Evolusi Bahasa Film II

Bahasa Film & Sinema Modern

Oleh Mohamad Ariansah

Pendahuluan

Masih sama dengan rangkaian  program kinefilia bulan Januari lalu  mengenai evolusi bahasa film, kali ini kineforum akan memutarkan beberapa film kunci dalam sejarah sinema modern atau lebih spesifik lagi adalah sinema modern Eropa pasca-perang dunia kedua. Di bulan Februari ini, film-film yang ditayangkan sebagai wakil dari sinema modern adalah: Diary of a Country Priest ( 1951/Robert Bresson/Perancis ), Journey to Italy ( 1954/Roberto Rossellini/Italia ) dan L’Avventura ( 1960/Michelangelo Antonioni/Italia ).

Kendati masih banyak tokoh dan film kunci dalam sinema modern, seperti Ingmar Bergman, Pier Paolo Pasolini, Alain Resnais, atau Breathless dan 8 ½, namun ketiga film di atas merupakan sebuah gambaran yang sangat representatif atas wujud dari sinema Eropa pasca-perang tersebut. Bresson adalah seorang fundamentalis dari sinema modern atas usahanya dalam melawan tradisi teater dalam film, Rossellini merupakan bapak sinema modern yang berusaha untuk kembali menangkap dan mengamati realita, sedangkan Antonioni memperlihatkan dengan sempurna bahasa film yang sama sekali berbeda dengan sinema klasik sebelumnya. Di mana benang merah dari ketiga film tersebut merupakan sebuah sikap umum yang menjadi sebuah kesadaran baru para maestro film seni saat itu, dalam menangkap realita dari kondisi Eropa pasca-perang dunia kedua.

Dalam sinema klasik berbagai formulasi dari bahasa film merupakan sebuah konsekuensi dalam memberdayakan keunikan dan potensi dari film itu sendiri untuk bercerita. Dengan kata lain bahasa film lebih terfokus pada problem internal mediumnya. Lantas bagaimana jika kondisi dunia yang kita hadapi ditempatkan sebagai pondasi dalam menghasilkan sebuah bahasa film yang sangat unik? Karena persoalan dunia jauh lebih kompleks dan menantang, sementara persoalan internal medium dari film tidak lagi terlalu relevan untuk menghadapi keseharian dunia yang terlalu carut-marut. Saat Eropa menjadi luluh lantah akibat perang besar tersebut, dan setiap orang tidak tahu lagi cara menyikapi kondisi yang sama sekali berbeda. Dalam konteks seperti itulah sinema modern menjadi sangat marak di Eropa pasca-perang dunia kedua, dengan berusaha untuk mengangkat kondisi dunia yang saat itu sedang mereka hadapi.

Lantas secara spesifik apakah yang dimaksud dengan sinema modern itu? Apakah ia merupakan sebuah perkembangan linear atau revolusi atas sinema klasik? Jika ia merupakan sesuatu yang baru, di mana letak kebaruannya dibandingkan dengan sinema klasik seperti dalam hal bahasa film? Kemudian apakah relevansi membicarakan persoalan tersebut dikaitkan dengan evolusi bahasa film?

 

Sinema Modern Dalam Konteks Sejarah Eropa Pasca-Perang Dunia II

Sekitar tahun 1945 perang dunia kedua baru saja berakhir dengan jutaan dan mungkin puluhan juta orang mati, serta ribuan dan mungkin puluhan ribu orang kehilangan keluarga dan tempat tinggal, sementara perang itu sendiri diakhiri secara tragis dengan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Eropa sebagai sebuah titik utama dalam perang tersebut dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa peradaban agung yang telah dibangun sejak ribuan tahun menjadi hancur dalam sekejap. Manusia saat itu berada pada puncak pesimisme terhadap sejarahnya di Eropa. Bagaimana bisa muncul kekuatan perusak Fasisme yang sangat dahsyat dengan mengandalkan sesuatu yang sangat dibanggakan oleh manusia macam sains dan teknologi? Selain kondisi horor seperti holocaust dan krisis nuklir yang segera kembali menjadi bom waktu dalam menghancurkan semua kehidupan di muka bumi pasca-perang. Sebuah gambaran dari kondisi yang serba kacau dan penuh dengan ketidakpastian tentang perjalanan sejarah manusia.

Karena dunia menjadi sesuatu yang kehilangan makna dan tidak bisa dimengerti lagi maka muncul bentuk-bentuk film dan prinsip-prinsip strategi pembuatan film di Eropa yang berusaha untuk mengenal dunia dengan mencoba mendekati realita tanpa berpretensi untuk menaklukkannya dengan memberikan muatan arti.

Dari situlah prinsip sinema modern pasca-perang di Eropa muncul, melalui gebrakan dari para pembuat film di Italia yang dikenal dengan Neo-Realisme di mana Roberto Rossellini merupakan wakil utamanya. Yang berusaha untuk memperlihatkan realita secara mentah dalam film-filmnya, seperti; Rome, Open City dan Germany Year Zero. Yang dalam bahasa Gilles Deleuze disebut dengan opsigns atau pure optical situation sebagai sebuah bentuk sinema yang menggantikan bentuk sinema lama (sinema klasik) yang sangat menekankan hubungan sensori-motorik atau sensory-motor schema  sebagai sebuah wujud dari bentuk movement-image, yakni action-image. Perang dunia kedua menyebabkan muncul krisis atas action-image tersebut dengan kesulitan untuk mencari pendasaran rasionalitas atas kondisi pasca-perang dunia II. Movement-image digunakan dalam sinema yang umumnya berlaku di Hollywood yang memperlihatkan keutuhan dunia diegetic melalui koherensi ruang dan waktu serta rasionalitas sebab-akibat dari editing.

Dengan kata lain sinema modern di sini adalah sebuah patahan atas prinsip film pada umumnya yang berkembang dalam sinema klasik yang diterapkan di Hollywood, yang lahir berdasarkan konteks persoalan kekinian Eropa pada saat itu. Dalam sinema klasik faktor cerita merupakan tujuan utama yang harus dapat ditangkap penonton melalui pendasaran rasionalitas yang ketat dari sebab-akibat. Namun prinsip ini ditolak dalam sinema modern karena terkadang tidak diperlukan sebuah pendasaran rasionalitas, sebab bagi para pembuat film di Eropa saat itu realitas terlalu chaos. Hingga akibatnya penonton akan dibuat frustrasi dan terganggu dalam berusaha untuk memahami cerita dalam sinema modern yang dihasilkan di Eropa pada saat itu.

 

Bahasa Film Dalam Sinema Modern

Kendati banyak sekali inovasi yang muncul dalam sinema modern Eropa, khususnya sejak tahun 1950-an hingga akhir 1970-an melalui Robert Bresson, Ingmar Bergman, Michelangelo Antonioni, Federico Fellini, dan gerakan New Wave Perancis hingga film-film political modernism, namun secara prinsip bentuk sinema modern kerap dibagi menjadi tiga strategi, yakni; objective realism, subjective realism, dan authorial commentary.

Dalam prinsip objective realism, pembuat film berusaha untuk mendekati realita seakurat mungkin dengan kenyataannya. Jika dalam sinema klasik/Hollywood plot menjadi sangat ekonomis di mana momen-momen saat tidak terjadi drama akan ditiadakan, maka dalam sinema modern terkadang situasi tanpa drama bisa diperlihatkan dalam waktu yang lama melalui sebuah shot dengan durasi sangat panjang.

Prinsip subjective realism adalah sebuah prinsip dari pembuat film dalam sinema modern yang menempatkan keunikan personal ataupun pandangan dunia dari seorang sineas menjadi bagian dari pikiran yang dibawa oleh karakter dalam film-film mereka. Sehingga terkadang karakter tokoh dalam film dari sinema modern dapat melakukan tindakan yang sangat unik atau membingungkan dalam profil psikologisnya dari perspektif penonton.

Sementara authorial commentary merupakan sebuah strategi reflektif dari pembuat film dalam sinema modern yang mengingatkan kepada penonton bahwa dunia yang mereka lihat hanyalah sebuah konstruksi fiktif. Terkadang pembuat film memerintahkan aktornya untuk memandang secara frontal sambil menatap ke kamera saat melakukan dialog seperti pembaca berita di televisi yang sedang berusaha untuk mengajak berdialog para penontonnya. Sementara prinsip sinema klasik melarang karakter menatap ke kamera secara frontal seperti itu. Tujuan dari hal ini dalam sinema modern adalah mengingatkan bahwa ada dunia di luar dunia fiksi dalam film.

Apabila semua prinsip-prinsip tersebut diterapkan baik secara satu-persatu ataupun keseluruhan, maka semua prinsip kenikmatan yang akan dialami oleh penonton seperti dalam sinema klasik akan menjadi hilang. Karena akan muncul kebosanan, ketergangguan, ketidakmengertian dan ketidaknikmatan yang umumnya didapatkan oleh penonton yang seperti sedang “mengintip” dunia dalam film yang dilihatnya di layar. Dan memang sinema modern akan menolak prinsip-prinsip bercerita yang sebelumnya diformulasikan secara baku dalam sinema klasik. Artinya bila dalam sinema klasik bahasa film hadir dengan tujuan untuk melayani cerita, maka dalam sinema modern bahasa filmnya adalah khusus. Di mana konvensi dari film sebagai naratif akan didekonstruksi. Bahasa film dalam sinema modern tidak lagi berfungsi untuk melayani cerita tapi menjadi pandangan hidup dari sutradara atau pembuat filmnya.

 

Penutup

Kembali pada persoalan dari evolusi bahasa film, meskipun dalam setiap seni konsep klasik dan modern adalah sesuatu yang esensial dan final tapi perkembangan bahasa film bukan berarti telah selesai sampai akhir 1970-an ataupun hanya berlaku untuk konteks perkembangan film Amerika Serikat dan Eropa, namun masih banyak kebudayaan lain yang juga memiliki cara pandang dan konteks sejarahnya yang unik. Kendati film dan bahasa film adalah produk kebudayaan Barat, akan tetapi perspektif kebudayaan Timur macam Jepang atau Bali dalam merepresentasikan sistem visual juga memiliki keunikan-keunikannya sendiri.

Satu hal yang pasti bahwa dari konteks sinema modern atau lebih khusus lagi dalam konteks Eropa terlihat jelas di mana bahasa film merupakan sesuatu yang tidak statis tapi berproses berdasarkan kondisi zaman dari sebuah peradaban yang telah hidup dalam kebudayaan tertentu.

 

Daftar Pustaka

Bordwell, David & Kristin Thompson. Film History: An Introduction, Third Edition. McGraw-Hill: International Edition 2010.

D’Allonnes, Fabrice Revault.  Pour Le Cinéma “Moderne”. Editions Yellow Now: 1994.

Orr, John. Post War Cinema & Modernity. Edinburgh University Press : 2000.


About this entry