Tokoh: Hou Hsiao-Hsien

Hou Hsiao-Hsien: Periode Film Pembebasan di Asia (Taiwan)

Oleh Akbar Yumni*

Sejarah kelahiran film bersuara yang membawa kecenderungan bahan baku film kembali kepada realisme, membawa arah pembebasan dari seni murni seperti yang ditunjukkan pada periode Neorealisme Italia. Anasir seni sebagai pembebasan seperti yang termuat pada gaya-gaya Neorealisme Italia tersebut, memungkinkan posisi ‘ontologi’ (kenyataan) mendahului posisi estetika. Sedemikian hingga konteks sosial politik produksi film sungguh dapat dijadikan serta mempengaruhi bahan baku estetika film. Semangat seni film sebagai seni pembebasan (Neorealisme Italia), banyak mengilhami dan memungkinkan bangsa-bangsa di Asia—seperti yang dilakukan Satyajit Ray (1921-1992) atau Usmar Ismail (1921-1971)—untuk menciptakan bahan baku estetika filmnya sendiri. Film sebagai seni pembebasan, memungkinkan suatu bangsa untuk membentuk pernyataan kebudayaannya sendiri dari dominasi industri film sebagai sekedar alat penghibur yang nir-identitas.

Dekade 1980an, merupakan penanda baru dari sejarah film di Taiwan yang melahirkan gerakan New Cinema. Seperti halnya anasir ‘pembaharuan kebudayaan’ (New Cinema) yang diperlihatkan di banyak negara, Taiwan merupakan anasir kebudayaan film yang tidak lepas dari dominasi kebudayaan industri, khususnya terkait dengan dominasi film-film melodrama dan aksi silat. Hou Hsiao-hsien merupakan satu diantara  generasi Taiwan New Cinema Movement pada tahun 1980an. Bersama Edward Yang, Chen Kunhou, dan yang lainnya, Hou Hsiao-hsien membangun semangat produksi filmnya melalui penggunaan-penggunaan artis non-profesional, bidikan (shot) gambar di lapangan setempat, serta mengangkat narasi-narasi yang berasal dari realitas sosial kehidupan pedesaan dan kota di Taiwan.

Image  

A Summer at Grandpa’s (1984),  A Time to Live, A Time to Die (1985), dan Dust in the Wind (1986), merupakan periode awal dari karya Hou Hsiao-hsien, sebagai trilogi yang cukup berpengaruh dalam membangun gerakan Taiwan New Cinema. Kisah yang terdapat dalam trilogi Hou tersebut semacam biografi nasional berdasarkan biografi pribadi sang sutradara dan penulis skenario, khususnya pada biografi Hou Hsiao-Hsien sendiri pada karya A Time to Live, A Time to Die (1985). Bersama Chu Tien-Wen, sang penulis skenario, Hou Hsiao-Hsien membawa penanda-penanda identitas kultural yang berlangsung dalam sosial budaya masyarakat Taiwan yang diwujudkan dalam bahasa-bahasa film.  Melalui bidikan-bidikan lebar (wide shot) merentangkan citraan-citraan peristiwa pada fitrahnya yang taksa, sampai dengan ungkapan-ungkapan realisme film yang paling halus (subtil) dari peristiwa-peristiwa pasca kolonial dalam kedalaman bidikan (deep focus).

Sekiranya cukup penting untuk melihat Karya-karya Hou Hsiao-Hsien, sebagai anasir-anasir estetika film Taiwan yang membentuk siasat kebudayaan dalam mengungkapkan identitas nasional. Nan di kemudian hari, Hou Hsiao-Hsien dan para sutradara gerakan Taiwan New Cinema lainnya, cukup berhasil membuat film Taiwan diakui pada festival-festival film di dunia.  Menginsyafi keberadaan karya-karya Hou Hsiao-hsien, sekiranya cukup bersangkut-paut dalam konteks sosial kebudayaan di Indonesia, khususnya perihal-perihal estetika sinema terhadap migrasi yang dimungkinkan ke dalam konteks bahasa film di Indonesia.

Selamat menonton…

*Redaktur www.jurnalfootage.net


About this entry