Program Kineforum Februari 2012: Sisa-Sisa Kuasa

Download Jadwal Program Kineforum Februari 2012

Download Buku Program Kineforum Februari 2012

 

Sisa-Sisa Kuasa

“There’s nothing you can do. Times are hard for everyone, worse for weak and old people. You’ve done all you can.” – Il Maestro (Germany Year Zero)

Itulah kutipan dari ucapan tokoh seorang guru pada film Germany Year Zero, ketika mantan muridnya bertanya apa yang bisa ia lakukan untuk menolong ayahnya. Film yang berlatar belakang kota Jerman pada tahun 1947, pasca Perang Dunia II, digambarkan Rossellini secara suram dan depresif, ketika kota tersebut berada pada masa kehancurannya.

Gambaran tersebut dapat Anda tonton pada bulan Februari ini dengan beberapa film pilihan lainnya tentang sisa-sisa kuasa, sisa-sisa Perang Dunia II, baik sebagai bahan cerita pada film maupun pada sejarah sinema itu sendiri. Film Germany Year Zero akan diputar bersama Dogville pada program Sinema Dunia. Keduanya berkisah tentang satu sosok yang dihadapkan pada kehidupan dan lingkungan sekitarnya. Termasuk pada program Dokumenter Duniayang memutar film Night and Fog dari Alain Resnais,tentang kamp-kamp konsentrasi milik Nazi Jerman dan kehidupan (atau justru kematian) di sana.

Lain lagi dengan program Kinefilia yang masih melanjutkan bahasan soal Evolusi Bahasa Film pada bulan Januari lalu. Kali ini Kinefilia akan membahas soal Bahasa Film dan Sinema Modern lewat film-film yang dianggap menjadi representasi Sinema Modern itu sendiri: Voyage to Italy, L’avventura, dan Diary of Country Priest. Walau film-film ini tidak secara gamblang bicara soal kuasa dan dampak perang, tetapi periode ketika film ini dibuat berdasarkan semangat yang menjadi catatan sejarah sendiri. Lagi-lagi pada periode pasca Perang Dunia II.

Sedangkan Sinema Indonesia masih memutar film Sang Penari garapan Ifa Isfansyah yang terinspirasi dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, yang pada filmnya juga terdapat gambaran soal kuasa dan sisa-sisanya yang berdampak pada nasib ronggeng itu sendiri. Selain itu, ada omnibus Kita Vs Korupsi yang diputar setelah pemutaran perdananya Januari lalu, sebagai salah satu upaya ‘melawan’ kuasa korupsi.

Selain itu, pada Februari ini, Kineforum kedatangan teman-teman dari South to South Film Festival yang kembali menyelenggarakan festival dengan tema “Semangat Tanpa Batas”. South Film Festival (StoS) sendiri merupakan festival film dua tahunan dengan tema Sosial-Politik-Lingkungan Hidup pada konteks lokal hingga global. Festival ini bermaksud menyediakan ruang bagi publik untuk terlibat dalam tema-tema tersebut.

Pada bulan ini, Kineforum masih melanjutkan program Filmmakers Forum yang kali ini akan membahas film 9 Naga bersama Edi Michael Santoso (Penata Kamera) dan Budi Riyanto (Penata Artistik). Tidak lupa juga Kuliah Umum bersama Agni Ariatama akan membahas tentang Apakah DV, HD, dan HDV Itu?: Sebuah Tinjauan Teknis dan Estetis atas Teknologi Kamera Film.

Selamat menonton dan berdiskusi di Kineforum!

 

KINEFILIA

Baca tulisan mengenai “Evolusi Bahasa Film II: Bahasa Film dan Sinema Modern” di sini.

Voyage to Italy (Viaggio in Italia) (1954) | 97 menit | Italia | Sutradara: Roberto Rossellini | Subteks: Bahasa Inggris | UNTUK 15 TAHUN KE ATAS

Catherine dan Alexander, pasangan yang kaya dan sejahtera, pergi ke Naples untuk membuang sebuah villa milik almarhum paman. Hubungan mereka tampak dingin dan ada sesuatu di Naples yang menambah ketegangan antara mereka. Apakah pasangan asing ini akan menemukan pencerahan dan petunjuk arah di Italia?

L’avventura  (1960) | 143 menit | Italia | Sutradara: Michelangelo Antonioni | Subteks: Bahasa Inggris | UNTUK 18 TAHUN KE ATAS

Seorang wanita menghilang ketika dalam perjalanan berperahu di Mediterania. Selama pencarian, kekasih dan sahabatnya justru tertarik satu sama lain.

Diary of a Country Priest (Journal d’un curé de champagne)  (1951) | 115 menit | Prancis | Sutradara: Robert Bresson | Subteks: Bahasa Inggris | UNTUK 12 TAHUN KE ATAS

Seorang pastor muda mengambil alih paroki di Ambricourt, mencoba untuk memenuhi tugas-tugasnya, bahkan saat ia bertarung dengan penyakit perut misterius.

SINEMA DUNIA

Germany Year Zero (Germania anno zero)  (1948) | 78 menit | Italia | Sutradara: Roberto Rossellini | Subteks: Bahasa Inggris | UNTUK 12 TAHUN KE ATAS

Edmund, seorang anak muda yang tinggal di Jerman yang hancur setelah Perang Dunia II harus melakukan semua jenis pekerjaan dan trik untuk membantu keluarganya mendapatkan makanan untuk bertahan. Suatu hari ia bertemu seorang pria yang pernah menjadi salah satu guru di sekolahnya dan berharap untuk mendapatkan dukungan. Namun, ide dan harapan tersebut tidak membawa Edmund pada kondisi yang lebih jelas atau lebih aman untuk hidup.

Dogville  (2003) | 178 menit | Denmark | Sutradara: Lars von Trier | Subteks: Bahasa Inggris | UNTUK 18 TAHUN KE ATAS

Seorang wanita yang sedang lari dari massa, enggan diterima di sebuah kota kecil Colorado. Sebagai gantinya, dia setuju bekerja untuk mereka. Sebagai kota kunjungan dan pencarian, dia menemukan bahwa dukungan mereka memiliki harga. Namun rahasia berbahaya dari dirinya tidak pernah jauh-jauh.

DOKUMENTER DUNIA

Night and Fog (Nuit et brouillard)  (1955) | 32 menit | Prancis | Sutradara: Alain Resnais | Subteks: Bahasa Inggris | UNTUK 15 TAHUN KE ATAS

Cerita sejarah kamp-kamp konsentransi ‘kematian’ milik Nazi Jerman pada Final Solution dan dehumanisasi di dunia yang seperti neraka, serta kematian yang terkandung di dalamnya.

SINEMA INDONESIA

Sang Penari (2011) | 112 menit | Indonesia | Sutradara: Ifa Isfansyah | Subteks: Bahasa Inggris | UNTUK 18 TAHUN KE ATAS | Donasi Rp20.000,-

Sebuah cerita cinta yang terjadi sebuah desa kecil dan miskin, Dukuh Paruk pada pertengahan 1960-an. Rasus seorang tentara muda menyusuri kampung halamannya, mencari cintanya yang hilang, Srintil. Lalu jaman bergerak, di mana Rasus harus memilih: loyalitas kepada negara atau cintanya kepada Srintil.

THE SHORTS

Kita Versus Korupsi (2012) | Indonesia | UNTUK 15 TAHUN KE ATAS

Isu korupsi bukan lagi seharusnya disikapi publik (kita) sebagai sesuatu yang diketahui ada dan bisa ‘diterima’ (mereka/pelaku korupsi/koruptor) – sehingga yang selama ini terjadi adalah Kita DAN Korupsi. Melainkan harus diarahkan menjadi Kita VERSUS Korupsi. Berdasar pada pemikiran tersebut, omnibus empat film pendek ini dibuat, sebagai sebuah bentuk kampanye anti korupsi melalui media pop culture dengan isu sehari-hari, berkaitan dengan nilai-nilai mendasar yang dimulai dari keluarga, yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Masing-masing film menyajikan satu cerita yang menggambarkan keseharian serta di mana atau kapan saatnya virus korupsi bisa mulai menelusup ke dalam kehidupan seseorang. Efek yang diharapkan setelah menonton film-film ini adalah publik bisa melihat potret kedekatan dirinya dengan asal muasal korupsi dan bagaimana ia bisa menghentikan mata rantai korupsi sebelum praktik korupsi mewabah.

Rumah Perkara (Emil Heradi) | 20 menit

Seorang Lurah harus memilih siapa yang ia bela: atasan dan jabatan, atau kesejahteraan rakyatnya yang sempat ia janjikan

Aku Padamu (Lasja F. Susatyo) | 17 menit

Sepasang kekasih hendak menjalankan satu keputusan penting. Keraguan muncul karena perbedaan persepsi tentang ‘jalan pintas’

Selamat Siang, Risa! (Ine Febriyanti) | 18 menit

Keputusan orangtua Risa di masa lalu dan keputusan Risa di masa sekarang, keputusan yang sama-sama tidak akan disesali sampai mati…

Psssttt… Jangan Bilang Siapa-Siapa (Chairun Nissa) | 13 menit

Cerita tiga remaja tentang bagaimana mereka mendapatkan barang-barang kesukaan mereka.

 

KINEFRIENDS

South to South Film Festival 2012

South Film Festival (StoS) merupakan festival film dua tahunan dengan tema Sosial-Politik-Lingkungan Hidup pada konteks lokal hingga  global. Festival ini bermaksud menyediakan ruang bagi publik untuk terlibat dalam tema-tema tersebut.

Film-film yang diputar dalam festival dipilih  lewat perimbangan pendekatan konten serta artistik. Artinya StoS meyakini komunikasi yang baik akan tercipta dari bentuk medium yang baik pula. Festival ini juga membuka kemungkinan seluasnya moda komunikasi kepada publik yang paling awam sekalipun terhadap isu-isu sosial-politik-lingkungan hidup.

Tak hanya ingin menghubungkan isu desa dan perkotaan, lokal dan nasional, StoS juga menghubungkan  jejaring global untuk menguatkan jaringan negara ‘Selatan-selatan’, yang umumnya isu serupa terjadi. StoS meyakini, jejaring kuat diantara negara Selatan akan menguatkan proses pembelajaran  dan solidaritas.

Sejak penyelenggaraan StoS tahun lalu, isu sosial-politik-lingkungan pada skala lokal-global terus berkembang.  Kasus-kasus kejahatan lingkungan, perubahan konstelasi politik lokal-global, serta persoalan sosial- politik – budaya yang melingkupinya, menjadi obrolan keseharian yang selalu menarik.

Salah satunya mencermati gerakan kesadaran lingkungan saat ini, yang diarahkan menjadi produk gaya hidup yang dapat dikonsumsi secara instan. Kata  “Green” menjadi mantra ampuh yang ditempelkan dibanyak produk konsumsi. Atau kampanye “dompet kepedulian” menjadi bentuk paling instan menjawab masalah ketidakadilan ekonomi dan ekologi.

Tantangannya yang harus dijawab StoS kali ini, hal macam apa sejatinya ukuran kepedulian terhadap persoalan sosial-lingkungan? Iklan layanan masyakat yang banyak dibuat pemerintah maupun lembaga non pemerintah tentang kepedulian terhadap lingkungan, lebih banyak berbicara pada retorika klasik; matikan lampu, hemat air, dan seterusnya.  Itulah mengapa StoS kali ini menyerukan  “Semangat Tanpa Batas” untuk menjawabnya.

FILMMAKER’S FORUM

Minggu, 12 Februari 2012

Pukul 10.00 – 16.00

Diskusi Film 9 Naga (2006) bersama

Edi Michael Santoso (Penata Kamera) dan Budi Riyanto (Penata Artistik)

Acara Tertutup

Filmmakers Forum, merupakan forum diskusi para pembuat film, membicarakan hal-hal teknis, berbagi pengalaman, kritik, dan saran. Filmmakers Forum kali ini akan membahas film 9 Naga dari segi sinematografi dan artistik. Forum ini diharapkan agar menjadi wadah bagi pembuat film untuk menambah wawasan dan pengalaman.

KULIAH UMUM

APAKAH DV, HD, & HDV ITU?: SEBUAH TINJAUAN TEKNIS & ESTETIS ATAS TEKNOLOGI KAMERA FILM

Pembicara: Agni Ariatama

Rabu, 15 Februari 2012

Pukul 15.00 – 17.00

Umum

Dalam diskursus sejarah teknologi film sejak periode 1990-an, digital muncul sebagai tema dominan yang sampai saat ini terus berkembang dan merubah setiap aspek fundamental dalam perfilman. Ia mempengaruhi setiap tahapan dalam proses industri perfilman mulai dari produksi, pasca-produksi, distribusi hingga eksbisi. Salah satu aspek dalam film yang terus mengalami perubahan dengan aplikasi digital tersebut adalah perkembangan teknologi kamera digital yang sangat dinamis khususnya sejak dekade terakhir abad ke-20.

Sebagai sebuah evolusi teknologi, kamera digital dalam film berkembang melalui beberapa periode tertentu. Pertama diawali dengan perkembangan teknologi video  pada periode 1960-an dan 1970-an, di mana terdapat momen-momen penting seperti; saat Ampex muncul sebagai sistem pertama video komersial dengan berat sekitar 30 kilo dan monitor kamera seharga $30.000 pada tahun 1963. Lalu tahun 1965, Norelco dan Sony meluncurkan kamera video portable pertama. Hingga dekade 1970-an di mana pembuat film seperti Jean Eustache dan Jean Luc Godard banyak menghasilkan film dengan pendekatan estetik yang intim ala home video amatir, serta mirip dengan dokumentasi tingkah laku keseharian dari individu. Akibatnya muncul keinginan berdasarkan kebutuhan estetis tersebut supaya lahir kamera 35mm yang sangat praktis dan portable.

Setelah itu tahun-tahun sekitar 1995-1999 dipandang sebagai masa kemunculan digital video atau DV karena dua hal, yakni; melalui penetapan DV sebagai format dari kaset digital oleh Sony, JVC dan 50-an perusahaan lain pada tahun 1995. Serta komersialisasi kamera digital pertama oleh Sony dan JVC pada tahun yang sama. Kedua hal tersebut, ditambah dengan sukses dari gerakan Dogme 95 mengadaptasi format low-tech dan low-cost melalui shooting dengan mini DV, mengakibatkan format ini menjadi sangat populer hingga menimbulkan ledakan produksi luar biasa dari film independen. Hingga akhirnya pada tahun 1998, Sony memperkenalkan format HD Cam atau High Definition sebagai saingan dari film 35mm, yang membuat muncul ide mengenai sinema digital di Hollywood. Di mana format ini dianggap sebagai sebuah alternatif dari produksi film 35mm. Dan impian inovator seperti Godard pada periode 1970-an akan terjawab oleh HD. Yang kemudian secara resmi film mulai memasuki periode HD pada tahun 1999 dengan Star Wars Episode 1 dari George Lucas yang didistribusikan secara digital di 4 layar bioskop Amerika Serikat.

Secara singkatnya evolusi kamera digital dalam film, berawal dari video, lalu masuk ke DV, dan mencapai puncaknya pada HD. Masalahnya kemudian terdapat beberapa perspektif berbeda dalam memandang sejarah dari teknologi kamera DV tersebut dalam film. Pertama adalah perspektif yang umumnya berkembang di Eropa, di mana HD kerap dipandang sebagai kelanjutan dari DV. Jadi evolusi digital dalam film mulai dari video, ke DV, lalu HD sebagai sebuah perkembangan linear, meskipun juga integral dengan perkembangan dalam komputer dan animasi. Tapi dalam perspektif Hollywood sangat dibedakan antara kedua hal tersebut, di mana DV merupakan perkembangan lebih lanjut dari video, sedangkan HD adalah alternatif dari film 35mm dan tidak ada kaitan sama sekali antara kedua format tersebut.

Mengapa muncul kedua paradigma yang berbeda tersebut? Apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan DV dan HD itu? Lantas bagaimana dengan perkembangan lainnya macam format HDV, yang sering dianggap sebagai gabungan dari DV & HD atau HDV = DV + HD?


About this entry