Evolusi Bahasa Film I

Bahasa Film & Sinema Klasik

Oleh Mohamad Ariansah

Pendahuluan

Membuka tahun yang baru kali ini, program kinefilia akan berlangsung selama dua bulan berturut-turut dengan tema utama tentang evolusi bahasa film dalam sejarah film dunia. Rangkaian program tersebut terdiri dari dua tema khusus, yakni; bahasa film dalam sinema klasik pada bulan Januari 2012 dengan tiga film yang dapat menjadi perwakilan dari sinema klasik, yakni; Stagecoach (1939/John Ford/Amerika Serikat), The Wizard of Oz (1939/Victor Fleming/Amerika Serikat), dan His Girl Friday (1940/Howard Hawks/Amerika Serikat). Sementara di bulan Februarinya masih tetap menyoroti tema yang sama, namun fokus pada sinema modern pasca perang dunia kedua di Eropa.

Pada periode awal sekitar tahun 1906-1907, film mulai menceritakan kisah-kisah yang lebih kompleks secara psikologis ataupun hal-hal yang lebih subtil lainnya menyangkut persoalan internal karakter hingga perlahan-lahan kebutuhan durasi film yang lebih panjang menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan. Selain itu permintaan dari masyarakat borjuis dan strata sosial menengah ke atas agar film menjadi sesuatu yang berkelas, mengharuskan film untuk segera bersinggungan dengan teater dan sastra. Tidak lagi hanya sekedar mengandalkan kemampuan dari kamera dalam merekam gerak atas aktivitas keseharian masyarakat, lalu berbagai aktivitas tersebut diproyeksikan ke layar dan memukau orang pada akhir abad ke-19.

Kendati sinergi film dengan teater dan sastra merupakan sesuatu yang kerap menjadi sumber kreatifitas berlimpah, namun berbagai kendala seperti keunikan dari setiap medium terkadang muncul menjadi persoalan. Sebab saat awal munculnya persinggungan antara ketiga medium tersebut di atas, film masih berada dalam sebuah periode yang dikenal dengan periode film bisu (sekitar 1895-1927) dan masih terus mengembangkan berbagai keunikannya dalam menuturkan kisah-kisah. Sementara teater dan sastra merupakan medium-medium yang telah mapan dan muncul jauh sebelum film. Sebagai medium, sastra sangat bergantung pada verbal dan teater sangat tergantung dengan dialog selain kekuatan dari plotnya. Sementara film sebagai sebuah medium baru saat itu, menjadi sangat terpengaruh dengan medium lain untuk menceritakan berbagai kisah sambil berusaha untuk terus mencari karakteristiknya yang khas dalam bercerita dan berekspresi.

Dalam konteks menemukan cara bertutur yang khas dari medium film dan properti (mise en scene, sinematografi, editing, suara) yang terkandung di dalamnya itulah, maka sebuah konsep yang disebut dengan bahasa film menjadi muncul. Masalahnya kemudian adalah pada saat kita membicarakan persoalan sejarah film secara umum, atau lebih spesifik lagi masalah evolusi bahasa film maka dominasi wacana Barat akan segera muncul. Di mana saat berbicara tentang evolusi dari bahasa film di atas, maka kita akan berbicara tentang bahasa film dalam sinema klasik, modern dan pasca-modern (seperti Dominique Paini, Fabrice Revault D’Allonnes, dll). Yang ketiganya lahir berdasarkan konteks spasial dan temporal persoalan historis, politik, sosial dan budaya dari masyarakat Barat.

Namun dalam program kali ini hanya akan dibahas bahasa film dalam sinema klasik dan modern selama dua bulan berturut-turut. Dan itulah pintu masuk dari rangkaian program kinefilia selama bulan Januari dan Februari ini, yang akan membicarakan masalah bahasa film berdasarkan konteks persoalan di atas.

Cikal-Bakal Bahasa Film

Saat film mulai menceritakan kisah-kisah yang lebih kompleks tentang kondisi psikologis manusia pada dekade awal abad ke-20, potensi dari mediumnya yang khas belum benar-benar sepenuhnya dieksplorasi. Walaupun pada periode 1895 sampai 1903, film memang sudah menggunakan teknik-teknik seperti super imposed (mengexposed film dua kali untuk mendapatkan efek tertentu) dalam film The Corsican Brothers (1898/George Albert Smith/Inggris). Lalu prinsip gerak kamera atau camera travelling dengan menaruh kamera di atas kereta api yang sedang berjalan kencang, yang dikombinasikan oleh shot interior seorang laki-laki dan perempuan sedang berciuman untuk berusaha mengatakan ‘sementara itu’ secara sinematik dalam film The Kiss (1899/George Albert Smith/Inggris). Atau penggunaan close up untuk memperlihatkan detil sesuatu subjek dalam film Grandma’s Reading Glasses (1900/George Albert Smith/Inggris).

Namun dalam pembacaan kontemporer, kendati semua pencapaian tersebut merupakan usaha-usaha awal dari cara film untuk menuturkan sebuah kisah, namun metode-metode teknis tersebut hanya untuk mendapatkan efek sensasi semata dalam film-film dari sinema awal atau menurut Tom Gunning dan André Gaudreault lebih bersifat atraksi dibandingkan keinginan untuk menceritakan sebuah kisah dengan menggali seluruh potensi dari medium film.

Selain itu meskipun beberapa elemen bahasa film telah muncul menjelang kehadiran film panjang pertama dalam sejarah yaitu The Story of Kelly Gang (1906/Charles Tait/Australia) yang berdurasi 60 menit, namun dominasi dari teater terhadap film dalam menuturkan sebuah kisah tetap tidak bisa dihindarkan. Hal ini nampak jelas dengan penerapan dari tableau shot (sebuah shot yang diambil dari jarak kamera yang jauh ke subjek untuk memperlihatkan seluruh tubuh atau long shot, lalu statis dan shot ini mirip dengan panggung yang dilihat dari posisi penonton teater bagian tengah barisan depan yang melihat pertunjukan) dalam film yang sangat mendekatkan representasi film dengan teater. Sebab saat itu film hanya dipandang sebagai sebuah pertunjukan teater yang direkam. Sebagai konsekuensi dari keinginan pembuat film untuk merangkul masyarakat Barat dari kelas menengah ke atas, karena film masih dipandang sebelah mata sementara teater merupakan seni kelas tinggi.

Bahkan saat dunia mulai memasuki periode film bersuara sekitar tahun 1927, dominasi teater terhadap film masih terus berlanjut dengan penekanan pada aspek dialog dan karakterisasi. Hal ini merupakan alasan bahwa film belum menemukan cara bertutur dan berekspresi yang khas dari mediumnya karena masih sangat tergantung oleh teater. Bagi Robert Bresson salah satu cara untuk menemukan kekhasan dari bahasa film tersebut adalah dengan melawan konsep teater dalam film, seperti aktor dan menggantikannya dengan model.

Dari gambaran singkat tentang kemunculan bahasa film tersebut terdapat dua hal penting, yang pertama bahasa film telah muncul pada tahap-tahap awal dari sejarah perkembangan film di dunia meskipun lebih untuk kepentingan sensasi semata. Kedua, bahasa film sangat dipengaruhi oleh medium-medium ekspresi lainnya, khususnya teater dalam menuturkan kisah-kisah.

Bahasa Film dalam Sinema Klasik

Sinema klasik (istilah yang ditolak oleh Mark Cousins) merupakan sebuah konsep yang sering diidentikkan dengan aplikasi dari film-film yang dihasilkan pada masa keemasan dari sistem studio Hollywood (1917-1948), ataupun film-film lain dari tempat dan waktu yang berbeda namun masih tetap menerapkan formula dan prinsip-prinsip yang menjadi dominan melalui penyempurnaan-penyempurnaan formula naratif dan gaya film pada puncak dari sistem studio Hollywood sekitar periode 1930-an hingga akhir 1940-an. Dengan kata lain sinema klasik dapat pula mengacu pada film-film lainnya yang dibuat di luar major studio Hollywood pada masa itu atau diproduksi di Indonesia sekarang ini, namun masih tetap menerapkan formula dan prinsip film yang dibuat pada masa kejayaan sistem studio tersebut.

Bahasa film yang telah muncul pada era perkembangan sinema awal (1895-1903) dan secara perlahan dibangun hingga eksplorasi dari imaji mencapai puncaknya pada saat akhir periode film bisu (1927), dirangkum dengan sangat selektif dan disempurnakan untuk menuturkan kisah-kisah melalui penerapan bahasa film dalam sinema klasik oleh Hollywood hingga mencapai puncaknya pada tahun 1939. Saat terdapat keseimbangan yang sangat harmonis antara bentuk dan isi dalam film produksi tahun tersebut di Hollywood. Bagi Andre Bazin, Hollywood pada tahun itu dapat menciptakan semacam kondisi equilibrium atau keseimbangan yang harmonis antara kisah-kisah yang ditampilkan dengan penerapan elemen-elemen style (mise en scene, sinematografi, editing, suara) dari film-filmnya.

Dalam sinema klasik diperlihatkan keutuhan dunia dari setiap kisah yang diceritakan melalui koherensi ruang dan waktu serta rasionalitas sebab-akibat. Pada film-film Hollywood terlihat dengan jelas penggambaran situasi awal yang akan menyebabkan munculnya masalah yang akan diselesaikan melalui gerak maju pada naratif. Secara representasi terwujud berdasarkan pada prinsip kausalitas, hubungan organik, serta perkembangan tujuan dari protagonis dalam ruang naratif.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam sinema klasik akan selalu terlihat sebuah kisah yang diceritakan memiliki hubungan yang logis dan jelas, di mana rangkaian tindakan dari karakter-karakternya tidak membingungkan penonton. Serta tujuan dari setiap aspek style dalam sinema klasik adalah memastikan agar kisah tersebut dapat dipahami dengan mudah oleh penonton. Artinya tujuan dari bahasa film dalam sinema klasik adalah untuk selalu melayani kepentingan dari cerita.

Salah satunya adalah penerapan prinsip continuity editing dalam film-film Hollywood pada era tersebut. Di mana penonton tidak boleh mendapatkan gangguan atau interupsi karena terkesan ada patahan dari aliran cerita akibat ada potongan-potongan emosi dalam cerita yang seharusnya terus mengalir. Di sini perencanaan editing, bersama dengan sinematografi dan elemen-elemen visual lainnya sangat berperan dalam menjaga kesinambungan naratif dari kisah yang memiliki hubungan logis dan jelas serta tindakan karakter-karakternya yang tidak membingungkan penonton.

Jadi, meskipun film-filmya bercerita dalam genre yang berbeda-beda, seperti Stagecoach yang merupakan film yang menjadi karya klasik western dengan figur ikonik seperti John Wayne dan bukit Monument Valley, lalu The Wizard of Oz yang bercerita tentang dunia fantasi anak-anak dalam Oz dengan gambaran dunia khas oposisi biner macam kebaikan dan kejahatan, dan His Girl Friday yang merupakan jenis film screwball comedy tentang dunia jurnalistik, tetap saja dalam sinema klasik akan selalu memperhatikan penggunaan dari bahasa film untuk menyampaikan suatu kisah kepada penonton tanpa menimbulkan disorientasi dan kesulitan dalam memahami setiap kisah yang dituturkan ke layar.

Daftar Pustaka

Bazin, Andre. What is Cinema? 2 Vols. Berkeley, University of California Press: 1968.

Bresson, Robert. Notes on The Cinematographer. Green Integer: 1997.

Cousins, Mark. The Story of Film. Pavilion Books: 2004.

Stam, Robert. Film Theory: An Introduction. Blackwell: 2000.

Strauven, Wanda ( Ed.). The Cinema of Attractions Reloaded. Amsterdam University Press: 2007

Advertisements

About this entry