Masterpiece dalam Sistem: Sunrise & Make Way for Tomorrow

Masterpiece Dalam Sistem:

Sunrise & Make Way For Tomorrow

 

Mohamad Ariansah

Pendahuluan

Bulan Desember atau menuju akhir tahun 2011 ini, Kineforum akan memutarkan dua film penting dalam program kinefilia, yakni; Sunrise ( F.W. Murnau/1927/US ) dan Make Way For Tomorrow ( Leo McCarey/1937/US ). Kedua film tersebut diproduksi pada era menjelang dan sesudah krisis ekonomi pada tahun 1929-1930 yang melanda bursa saham di Amerika Serikat. Namun yang lebih penting dari hal tersebut adalah fakta bahwa keduanya di produksi dalam sebuah sistem yang sangat terkenal sepanjang sejarah perfilman dunia yaitu sistem studio Hollywood. Walaupun Sunrise merupakan sebuah film bisu yang lahir pada masa transisi menuju film bersuara, sedangkan  Make Way For Tomorrow adalah produk dekade awal dari film bersuara tapi keduanya muncul saat Hollywood berada pada puncak kejayaannya.

Zaman keemasan Hollywood atau puncak kejayaannya mengacu pada era pasca perang dunia I tahun 1917 ( di mana Eropa mengalami kehancuran dalam industri perfilman ), sampai kasus pengadilan yang menimpa Paramount Pictures tahun 1948 dan menghasilkan keputusan bahwa Hollywood melakukan monopoli dengan menguasai seluruh sektor produksi-distribusi-eksbisi perfilman. Akibat dari keputusan tersebut Hollywood dilarang untuk melakukan praktek monopoli di atas, hingga harus melepas kepemilikannya terhadap sektor distribusi dan eksbisi. Dengan kata lain, Hollywood menjadi tidak sekuat periode 1920 sampai 1940-an. Walaupun untuk melanjutkan hegemoni atas perfilman dunia selanjutnya, berbagai macam regulasi dan politik perfilman Hollywood menjadi bersinergi dengan pemerintahan Amerika Serikat. Padahal sebelumnya Hollywood adalah murni usaha swasta dan pemerintah Amerika sendiri yang telah mengurangi kekuatan dari pusat industri perfilman tersebut.

Lantas dalam program Kinefilia kali ini, apakah hal menarik yang ingin ditawarkan oleh Kineforum dengan kedua film di atas selain fakta dari konteks sosial yang menjadi latar belakang dari penciptaan kedua film tersebut ?

 

Sunrise dan Make Way For Tomorrow: Antara Cinephile & Hollywood

Hubungan antara Cinephile dan Hollywood merupakan sebuah hubungan klasik benci tapi cinta. Meskipun para Cinephile awal macam; Truffaut, Godard, Rohmer atau Chabrol dan rekan-rekan mereka di jurnal Cahiers du Cinema pada tahun 1950-an sangat memuja film-film Hollywood, tapi sejak akhir 1960-an situasi menjadi berubah. Dengan semakin berorientasi pada Marxisme pasca Mei 1968 khususnya militan Maois, film-film produksi Hollywood dikecam sebagai representasi dari budaya borjuis yang harus dilawan. Kendati begitu film-film Hollywood tidak pernah sepenuhnya ditinggalkan dalam tradisi cinephile. Bahkan film-film dari John Ford dan Alfred Hitchcock tetap menjadi primadona, tapi untuk membahasnya digunakan pendekatan berbeda melalui bantuan dari teori-teori kritis yang menjadi marak sejak tahun 1970-an dan 1980-an, yakni Marxisme dari Louis Althusser dan Psikoanalisa-Lacan.

Umumnya Hollywood dikecam karena mekanisme baku yang dijalankannya dalam memproduksi ratusan film setiap tahun. Pada sistem studio Hollywood sejak 1917, diterapkan sebuah cara kerja model sebuah pabrik dalam menghasilkan sebuah film sebagai suatu rancangan kerja dalam rencana selama 1 tahun. Dalam sistem studio tersebut, Hollywood yang dijalankan oleh studio-studio besar seperti MGM, Paramount, Warner Bros, 20th Century Fox telah membuat rencana selama 1 tahun yang dikenal dengan istilah one year’s plan. Khususnya dekade 1930-an dan 1940-an, tahap produksi telah ditetapkan oleh pemilik dan kepala studio bersama dengan seorang kepala produksi yang akan membawahi banyak produser dari setiap studio tersebut. Karena semua hal sudah direncanakan selama 1 tahun, maka tugas seorang kepala produksi sangat menentukan berjalannya sistem tersebut sesuai rencana. Dengan kata lain, maka segala sesuatunya dilakukan harus sesuai dengan perencanaan selama 1 tahun tersebut. Akibatnya improvisasi ataupun pengembangan kreativitas akan segera ditutup saat semua rencana telah diputuskan. Di sinilah Hollywood dianggap menghasilkan tidak lebih dari sebuah produk, seperti mobil atau sabun yang sangat identik dengan mekanisme yang sangat kapitalistik. Karena setiap pekerja dalam film dipaksa mengikuti model ban berjalan dalam pabrik film tersebut.

Sunrise dan Make Way For Tomorrow adalah film-film yang dibuat dalam sistem tersebut. Masalahnya kemudian apakah dengan begitu secara otomatis keduanya menjadi produk massa yang tidak memiliki nilai, karena diproduksi dalam sistem yang buruk ?

Sunrise merupakan sebuah film yang mengangkat tema tentang godaan dengan bahasa visual yang sangat luar biasa sebagai salah satu puncak dari karya akhir film bisu. Film ini diproduksi dengan fasilitas luar biasa yang diberikan oleh William Fox sebagai pemilik studio kepada sutradaranya, yakni Murnau. Karena sangat kagum dengan karya Murnau sebelumnya saat masih di Jerman, yakni The Last Laugh ( 1924 ) dengan gerakan kamera yang sangat luar biasa untuk periode tersebut. Fox kemudian memboyong Murnau ke Hollywood dan memberinya kebebasan dalam kreativitas yang sulit didapatkan orang lain di sana. Ia menginginkan Murnau membuat film di Hollywood sekelas The Last Laugh. Tapi meskipun Sunrise dianggap sebagai salah satu karya terbaik di dunia sepanjang masa oleh para cinephile Perancis di Cahiers du Cinema tahun 1958, namun film itu gagal secara komersial. Sebagai konsekuensi yang sudah berlaku di Hollywood, maka Murnau tidak lagi dipercaya sepenuhnya dalam berkarya di sana. Tapi Sunrise tetap dipandang sebagai karya terpenting perfilman oleh generasi saat ini, seperti sinematografer Darius Khondji yang mengatakan bahwa film itu adalah sekolahnya.

Sementara  Make Way For Tomorrow adalah sebuah film yang mengangkat kisah tidak umum di Hollywood. Film ini bercerita tentang pasangan kakek-nenek yang harus hidup terpisah karena kesulitan membayar hipotek dari rumah mereka. Sebuah film melodrama yang sangat sublime, tanpa keinginan untuk menguras air mata penonton walaupun berakhir secara tragis tanpa happy-ending. Pengagum utama dari film ini adalah sutradara Jepang yang menjadi salah satu dewa bagi komunitas cinephile, yakni Yasujiro Ozu. Bahkan film masterpiece Ozu, yakni Tokyo Monogatori ( 1953 ) mendapatkan inspirasi karena kekagumannya terhadap film McCarey tersebut. Film ini mampu lahir dalam sistem yang sangat ketat karena usaha dari McCarey dalam melakukan tawar menawar dengan para eksekutif di Hollywood. Ia menerapkan strategi mirip dengan John Ford, yakni bersedia membuat film yang diinginkan oleh Hollywood, tapi setelah 3 film berhasil diselesaikannya ia menawarkan 1 film yang diinginkannya.

Terlepas dari kasus-kasus yang terjadi terhadap dua sutradara tersebut yang bekerja dalam sistem sangat ketat dengan orientasi komersial, maka karya-karya tersebut mampu merubah stigma bahwa sistem yang buruk menghasilkan film yang buruk. Variannya bisa karena ada jenius yang menghasilkan karya masterpiece dalam kondisi tidak memungkinkan. Atau karena seburuk apapun sistem, ia tetap akan mampu untuk kompromi dalam menghasilkan yang terbaik walau dalam situasi yang buruk sebagai cara untuk bertahan.

 

Daftar Pustaka

Bordwell, David & Kristin Thompson. Film History: An Introduction. McGraw-Hill, Inc:1994.


About this entry