Pemutaran Film Peraih Piala Citra 2011 Kategori Film Pendek dan Film Dokumenter

Sehubungan dengan berakhirnya Festival Film Indonesia 2011 dan perlunya memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyaksikan film-film peraih Piala Citra 2011, Panitia Pelaksana Festival Film Indonesia 2011 memutarkan film-film peraih Piala Citra 2011 kategori Film Pendek dan Film Dokumenter di Kineforum Dewan Kesenian Jakarta. Pemutaran berlangsung Senin, 19 Desember 2011 sampai dengan Kamis, 22 Desember 2011 dengan donasi sebesar Rp10.000,- dan jadwal pemutaran sebagai berikut:

Pukul 14.15 | Kompilasi Film Dokumenter

Donor ASI (Ani Ema Susanti, 21 menit) – Film Dokumenter Terbaik

Arit yang berprofesi sebagai PNS menghabiskan hampir 8 jam tiap harinya dengan tugas dan kewajibannya sebagai abdi masyarakat. Sebagai ibu yang berkomitmen memberikan ASI eksklusif pada bayinya, arit dihadapkan pada kondisi ASI perahnya berkurang drastis karena kehamilan anak keduanya. ASI yang ia perah pun tidak mencukupi kebutuhan Meyla selama ditinggal bekerja. Dengan support dari suaminya, Arit mencari donor ASI untuk anak pertamanya, Meyla.

Lampion-lampion (Dwitra J. Ariana, 35 menit) – Nominasi Film Dokumenter Terbaik

Cerita masa lalu dan kefleksibilitasan dan bersosio-religi, menyebabkan warga Tionghoa-Budha dengan warga Bali-Hindu di wilayah Kintamani, Bangli, Bali ini bisa hidup bersama dalam sebuah banjar prakaman. Sebuah kerukunan dalam arti yang sesungguhnya.

Cerita dari Tapal Batas (Wisnu Adi, 57 menit) – Nominasi Film Dokumenter Terbaik

Sebuah potret kehidupan dari tiga orang biasa dengan segala problematikanya di sebuah kehidupan terpencil yang nyaris tak terjangkau, namun masih menjadi bagian dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

 

Pukul 17.00 | Kompilasi Film Pendek I dan II

Bermula dari A (BW Purba Negara, 15 menit) – Film Pendek Terbaik

Bagi laki-laki tunarungu-wicara, sang perempuan adalah lidah. Dan bagi perempuan tunanetra, sang laki-laki adalah mata. Hubungan yang biasa-biasa saja terjalin di antara mereka.

Tanya Jawab (Jason Iskandar, 7 menit) – Nominasi Film Pendek Terbaik

Seorang anak laki-laki akan menghadapi ujian pada keesokan harinya. Ia pun belajar, lalu meminta bantuan pembantu rumah tangganya, yang juga sedang memiliki kesibukannya sendiri, untuk mananyakan materi pelajaran tersebut.

Payung Merah (Edward Gunawan & Andri Cung, 9,30 menit) – Nominasi Film Pendek Terbaik

Seorang supir taksi belajar menghargai orang-orang yang ia kasihi setelah mengantarkan penumpang yang cantik namun misterius.

The Black Journey (Astu Prasidya, 3,55 menit) – Nominasi Film Pendek Terbaik

The Black Journey merupakan sebuah  film animasi yang menceritakan tentang perjalanan singkat seekor burung yatim piatu yang baru saja menetas. Tanpa sosok ibu, ia terpaksa harus menjalani kehidupan keras karena kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh manusia.

Say Hello to Yellow (BW Purba Negara, 20 menit) – Nominasi Film Pendek Terbaik

Cerita tentang benda kecil berwarna kuning yang membuat seorang anak terjebak ilusi dan kepura-puraan. Sebuah potret modernitas yang angkuh dan gagap.

 

Kotak Amal Ramadhan (Khusnul Khitam, 12 menit) – Penghargaan Khusus Dewan Juri Film Pendek

Ramadhan kehilangan kotak amal yang berisi uang sumbangan untuk orang tua temannya yang sedang sakit. Dia mencari akal untuk mendapatkan uang penggantinya.

Balloons (Firman Widyasmara, 5,4 menit) – Penghargaan Khusus Dewan Juri Film Pendek

Suatu ketika, ada awan bersaudara Zi dan Wi, Ki si pohon kelapa, dan Ciri. Mereka semua menyukai.. Balon!

Wrong Day (Yusuf Radjamuda, 3,30 menit) – Penghargaan Khusus Dewan Juri Film Pendek

Seorang polisi mengejar kriminal menjelang hari pertamanya bertugas.

 

Pukul 19.30

Metamorfoblus (Dossy Omar, 98 menit) – Nominasi Film Dokumenter Terbaik

Slank adalah legenda hidup musik Indonesia. Bagaimana sang legenda menyentuh dan mempengaruhi kehidupan begitu banyak orang ditampilkan dalam dokumenter ini, melalui para ‘slanker’ (penggemar Slank) di Batam, Yogyakarta dan Kupang-Timor Leste.


About this entry