapi ketertarikan orang secara serius terhadapnya baru muncul pada periode 1920-an dan komunitas cinephile sendiri lahir pada periode 1950-an di Perancis melalui jurnal seperti Cahiers du Cinema sebagai eksponen utamanya.

Kecintaan terhadap film atau antusiasme di sini bukan sekedar menjadi movie buff ( istilah untuk penggila film & sering disinonimkan dengan cinephile ) dalam pemahaman orang-orang Amerika, yang mampu menghapal setiap dialog dari film-film Humphrey Bogart ataupun mampu menyebutkan semua karakter yang pernah dimainkan John Wayne dalam semua filmnya, tapi lebih kepada sesuatu perasaan yang unik dan menyenangkan, meski terkadang bisa juga menakutkan tapi secara jujur kita merasakan pada saat mata kita menangkap imaji dalam layar muncul sesuatu yang sangat menarik dari sinema. Sebuah perasaan yang sangat misterius dan sublime.

Entah gambar di layar tersebut adalah close up wajah Greta Garbo yang sangat penuh misteri namun terkesan dingin sekaligus erotik. Atau imaji yang dihasilkan dari gerakan kamera secara perlahan dan berdurasi sangat panjang tanpa jeda, mengikuti seorang karakter yang memasuki setiap bagian penting sebuah rumah hingga berakhir di tepi pantai, yang keseluruhan tempat tersebut penuh dengan memori kehidupannya yang lampau seperti dalam film Eternity and A Day ( 1998, Theo Angelopoulos ). Maupun bagian akhir dari City Lights ( 1931, Charlie Chaplin ) saat Chaplin saling berpandangan dengan perempuan buta yang telah sembuh beberapa saat, tapi ia tidak lagi mengenali laki-laki yang pernah menolongnya dan kini berdiri dihadapannya. Ketiga contoh imaji tadi mampu menghasilkan sebuah sensasi khusus pada penonton. Yang karena begitu menariknya buat penonton-penonton tertentu maka imaji itu direkam dalam memori mereka, ditulis dan terus diperbincangkan sampai hari ini.

Saat ketiga imaji di atas dan imaji-imaji lainnya di layar menghasilkan impresi yang sedemikian rupa menarik pada penonton maka benih-benih dari cinephile telah lahir. Kondisi ini oleh Christian Keathley dinamakan cinephiliac moment. Sebab dari sanalah muncul benih-benih cinta bagi seseorang ( cinephile ) yang membuat sinema menjadi sangat amat unik dan menarik. Sebuah momen pada saat kita berada dalam kondisi menonton film atau menangkap sebuah imaji di layar, kemudian kita melakukan semacam sikap fetisistik terhadap sebuah pengalaman khusus yang dalam hal ini adalah imaji di layar.

Dari konteks tersebut sebenarnya semua orang sangat berpotensi menjadi cinephile dengan cinephiliac momentcinephiliac moment nya sendiri-sendiri. Hanya seorang cinephile tidaklah berhenti sampai cinephiliac moment saja, tapi ia akan berusaha untuk merekam dan menyimpannya dalam memori.

Hingga dalam batas minimalnya adalah melakukan sesuatu seperti yang dikerjakan oleh cinephile-cinephile di Perancis pada tahun 1950-an, yakni berusaha untuk mendeskripsikan serinci mungkin imaji yang telah mampu menarik perhatian mereka. Hingga menjadi jelas mengapa tulisan-tulisan para cinephile ternama dunia, seperti; Francois Truffaut, Jean Luc Godard, Jacques Rivette, dan para penulis Cahiers du Cinema lainnya kerap kali membahas detil sebuah adegan secara panjang lebar pada tahun 1950-an. Yang dengan teknologi yang kita punya sekarang macam dvd, maka kita bisa mengulang-ulang cinephiliac moment berkali-kali sesuka kita, secara perlahan atau memberhentikannya. Tetapi dengan satu kalimat kunci bahwa apapun metode dalam mendekati film, intinya tetap berangkat dari kecintaan terhadap sinema.

Daftar Pustaka

 Keathley, Christian. Cinephilia and History, or The Wind in the Trees. Indiana University Press: 2006.


About this entry